Pangeran Sang Jurnalis Jejadian

Saya selalu ingin menjadi jurnalis. Biar orang bilang gajinya kecil, kerjanya capek, dan sebagai, saya tidak peduli. Kesempatan itu akhirnya datang setelah saya diterima dengan status percobaan pada majalah dengan inisial P, pelopor majalah Indonesia pada bidangnya.

Cukup terkejut juga saat saya diberitahu saya diterima asalkan menyetujui beberapa ketentuan seperti pemotongan uang makan sebagai kompensasi jam masuk kerja yang telat karena harus kuliah dulu paginya. Tidak begitu masalah untuk saya karena memang uang bukan tujuan utama dalam hal ini. Ya, hitung-hitung belajar sambil dibayarlah. Hehe.

Yang tidak kalah membuat terkejut, menurut saya pribadi, seandainya saya menjadi chief editor yang mewawancarai sewaktu job interview, saya tidak akan meluluskan calon reporter yang kelewat sotoy seperti saya sendiri. Haha. Untuk mereka yang mengenal saya dengan baik, pasti paham apa maksudnya. Hehe. Tapi ternyata, di kemudian hari saya mengetahui bahwa kesotoyan (beh…) adalah faktor utama yang membuat saya diterima. You can ask me anything and i will answer like i know everything. Mengutip perkataannya Giskal, “Pangepedia”.

Mulailah saya menjadi jurnalis sejak Kamis minggu lalu. Hari-hari pertama sungguh membosankan. Duduk di belakang cubicle, menatap monitor komputer seharian, dan berujung pada pengaksesan facebook yang berlebihan untuk membunuh penat. Bagian saya adalah perihal otomotif (yang mana saya gak tahu-tahu amat), sport feature, dan fitness (ironis ya…haha).

Belakangan jatah menulis travel pun diberikan kepada saya. Kesotoyan dan hobi mengkhayal yang keterlaluan sangat membantu. Saya tidak pernah ke luar negeri, apalagi ke Cancun seperti bahan tulisan saya. Satu-satunya gambaran yang saya miliki tentang Cancun adalah MTV Spring Break. Dan memang itulah yang menjadi batu pijakan saya dalam menulis. (Jadi teringat, ada orang yang terkejut bagaimana saya bisa tahu Piccadilly Circus, Trafalgar Square, Isle of Man, padahal saya belum menjejakkan kaki di sana. Hihihi).

Petualangan yang lebih seru dimulai Rabu kemarin. Saya ditugaskan meliput exclusive media preview Honda Freed yang akan masuk pasar Indonesia mulai Juni. Bertempat di ballroom Jakarta Theatre, acara itu menjadi tugas lapangan pertama. Saya sudah sering mendengar bagaimana pada acara launching, terlebih produk otomotif, para wartawan akan dijamu dengan 1st class hospitality dan hidangan bintang lima. Saya merasakannya saat itu. Sepulang dari sana, saya merasa lebih berat =D

Yang menarik untuk diperhatikan adalah perbedaan wartawan domestik dengan wartawan asing. Berhubung Honda berasal dari Jepang, saya mendapati ada 2 orang wartawan Negeri Matahari Terbit itu yang hadir. Dari penampilan luarnya saja sudah jauh berbeda (saya tidak berbicara mengenai lebar mata, hehe). 2 orang wartawan Nippon tersebut mengenakan setelan jas dan masing-masing menenteng kamera SLR. Wartawan Indonesia? Bayangkan, ada yang datang dengan mengenakan kaos dan sandal. Ck ck ck.

Belum lagi, selepas registrasi media, wartawan-wartawan Jepang itu sibuk membaca press release dan menandai bagian mana yang penting. Wartawan lokal? Sibuk menuju meja cemilan sambil mengobrol haha-hihi. Saya bisa mengamati dan tidak ikutan bercengkerama karena saya masih baru dan belum kenal siapa-siapa. Mungkin saya aka n menjadi seperti mereka juga seiring berjalannya waktu.

Belakangan, seorang fotografer yang kebetulan sudah saya kenal memberi wejangan, “Ya beginilah wartawan Indonesia. Jangan disamain sama yang di luar. Di sini, koneksi dan kenalan sangat penting dalam pekerjaan. Gak heran, kalau acara kaya gini, jadi ajang reuni sama teman-teman lama.”

MORAL: Kalau autis dan semi-antisosial seperti saya harusnya jangan menjadi wartawan (Indonesia).

