Selepas Karnaval Itu….(Sebuah Catatan Pemilu)

Setelah gelontoran miliaran rupiah, sampah-sampah publikasi kampanye yang tidak terhitung, serta mata dan telinga yang sudah lelah mendengar cuap-cuap nina bobo, lalu apa?

“Contreng dan jadilah warga negara yang baik!”, “Masa depan Indonesia ada di tangan anda!”, “5 menit untuk 5 tahun”, dan segala macam seruan naif lainnya merupakan cerminan ketakutan penyelenggara negara terhadap kesadaran warga negaranya bahwa sebenarnya pesta demokrasi ini tidak ubahnya sebuah dagelan.

Betapa tidak? Anak kecil yang tercantum dalam DPT, almarhum-almarhumah yang dilimpahkan hak memilih, jutaan rakyat yang dipaksa golput karena tidak terdaftar sebagai pemilih tetap, kertas-kertas suara yang nyasar ke daerah lain, tiadanya sosialisasi tentang sistematika penukaran formulir C4 ke formulir A5 untuk mutasi hak pilih, dan berbagai cacat lainnya. Katakan kalau itu bukan unsur komedi dalam lawakan nasional ini.

Negeri ini memang terkenal tidak piawai dalam pengelolaan data dan statistik. Tidak terhitung orang-orang yang berpartisipasi dalam Pemilu 2004, pada tahun ini terpaksa duduk termangu di rumahnya menatap hasil quick count di televisi. Padahal, 177 juta lebih warga negara Indonesia yang terdaftar memiliki hak pilih, 25 juta lebih banyak dari tahun 2004 silam. Dengan penambahan yang signifikan tersebut, bagaimana bisa banyak pemilih 2004 tidak terdaftar dalam Pemilu 2009? Lalu siapa saja yang 25 juta tersebut? Ghost Voter?

Laporan terakhir menyebutkan angka golput kali ini mencapai 35 % dari total pemilih yang terdaftar. Bila angka tersebut dikalkulasi berarti 61 juta lebih jumlah golput tahun ini. Angka ini hanya berupa golput administratif, yaitu orang-orang yang terdaftar di DPT tapi urung menyalurkan suaranya di TPS hari ini. Belum termasuk kertas-kertas suara yang tidak sah, entah karena tidak diisi atau dengan sengaja dirusak oleh sang pencontreng untuk mencegah penyalahgunaan.

Gagalnya seruan untuk tidak golput? Silakan nilai sendiri. Tapi 61 juta orang yang enggan hadir di TPS-TPS untuk memilih wakilnya di lembaga legislatif bukanlah angka yang main-main. 61 juta suara bisa berarti ratusan kursi legislatif. 61 juta suara bisa berarti lumbung rupiah dan kepentingan bagi partai politik yang berkepentingan…..

Kalau dipikir-pikir, 61 juta orang yang absen mencontreng hari ini sebenarnya cukup kurang ajar, setidaknya dalam kacamata mereka-mereka yang tidak terdaftar dalam DPT. “Tidak nasionalis. Terlalu”, begitu tukas seorang tetangga yang saya temui siang tadi. Rupanya si tetangga yang memakai kaos bergambar rajawali muda ini gregetan karena namanya tidak ada dalam DPT. Walhasil, gambar rajawali muda pun tidak dapat ia contreng pagi ini.

Ngomong-ngomong rajawali muda, saya cukup sumringah menyimak melalui quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahwa perolehan suara sang rajawali berkutat di bilangan 3-4%. Walaupun sebenarnya ogah, saya masih bisa menolerir jenderal peragu, saudagar licik, maupun ibunya “wong cilik”. Tapi Heidegger? Saya menimbang-nimbang untuk vakansi keluar negeri bila ia naik ke tampuk kekuasaan.

Walaupun melewati threshold 3 %, perolehan suara yang minim tersebut mengakibatkan sang rajawali harus berkoalisi dalam pemilihan presiden. Posisinya yang demikian menyebabkan rajawali muda mungkin tidak bisa mengajukan calon presidennya sendiri.

Tapi dengan dana yang melimpah (thanks to gurita usahanya di Kazhakstan), bukan tidak mungkin rajawali muda akan mengajukan kadernya sebagai calon wakil presiden. Bukan tidak mungkin juga bila terpilih sebagai wapres, sang Heidegger akan lebih dominan dari presidennya. Ya, mirip-mirip Jusuf Kalla lah. You know, Cash Rules Everything Around Me.

Pada saat itu terjadi, mungkin saya harus sudah benar-benar hijrah dari “tanah tumpah darahku” ini……

PS:

1. Satu-satunya alasan saya untuk hadir di TPS adalah untuk mencegah penyalahgunaan kertas suara yang tidak saya gunakan. Tapi rupanya tidak usah bersusah-susah. Wong terdaftar di DPT saja tidak…….

2. Sebenarnya saya tidak suka Denny J.A. Saya benci untuk mengakui ia dan LSInya hampir selalu benar.

Pangeran Siahaan

Jurnalis & Pengamat Failed Democracy

https://pisciotta.wordpress.com

3 responses to “Selepas Karnaval Itu….(Sebuah Catatan Pemilu)

  1. Hei What?! Heineken?? Heathledger??
    Demokrasi tidak ada yang instan Pang… apalagi untuk negara yang masih primitif. Bahkan di US…
    So… the hell with democrazy and its anarchist supporters.

    Kembalikan UUD45 dan Demokrasi Pancasila.
    (keq masih inget aja isi UUD 45 apaan dan amandemennya)

  2. untung gue hidup di negara primitif berazas demokrasi…klo ga gue ga tau mau nulis apaan di blog ini…hahaha…

  3. Negeri ini memang terkenal tidak piawai dalam pengelolaan data dan statistik ——>
    Tidak juga bang! klo yang menghasilkan uang kita sangat piawai contohnya Quick count.

    pantesan pemerintah & DPR amburadul, orang yang “pinter dan bener” pada golput…

    MAJU TERUS BANG !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s