Moving Out

I’ve officially moved out of this blog.

Feel free to visit my new den: http://ripozte.wordpress.com

This blog will remain here as a remembrance statue of my creative opus so far.

-Pangeran

My Tribute to J.D Salinger

I cant really cite J.D Salinger as my favorite author. I only read one of his books, his masterpiece, The Catcher on The Rye. Don Mario Puzo still tops my list.

Thanks to Indonesian illiteracy culture, The Catcher on The Rye wasn’t featured on my rebellious teenage days. I was too busy reading Soe Hok Gie back then. I hardly knew the existence of the book until somebody in Sartorialist wore a shirt with The Catcher’s cover pic printed on it. Yes, the artsy orange horse.

I was curious because people in Sartorialist were talking about it, not only the graphic image from the cover, but also the book itself. I asked my mate about it (she’s more than a mate back then, im not sure whether she still considers me a mate or not these days) and she said that the novel didn’t impress her so much. It’s not like I always took her bibliotheque taste as a reference, but somehow I managed to believe her on that one.

The book never caught my attention until I found it on a rack in Aksara, Citos, a couple of month ago. They said that a book’s cover has a major role to convince one to buy it or not. The Catcher’s cover, to be honest, is not attractive at all. (Later I reckoned that J.D Salinger always insisted the cover to be as simple as it could be. No quotes, no synopsis). I only bought it home just for the sake of sentimentality.

Everytime I start to read a book, I always try to find a review about it. With The Catcher on The Rye, I think I had read 5 or 6 reviews before start reading it. I didnt expect something enormous would come out of it because I don’t believe in general consensus. But, as I turned its pages one by one, I was starting to realized that, at some point, this book is about me and the silly childish yet honest personality.

The main character, Holden Caulfield, bears a resemblance to myself. His perspective of viewing the world, his aversion of anything phony: people, personality, educational institution, etc, his sarcastic remakrs, his horsing-around behaviour, are much the same with myself. This fictional character is not a fiction at all. He’s so effin real.

There are many of us rebels in this world and I can clearly see why The Catcher on The Rye has become a cult. Holden Caulfield is a perfect portrait of how young people always find it hard to fit in already-established environment. We hate schools, we do. We hate rules, we do. We hate teachers, we do. But most of all, we hate hypocrisy, yes we do.

Jerome David Salinger died on 27 January 2010. This is my tribute to him. I have a novel in progress and I’ve been stuck for ages. Writer’s block, I suppose. If I ever finish it, I would owe the recent-deceased a gratitude.

The author has passed away, but Holden Caulfiled may lives forever.

Bloon Politikon

Forenote: Tulisan ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang berhati lemah, over-sensitive, dan menulis dengan hUruF B3s4r kEc1L. Anda sudah diperingatkan.

Anda kerap menjilat pantat teman/kenalan/kolega/saudara terlebih bila mereka menjilat pantat anda terlebih dahulu. Begitulah aturan baku yang sudah dirajah diam-diam di jidat semua orang. I scratch your back, you scratch mine, saya rasa terlalu halus. I lick your ass, you lick mine. That’s how you people roll.

Semua orang hanya ingin terlihat baik dan menyenangkan jika orang lain berbuat sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi mereka. Segala norma sopan santun yang menjadi alasan utama untuk berinteraksi sebagai orang yang beradab hanya selimut penutup yang mencegah warna asli berpendar dari kulit anda.

Jika saya berpapasan dengan seorang teman dan saya tidak menyapanya, maka kancing yang akan disematkan ke baju saya adalah sombong. Menurut konsensus tata krama sosial, jika saya berpapasan dengan seseorang yang saya kenal tapi tidak menegur, saya tergolong tidak beretika.

Saya tidak terbiasa menyapa orang yang dengannya saya tidak berkepentingan. Arti dari tidak berkepentingan di sini adalah saya sedang tidak berada dalam situasi partikular yang mengharuskan saya mengikutsertakan dia dalam kerangka aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu. Kenapa? Karena hal itu membuang waktu dan tidak efisien. Jika saya harus menyapa semua orang yang saya kenal, maka hidup saya akan terbuang sia-sia dengan melontarkan salam-salam omong kosong kepada handai taulan.