Jalan-jalan berlanjut esok harinya, Kamis. Secara mendadak saya diassign untuk datang ke acara ulangtahun Guinness, bir kesohor dari Irlandia, yang ke-250. Acara tersebut sekaligus peluncuran website khusus media oleh Guinness. Kali ini lokasinya di Minus 2, FX. Saya tidak suka bir, apalagi yang aneh rasanya seperti Guinness. Jadi, saya tidak terlalu bersemangat. Acara berupa talkshow dengan narasumber perwakilan Guinness dari Irlandia di Indonesia dan distributor Guinness Indonesia. Sebagai moderator adalah Uli Herdinansyah. Karena saya bosan, saya gatal sekali ingin nyeletuk “IRA, Sinn Fein, IRA, Sinn Fein…..” pada waktu si irishman berbicara. Hehe.

Yang mengejutkan adalah Uli Herdinansyah. Saya selalu beranggapan buat ukuran MC dan presenter lokal, kemampuan si Uli ini boleh lah. Tapi, itu semua buyar saat ia tidak tahu apa arti kata “yeast” dan “lease”, sehingga harus bertanya dahulu. Kasihan.

MORAL: Uli Herdinansyah tidak secerdas kelihatannya.

Hari Jumat, lagi-lagi saya bertualang. Launching Sprite Zero di Chili’s, Sarinah menjadi destinasi. Kesan pertama: Sumpek! Demi branding dan exposure yang kuat dengan cara menggelar performance Andra & The Backbone serta atraksi Bungee Tramp di rooftop Sarinah, PT Coca Cola Indonesia mengorbankan kenyamanan dengan cara memilih venue yang kecil dan sesak seperti Chili’s. Tidak salah, karena Andra dan Tulang Belakang sukses memacetkan Thamrin. Rata-rata pengendara yang lewat akan berhenti sejenak untuk menyaksikan penampilan mereka. Untuk memperkenalkan brand baru tapi lama, Sprite Zero, saya rasa kampanye mereka sangat hebat.

Saya memakan burger terbesar dalam hidup saya di Chili’s. Dengan 3 jenis daging di dalamnya, diameter burger tersebut saya kira hampir selebar telapak tangan. Menengok kanan kiri, saya melihat rekan-rekan wartawan yang lain banyak yang tidak habis saking enegnya. Saya? Tentu saja…………………ludes. Hehe.

Sprite Zero mengundang Mario Lawalata dan VJ Marissa dalam acara talkshow jadi-jadian dan lucu-lucuan sepaket dalam launching tersebut. Saya tidak suka Mario Lawalata, sok asik. Saya rasa saya bukan orang pertama yang berpikir demikian. Saya suka VJ Marissa. Kenapa? Just look at her. Nuff said.

Tapi, anda bisa menilai orang dari bagaimana mereka menjawab random question. Dengan sebalnya saya bisa mengatakan Mario cukup lihai dalam menjawab pertanyaan dengan selera humor yang lumayan. Sebaliknya, VJ Marissa cukup kewalahan dalam menjawab pertanyaan dari wartawan dan sering kali mengekor jawaban Mario. Penampilan bisa menipu memang.

MORAL: Mario Lawalata tidak sebodoh kelihatannya. VJ Marissa tidak secerdas kelihatannya.

6 responses to “Pangeran Sang Jurnalis Jejadian

  1. MC kondang itu kebanyakan ngiprit mungkin. hehe…
    anyway, kalo elu ditransfer e bagian gadget bilang2 ya. huehehehehe…

  2. ahahahahah. good one😀 knapa nama majalahnya ga disebut? hhe. ciye jurnalis! pengen liat majalahnya..(yg ada tulisan lo)

    eh, uli bukannya alumni sma kita??😛 *lupa,hhe

  3. ga ada orang yang sepintar keihatannya atau sebodoh kelihatannya bung,,,haha

  4. @orangutanz

    you know what to do….asal gue jg dpt ya….haha

    @gita

    uli? alumni 8? ah….gue kira cm uya kuya😀

    @sarah

    ada….buktinya tuh….hehe

  5. photostorygraphy

    yah jangan lupa makan2 kalo udah banyak uang..hehehe..sini sini..biar saya jadi asisten jurnalis bagian yang bawa2 SLR..hihihi…biar gaul kaya orang Jepang…heyaaaaaat… :))

  6. Piccadilly Circus, Trafalgar Square itu perasaan ada di permainan Monopoli Internasional …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s