Lebih Dari Sekedar Hidup dan Mati

Banyak teman yang mencibir saya karena membesar-besarkan peristiwa Carles Puyol mencium ban kaptennya yang bercorak bendera Catalan seusai menjebol jala Real Madrid pekan silam. Bagi penikmat sepakbola semata, peristiwa penciuman bendera merah kuning itu sekedar luapan ekspresi kegembiraan usai membobol gawang lawan. Bagi rakyat Catalunya, itu adalah sebuah statement politis. Tidak mengerti? Bayangkan Persiraja Banda Aceh bertanding melawan Persija di GBK dan disaksikan Presiden SBY. Tengah pertandingan, striker Persiraja mencetak gol dan mencium bendera GAM di depan muka pemimpin Republik. Semoga anda mengerti.

Bagi saya pribadi, sepakbola lebih dari sekedar permainan kejar-kejaran bola antara 22 orang. Karena bila nikmatnya sepakbola hanya bisa diselami selama 90 menit, rasanya permainan ini cukup membosankan bagi saya.

Tidak ada hal yang bermutu di mata saya yang muncul dari Merseyside. Kalaupun ada, pastilah mutu tersebut bernama Bill Shankly. Mengapa? Karena ia melontarkan adagium yang keabsahannya lebih absah dari persamaan matematis “Moran + Souness + Evans + Houllier + Benitez = 0x ; x = juara liga”. Adagium tersebut berbunyi “Some people believe football is a matter of life and death. I’m very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that.” Percayalah, Bill Shankly tidak membual.

Dalam hemat saya, yang membuat saya jatuh cinta setengah mati kepada sepakbola adalah hal-hal yang terjadi di luar lapangan hijau. Ya, saya menonton Manchester United karena mereka menampilkan sepakbola terbaik. Tapi saya juga memaksa diri saya untuk menyaksikan The Old Firm Derby, Celtic FC vs Glasgow Rangers. Karena alasan keindahan permainan? Tentu tidak! Sepakbola Skotlandia rasanya tidak banyak berubah sejak abad 19 di mana si kulit bundar masih terbuat dari kandung kemih babi. Adalah perseteruan sektarian abadi Katolik vs Protestan di Britania Raya yang membuat saya sangat antusias menyaksikan game tersebut. Tengoklah suporter The Bhoys & Gers yang rela mempertaruhkan nyawa (dan imannya) di Celtic Park atau Hampden Park. Apakah Tuhan bermain sepakbola? Bagi mereka jawabannya tentu saja iya! Dibanding term “MUFC The Religion”, rasanya “Celtic FC The Religion” atau “Glasgow Rangers The Religion” rasanya lebih bisa diartikan secara literal.

Duel Real Madrid vs Barcelona dianggap sebagai duel terpanas di ranah matador karena keduanya merupakan klub tersukses La Liga. Belum lagi sentimen Catalan seperti disinggung di atas yang turut membakar atmosfer laga. Suporter kedua tim tersebut tidak jarang bersitegang karena terbagi antara nasionalisme Catalan atau pro-Kerajaan. Tapi bila dikaji lebih jauh keluar dari lapangan hijau dan sukses klubnya, sebenarnya yang lebih mengerikan di Spanyol adalah duel Real Madrid vs Athletic Bilbao. Apalagi jika dimainkan di San Mames. Jika anda bertanya mengapa, saya akan bertanya balik “Pernahkah anda mendengar Basque ETA?” Jika jawabannya tidak, cepat lihat wikipedia. Orang-orang Basque memiliki nasionalisme yang luar biasa, di atas orang Catalan. Mereka lebih memilih melihat Athletic Bilbao terdegradasi daripada mengorbankan kebijakan Cantera, hanya memakai pemain berdarah Basque di dalam tim.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah klub sepakbola dengan 2 huruf “SS” di depan namanya? Lazio dikenal sebagai salah satu tim dengan suporter paling fasis di seluruh dunia. Fascist Salute dan poster dengan rupa wajah Arkan adalah pemandangan lazim di Curva Nord stadion Olimpico. Saya riang bukan main pada tahun 2004 saat Livorno berhasil promosi ke Serie A. Hal itu berarti 2 Ultras paling kanan dan paling kiri secara politis di Italia akan bertemu pada pertandingan sepakbola. Benar saja, sebelum dan saat pertandingan berlangsung, si bengal Paolo Di Canio menghampiri tifosi Ultras Lazio dan memberi Fascist salute. Di lain pihak, ikon Livorno, Christiano Lucarelli menyambangi tribun Ultras Livorno yang penuh dengan bendera merah dan gambar Che Guevara seraya melayangkan Clenched Fist ke udara. Saya merasakan ada getaran di punggung saat menyaksikan kedua adegan tersebut.