Alasan lain adalah saya terlalu sering melihat bahwa tidak adanya ketulusan dalam bertegur sapa. Formalitas, keterpaksaan, sebuah prosedur standar yang harus dipatuhi untuk mendapatkan status sebagai manusia beradab (dan terpandang secara sosial, seberapa besar atau kecil pun skalanya). Motif orang dalam bertegur sapa bervariasi. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang tulus tanpa pretensi, tapi saya yakin batang-batang statistik dalam kepala menunjukkan persentase orang munafik lebih besar dari yang tidak.

Impresi yang saya dapatkan setelah mengamati tindak-tanduk orang adalah kita bertegur-sapa untuk menunjukkan tanda apresiasi, bahwa kita masih mengingat seseorang, dan keinginan untuk tetap berada dalam term ”baik-baik saja” dengan orang tersebut. Jadi, jikalau sekiranya nanti anda mempunyai kebutuhan yang memerlukan orang tersebut di dalamnya, anda akan datang dengan bekal ”term baik-baik saja” yang dipupuk dengan rentetan tegur-sapa selama ini dengan wajah memelas welas asih yang disamarkan sedemikian rupa.

Jika kebetulan anda mempunyai orang tua yang memiliki kedudukan atau strata cukup secara sosial, maka anda akan mendapati orang lain akan lebih sukarela menjilati pantat anda. Jilat pantat involunter. Benefit yang didapatkan tidak kontan, tapi lebih seperti tabungan berjangka, anda mengharapkan petikan hasil di masa depan.

Tidak, saya bukan orang yang sering dijilati karena orang tua dan saya juga tidak menjadikan orang tua sebagai garda depan bemper kehidupan sosial (anda tahu, semacam anak-anak terpandang kedudukannya karena mendompleng aset orang tuanya, entah status atau uangnya), tapi apa yang terlihat dalam pandangan mata lebih dari cukup untuk menggerakan jemari saya.

Memang, reputasi ataupun mamon yang diemban seseorang karena orang tua adalah sebuah keuntungan hereditas eksklusif yang tak bisa diganggu-gugat. Serupa bila anda mendapatkannya berkat kerja tangan anda dan kuras keringat sendiri.

Tapi hal tersebut adalah lempengan magnet luar biasa untuk menarik orang bermanis muka dan tingkah laku di hadapan anda. Karena mereka ingin dianggap baik. Karena mereka ingin menguangkan (tidak harafiah, tapi sepertinya bisa juga diartikan demikian) danareksa moral yang sudah ditanamkan sebelumnya.

Saya tidak akan pernah marah dan melabelinya sombong bila seseorang yang saya kenal lewat di depan mata tanpa menegur, sama seperti saya tidak mengharapkan mereka untuk marah bila saya berlaku demikian dan nyatanya saya memang demikian.

Hmmm…..Kelihatannya model interaksi sosial berbasis tabur-dan-tuai lebih masuk akal bila ditempatkan negatif.

ps: Anda sudah diperingatkan.

Tanda Baca Paling Seru

Saya tidak tahu jika “!” adalah tanda baca paling sexy, tapi yang pasti ia adalah yang paling seru.

Maka,

23! = 25852016738884976640000

Ikhtisar Akhir Tahun: Koma dan Titik Koma

Tidak, saya tidak ingin membuat tulisan ini menjadi semacam kaleidoskop pribadi, buku babon kehidupan sepanjang tahun. Hidup saya dramatis, selalu setiap tahunnya. Tahun ini mungkin yang paling dramatis, tapi simpan saja itu buat novel pseudo-otobiografi saya yang masa penantian terbitnya akan lebih lama dari Chinese Democracy-nya Guns n’ Roses.

Resolusi tahun baru, siapa yang peduli resolusi tahun baru? Barang afkir itu adalah sebuah usaha sia-sia untuk menipu diri anda, membuat anda percaya bahwa anda mematok cita-cita anda dan berusaha keras mencapainya, tapi sebenarnya hanya ilusi belaka. Seperti Amerika Serikat dan Protokol Kyoto, saya menolak meratifikasi resolusi tahun baru mana pun.

