Ikhtisar Akhir Tahun: Koma dan Titik Koma

Tidak, saya tidak ingin membuat tulisan ini menjadi semacam kaleidoskop pribadi, buku babon kehidupan sepanjang tahun. Hidup saya dramatis, selalu setiap tahunnya. Tahun ini mungkin yang paling dramatis, tapi simpan saja itu buat novel pseudo-otobiografi saya yang masa penantian terbitnya akan lebih lama dari Chinese Democracy-nya Guns n’ Roses.

Resolusi tahun baru, siapa yang peduli resolusi tahun baru? Barang afkir itu adalah sebuah usaha sia-sia untuk menipu diri anda, membuat anda percaya bahwa anda mematok cita-cita anda dan berusaha keras mencapainya, tapi sebenarnya hanya ilusi belaka. Seperti Amerika Serikat dan Protokol Kyoto, saya menolak meratifikasi resolusi tahun baru mana pun.

Saya adalah orang yang melankoli. Kedua bola mata saya menatap jauh ke depan, tapi saya menikmati menengok ke belakang, mirip Janus. Tapi, alih-alih Januari, saya rasa saya lebih Desember. Melihat apa yang terjadi dalam jalur waktu tahun ini akan membuat bulu kuduk saya berdiri.

Karena ini bukan kaleidoskop, saya tidak berniat merincinya satu persatu. Teater IMAX dalam kepala saya bukan untuk diterjemahkan dalam aksara. Biar pun begitu, saya rasa tahun ini adalah annus mirabillis.

Hidup saya adalah sebuah kalimat panjang dengan konstruksi kata yang rumit. Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya tidak membubuhi titik terakhir pada kalimat saya. Hanya Dia yang mempunyai hak untuk menaruh titik di akhir perjalanan. Tapi anda, para mortal, anda mempunyai kuasa penuh untuk menaruh tanda sela, koma dan, jika lebih signifikan, titik koma pada kalimat saya.

Beberapa dari anda, entah membaca atau tidak, sudah membubuhi tanda sela pada kalimat saya. Koma, titik koma, anda membuat saya berhenti sejenak. Oase di padang gurun, bukan fatamorgana.

Seperti Toru Okada yang merenungi arungan jeram hidupnya saat terjebak di dasar sumur kering yang dalam, saya rasa dasar sumur kering yang sama sudah pernah saya huni. Kering, seperti Tripoli. Dengan kekeringan itu, maka saya bisa membedakan mana koma dan titik koma, karena sesungguhnya, dari lafal intonasi, saya hampir tak bisa membedakannya.

Secara hakiki, tanda baca digunakan untuk sebagai interval. Maka saat napas mulai tersengal kelelahan, maka saya membubuhkan koma pada kalimat saya yang panjang itu. Pada saat saya berniat untuk untuk meneruskan kalimat saya tanpa meninggalkan konteks yang melekat sebelumnya, maka saya membubuhkan titik koma sebagai jawaban.

Apa yang telah terjadi adalah sejenis Alamo dan saya semacam Davy Crockett. Apa yang saya anggap benar, apa yang saya anggap benar. Mati dan berkesudahan.

Pergantian tahun adalah sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan, tapi saya ingin mengakhiri dekade ini dengan baik. Dimengerti. Hanya itu.

Bercahaya, bersinar terus.

One response to “Ikhtisar Akhir Tahun: Koma dan Titik Koma

  1. Dimengerti?πŸ™‚

    I’m sure you’re understood, I’m not sure if you’re figured out. I think you’ve been playing hard-to-figure-out all your life.. hee..πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s