Category Archives: Reflection of Distortion

Menjadi Pohon Oak

Berdiri tegar. Dagu terangkat. Tangan terkepal.

Bisa saja akar-akarku tercerabut dari tanah oleh tangan-tangan tak terlihat yang bergerilya menjamahi ranah antah berantah intelektual. Banci birokrasi, selalu bersembunyi di balik seragam dan deretan peraturan yang tak lebih wangi dari Bantar Gebang di akhir pekan.

Bergoyang ke sana kemari karena buaian angin hanyalah identitas pohon bambu yang melekat sejak menjadi penurut disamakan dengan menjadi pandir. Membutakan netra secara sadar karena mencelikkan mata adalah dosa.

Waktu terus berlalu. Pilu, tapi tetap membatu.

Tangan masih terkepal…..dan pohon Oak itu masih berdiri.

 

Advertisements