Saya adalah orang yang melankoli. Kedua bola mata saya menatap jauh ke depan, tapi saya menikmati menengok ke belakang, mirip Janus. Tapi, alih-alih Januari, saya rasa saya lebih Desember. Melihat apa yang terjadi dalam jalur waktu tahun ini akan membuat bulu kuduk saya berdiri.

Karena ini bukan kaleidoskop, saya tidak berniat merincinya satu persatu. Teater IMAX dalam kepala saya bukan untuk diterjemahkan dalam aksara. Biar pun begitu, saya rasa tahun ini adalah annus mirabillis.

Hidup saya adalah sebuah kalimat panjang dengan konstruksi kata yang rumit. Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya tidak membubuhi titik terakhir pada kalimat saya. Hanya Dia yang mempunyai hak untuk menaruh titik di akhir perjalanan. Tapi anda, para mortal, anda mempunyai kuasa penuh untuk menaruh tanda sela, koma dan, jika lebih signifikan, titik koma pada kalimat saya.

Beberapa dari anda, entah membaca atau tidak, sudah membubuhi tanda sela pada kalimat saya. Koma, titik koma, anda membuat saya berhenti sejenak. Oase di padang gurun, bukan fatamorgana.

Seperti Toru Okada yang merenungi arungan jeram hidupnya saat terjebak di dasar sumur kering yang dalam, saya rasa dasar sumur kering yang sama sudah pernah saya huni. Kering, seperti Tripoli. Dengan kekeringan itu, maka saya bisa membedakan mana koma dan titik koma, karena sesungguhnya, dari lafal intonasi, saya hampir tak bisa membedakannya.

Secara hakiki, tanda baca digunakan untuk sebagai interval. Maka saat napas mulai tersengal kelelahan, maka saya membubuhkan koma pada kalimat saya yang panjang itu. Pada saat saya berniat untuk untuk meneruskan kalimat saya tanpa meninggalkan konteks yang melekat sebelumnya, maka saya membubuhkan titik koma sebagai jawaban.

Apa yang telah terjadi adalah sejenis Alamo dan saya semacam Davy Crockett. Apa yang saya anggap benar, apa yang saya anggap benar. Mati dan berkesudahan.

Pergantian tahun adalah sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan, tapi saya ingin mengakhiri dekade ini dengan baik. Dimengerti. Hanya itu.

Bercahaya, bersinar terus.

My Rendition of Guy Fawkes Commemoration

 

I thought it’s the very same gunpowder attack we plotted. The relentless dream about exploding the unseen barricades of reluctance, the only thing separated us from the plateau. I thought it was.

I thought we shared the same idea about bringing down The Houses of Parliament with all those filthy infidels inside. I remember the 18 hundredweight we smuggled and hid by the bank of Thames. I can barely forget how our leather robes covered by the smells of sulfur and phosphate.

…and now, here i am finding myself locked and beaten in The Tower of London.

“The act of treason,” the judges verdicted. Since I didn’t know anything about their definition of treason, I gave them no objection. It was an in absentia hearing court, the one they held without my presence. What could I do to defend meself? Noth’n

I don’t have to be reassured, it’s an olde-english style death penalty: hanged, drawn, and quartered. Am I objected? It seems that I don’t even have the right to object. I am always the monotonic third best, I don’t have any right at all.

As much as it bears resemblance with Wallace and The Bruces, I refuse to be hanged, drawn, and quartered. When I stand before the tormentors tomorrow morning, I will jump from the gallows and break my neck so I can have a glorious beautiful death.

You may start chanting the condemnation rhymes while building the bonfires and firecrackers.

Remember, remember the thirtieth of October,

The gunpowder treason and plot,

I know of no reason

Why the gunpowder treason

Should ever be forgot

 

Pangeran

Kredo Diri

Untuk dapat diteliti dan dizalimi

Untuk dapat dilihat dan didamprat

Untuk dapat dielus dan digerus

Untuk dapat dilempar dan ditampar

Untuk dapat dijarah dan diperah

Untuk dapat disangrai dan dibantai

Untuk dapat dikawan dan ditawan

Untuk dapat dihujam dan dirajam

Untuk dapat ditindas dan dipelas

Untuk dapat dibaca seperti Calzoum merapal mantera

Aku harus dibebaskan dari belenggu makna yang mengkungkungku.