Tidak kalah banyak yang bertanya keheranan mengapa saya ngotot setengah mati untuk mendapatkan jaket Lancaster Rose, produk Man Utd keluaran Nike yang menurut orang dalam paling tidak laku. Buktinya sampai sekarang masih selalu nampak di etalase tiap kali produsen berlogo swoosh tersebut mencuci gudang. Berapa banyak sih yang mengetahui rivalitas Man Utd-Leeds United? Sejak Leeds tenggelam di Palung Mariana pada 2004, gaung salah satu rivalitas tertua dalam segala aspek di Inggris ini turut surut pula, setidaknya di luar Britania Raya. Tapi tidak di Inggris sana. Anda bisa saja memakai jersey Man Utd dan memamerkan crestnya ke penggemar Leeds. Paling-paling mereka muntah. Anda menunjukkan Lancaster Rose di depan hidung mereka, ada baiknya anda berlari seribu langkah karena pasti mereka akan mengejar dengan kapak, martil, batu, apa saja yang memastikan anda berbaring tanpa nyawa.

Wars of The Roses, perang memperebutkan tahkta Kerajaan Inggris pada abad 16, adalah cikal bakal perseteruan Manchester – Leeds. Manchester termasuk dalam wilayah House of Lancaster dan direpresentasikan dengan mawar merah. Sedang Leeds masuk ke dalam House of Yorkshire dan direpresentasikan dengan mawar putih. Sentimen ini masih terasa beratus tahun sesudahnya hingga sekarang ini. Tidak heran para Mancunian masih getol menyanyikan chant kontra Leeds walaupun tim putih-putih itu sudah lenyap entah ke mana seperti Tom Ovrebo sepulang dari Stamford Bridge. Ngomong-ngomong, bila ada yang iseng menukas Merseyside itu berada di wilayah yang mana, jawabannya adalah Lancaster.

Dengan mengetahui fakta-fakta seperti di atas (dan masih banyak lagi yang patut untuk diketahui), rasanya sepakbola lebih dari sekedar hidup-mati bisa dimengerti. 90 menit hanyalah hitungan 1 sampai 60 yang diulang 90 kali. Tapi apa yang terjadi luar lapangan hijau, membekas selamanya.

Pasti akan ada celetukan, “Ngapain sih memusingkan hal yang begituan? Kita jauh dari mereka. Kita di Indonesia, cukup nonton pertandingannya saja!”. Jika demikian, bila ditilik lebih jauh, sebenarnya kita pun tidak mempunyai legitimasi untuk berteriak “Oh Merseyside is full of shite”, membenci para Scousers, atau yang lebih ajaib, memakai kostum nasional negara lain dan mengibarkan benderanya kala turnamen akbar antar negara seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Pangeran Siahaan

Football Afficionado & (thankfully) a Manchester United supporter

2 responses to “Lebih Dari Sekedar Hidup dan Mati

  1. baru tau nih segala infonya.🙂 thanks!

  2. weitsss infonya mantabb niy pang =D
    Glory ManUnited!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s