Bukan Rahasia Lagi

Semua mahasiswa ilmu komunikasi yang benar-benar kuliah (karena tidak semua mahasiswa ilmu komunikasi, apalagi yang swasta, benar-benar kuliah) pasti akrab dengan gambar di atas. Johari Window namanya.

Johari Window adalah sebuah bagan yang diciptakan untuk membantu manusia memahami hubungan dan komunikasi interpersonal. Pertama kali saya mendengar Johari, saya berasumsi dengan sok tahu bahwa pencipta bagan ini berdarah Melayu. Mungkin namanya Johari Muhammad atau Mahmuddin Johari. Tapi setelah saya pikir-pikir, hebat sekali ada nama/kata Melayu yang diakui secara internasional selain “Orangutan” dan “Amok”. Ternyata benar, nama Johari berasal dari gabungan 2 nama penciptanya, Joseph Luft dan Harry Ingham, bukan dari seorang penghuni semenanjung Malaya.

Sesuai pembagian bagan di atas, maka ada beberapa area informasi dalam diri manusia. Masing-masing bisa saja diketahui baik oleh diri sendiri dan orang lain, diketahui hanya oleh diri sendiri tanpa diketahui orang lain (rahasia), diketahui orang lain tanpa diketahui diri sendiri (ini namanya tidak tahu diri! haha), dan tidak diketahui baik oleh diri sendiri dan orang lain.

Syahdan pada kelas Komunikasi Antar Pribadi, dosen mata kuliah ini yang super kolot dan membosankan menyuruh para mahasiswanya yang sudah kadung jemu untuk membuat Johari Window tentang diri mereka masing-masing. Ternyata, sang dosen yang mirip penyuluh PKK ini hanya menugaskan mengenai self-disclosure. Maka ia menyuruh kami untuk menuliskan apa saja hal-hal mengenai diri kami yang tidak diketahui orang lain. Saya tidak tahu apakah ia gagal untuk menginterpretasikan makna Johari Window dengan benar atau tidak, tapi yang ia ingin kami tuliskan adalah rahasia-rahasia pribadi! WTF??!! Kalau diberitahu ke orang lain, apanya yang rahasia?

Terang saja saya emoh menuliskan rahasia-rahasia pribadi yang kebanyakan merupakan aib yang membanggakan (apa pula ini?). Tadinya saya ingin mengajak teman-teman untuk memboikot atau setidaknya mendesak dosen untuk mengganti tugas dengan sesuatu yang lebih masuk akal. Tapi saya menengok kanan-kiri, rupanya sekeliling mengerjakan tugas aneh ini dengan riang gembira atau pura-pura riang gembira atau muka mereka memang seperti itu. Saya perhatikan pun tulisan-tulisan mereka yang “rahasia” itu, tidak seperti sesuatu yang dibuat-buat.

Oleh karena saya harus membuat tugas tersebut tapi enggan mengungkapkan rahasia pribadi, lalu saya berpikir mengapa tidak mengarang rahasia saja?

Beginilah isi tugas saya yang ganjil itu:

———–

“Cerita ini tidak pernah saya ungkapkan ke orang lain. Pada sore itu, saya bingung tidak ada kerjaan untuk mengisi waktu senggang. Maka saya iseng-iseng membuat prakarya layaknya pelajaran KTK saat SD. Saya mengambil botol kecap dari gudang dan mengisinya dengan minyak tanah. Entah kenapa pada saat saya menuang kerosin ke dalam botol, saya teringat pada pelajaran fisika sewaktu SMA mengenai fluida (anjeng! gue ga percaya gue nulis ini. hahaha). Tiba-tiba saya berpikir bila di ujung botol ini diselipkan secarik kain, maka botol kecap ini bisa bertransformasi menjadi semacam obor. Saya lakukanlah demikian.

Menjelang malam, seorang teman dari organisasi kemahasiswaan yang semasa kuliah 2 kali menonton piala dunia yang berbeda datang berkunjung. Ia bertanya saya sedang ngapain. Saya bilang sedang membuat prakarya. Dia bilang prakarya saya sangat berkualitas dan dapat berguna bagi kemashalatan umat. Ia bertanya bolehkah ia meminjam hasil prakarya saya, ia mengatakan karya saya sebuah instalasi seni yang layak masuk galeri. Saya iyakan dan bilang padanya agar menjaganya baik-baik.

Besok siangnya kawasan Semanggi hingga gedung DPR kisruh. Demo mahasiswa menggedor-gedor gerbang DPR. Saya menyaksikan dari layar kaca dan saya mendapati teman saya yang kemarin itu sedang berlari-lari sambil membawa prakarya saya. Ia telah menyalakan api pada ujung sumbu. Saya bersorak girang karena obor hasil buatan tangan saya dapat berfungsi.

Tapi jantung saya hampir berhenti berdetak saat teman saya melemparkan prakarya saya tersebut ke barisan polisi yang membentuk barikade. Saya marah karena prakarya saya dihancurkan. Saya sontak memaki-maki dan hampir mengamuk kecewa. Beberapa detik kemudian saya mendadak tenang dan damai saat melihat dampak dari dilemparnya prakarya saya tadi. Api yang berkobar dan menjilat-jilat ke sekeliling dengan indahnya. Saya baru tahu kalau saya seorang pyromaniac.

Isi berita koran-koran nasional esok harinya rata-rata berbunyi, “…aksi mahasiswa di depan gedung DPR berakhir ricuh. Anarkisme mahasiswa semakin menjadi ditandai dengan dilemparkannya bom molotov ke arah polisi…..”.

Saya baru sadar setelahnya. Apa yang telah saya perbuat???”

————

Saya hanya berharap suami dosen yang menyebalkan itu tidak bekerja untuk detasemen dua angka delapan atau BINa Insan Nusantara.

3 responses to “Bukan Rahasia Lagi

  1. bukannya jendela-jendelaan ini sudah ada semenjak kelas XI SMA?

    digabung konsepnya sama acara SWOT-SWOT-an..

    pelajaran kewarganegaraan/PKN?
    😀

    nampaknya sedang benar-benar kesal ketika menuliskan post ini, Pangeran?🙂

    semangat kuliahnya, ya, Kak🙂

  2. kekekeke…..ternyta molotov kuliah di Indonesia ya? hihihihi

  3. u make my day…soon it’ll be days i hope!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s