Elliott Ness

Saya dan ayah merupakan dua pribadi yang jauh sekali berbeda. Ayah tidak banyak berbicara, tidak suka hingar-bingar, tidak terlalu suka berada di luar rumah selain untuk urusan pekerjaan. Baginya aktivitas waktu luang yang paling nikmat adalah mengutak-atik berbagai barang elektronik.

Sedang saya, seorang pecinta keramaian, apa pun bentuknya dari mulai sekedar berjalan-jalan di mall, menyaksikan konser musik, sampai menghadiri nonton barengnya United Indonesia. Ayah hanya membaca buku-buku tertentu sesuai dengan ketertarikannya, saya membaca buku apa saja dari novel, sejarah, sastra, sampai komik. Apa saja asal jangan buku-buku self-motivation yang hanya cocok untuk orang-orang yang tidak percaya diri.

Saya dan ayah sering kali mempunyai pandangan yang bertolak belakang dalam banyak hal. Walaupun ia seorang maverick, melakukan segala sesuatu menurut aturan dan pikirannya sendiri, dalam berbagai masalah ia dapat disebut ortodoks dan konservatif. Dalam usia yang masih muda, saya meledak-meledak, progresif dan cenderung radikal dalam menyikapi segala sesuatu. Kita sering terjebak dalam suatu pertentangan pemikiran.

Tapi memang, seorang anak adalah cerminan didikan orang tuanya. Ayah tidak pernah mengajarkan secara langsung untuk menjadi kritis, apalagi radikal. Dari segala tindakannya saya belajar untuk tidak begitu saja menelan mentah-mentah berbagai accepted opinions. Ia tidak pernah mengatakannya, tapi saya yakin ia ingin saya menyadarinya.

Kehidupan ayah dari kecil adalah sebuah contoh nyata bagaimana seorang underdog dari Sidikalang yang sakit-sakitan sewaktu kecil, lulusan STM pula, menaklukkan semua halangan untuk masuk ke universitas terbaik di Indonesia. Pencapaian yang bahkan seseorang yang lahir dan besar di Jakarta dengan segala fasilitasnya tidak mampu melakukannya. Tapi itu membekas di pikiran. Saya yang bukan siapa-siapa, orang yang tersingkirkan oleh sebuah sistem yang bobrok, suatu hari nanti akan terbang tinggi dan menjungkirbalikkan gunung-gunung yang pongah.

Ia seorang yang “persetan dengan orang lain” bila yang ia genggam erat adalah kebenaran. Ia sering sendirian tanpa barisan teman di sampingnya karena kebenaran bukanlah suatu pilihan yang populer. Sebuah pendirian yang saya kagumi dan saya camkan dengan baik di dalam hati.

Ia tidak banyak berbicara. He’s a silent rebel.

Sekarang, lagi-lagi ia berdiri tanpa siapa-siapa di sebelahnya. Hanya Tuhan dan dirinya. Saya ingin sekali turut mengangkat perisai kebenaran dan keadilan di sebelahnya, tapi saya tahu ia tidak ingin dibantu dengan cara seperti itu.

Sekarang, ia adalah Elliott Ness yang sedang mengobrak-ngabrik jaringan kebusukan Al Capone yang sedemikian menggurita. Sama seperti Elliott Ness, ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak tersentuh oleh kebobrokan dan kejahatan berjamaah kartel Al Capone. The Untouchables.

Al Capone tentu tidak tinggal diam. Ia memfitnah, menyebarkan propaganda kebohongan penuh tipu daya. Ia berusaha untuk menutupi kebobrokannya dengan mengungkap borok orang lain. Tipikal distraction counter-attack yang menjadi senjata klasik selama bertahun-tahun.

Al Capone pandai bersilat lidah. Ia berusaha menarik massa pendukung sebanyak-banyaknya sama seperti saat Lucifer dibuang dari surga dan membawa 1/3 malaikat penghuni surga bersamanya. Kasihan orang-orang itu, ditipu oleh bapak segala penipuan.

Ayah tidak pernah gentar dengan siapa pun. Persetan dengan orang lain bila yang kau genggam adalah kebenaran. Walaupun tidak ada orang yang mendukungnya, ia akan terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Al Capone pernah mendirikan sebuah perserikatan ilegal beberapa tahun lalu dan ayah berdiri di sisi yang berseberangan dengannya. Pada akhirnya, perserikatan tersebut gagal dan bubar jalan karena tidak berdasarkan itikad baik. Apa yang membuatmu berpikir kali ini tidak gagal, Al Capone???

Kita semua tahu cerita aslinya: Elliott Ness berhasil memenjarakan Al Capone. Itu akan terjadi kembali, tidak lama lagi.

Satu hal lagi untuk diperhatikan oleh Al Capone: Anaknya Elliott Ness, yang menulis tulisan ini, tidak seperti ayahnya. Ia tidak pendiam. Ia berisik, sangat berisik. Ia tidak konservatif, ia radikal.

Al Capone, your days are numbered !!!!!!!

4 responses to “Elliott Ness

  1. gilaaa bisa nyampe di gua lo.
    ehuaheuheauheauh

    apakabar pak bos.heheh

  2. jadi inget bokap…

    kenapa ya bokap kita dulu kayaknya keren-keren😀

  3. Yay! Bantai itu mafia-mafia Indonesia!
    Anyway, ga ada salahnya baca self motivation book. Buat nambah pengetahuan ajah. Dan gw setuju banget sama paragraf-paragraf akhir mengenai anak Elliott Ness. Emang sangat radikal keberisikannya! huahahaha… Btw, anaknya Elliott Ness, mungkin namanya Monster Loch Ness.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s