Yang Tersisa dari Soulnation (Sebuah Catatan Pribadi)

Seseorang bertanya kepada saya, mana yang lebih bagus di Soulnation, hari pertama atau hari kedua? Agak susah menjawabnya, tapi karena saya tak banyak menonton pada hari pertama, saya rasa hari kedua lebih berkesan.

Walaupun demikian, menyaksikan Tony! Toni! Tone! pada hari pertama merupakan sebuah pengalaman berharga. Menyaksikan legenda Neo Soul yang telah berkecimpung 20 tahun dalam dunia musik sungguh luar biasa. Agak kesal juga karena harus buru-buru beranjak sebelum mereka selesai membawakan seluruh repertoire sebab LO menelepon saya harus briefing Mista D. Tapi tanggung jawab harus tetap dilaksanakan.

Saya juga menyaksikan Saykoji dan Yacko, tapi luput menyaksikan NEO karena waktunya bersamaan dengan Yacko. Saya baru sadar sewaktu saya makan dan bertepatan dengan lagu NEO favorit saya, “Bintangku” dibawakan. Walhasil saya pun makan dengan menggoyang-goyangkan kepala.

Saya tidak menyaksikan Akon dan Chenelle. Penyesalan datang terlambat karena Kompas melabeli penampilan Akon sebagai salah satu yang terbaik tahun ini. Esok harinya Chenelle mondar-mandir di hadapan dan saya tidak tahan untuk tidak mencuri-curi pandang. She’s fukkin hot!

Hari kedua saya ditemani Murakamitri. Ia sudah menggadang-gadang dari jauh hari untuk menonton Jamie Aditya. Begitu juga dengan saya. 70s Soulnya Jamie sungguh mempesona. Saya seperti sedang melihat versi lain dari Marvin Gaye. Tidak hentinya saya berpikir bagaimana caranya untuk memiliki falsetto yang powerful seperti itu?

Main Stage sudah penuh saat Blackstreet memulai pertunjukkannya. Di luar antrian sangat panjang, sama seperti saat Akon sehari sebelumnya. Saya bingung soalnya saya tidak menangkap ada sesuatu yang istimewa dari Blackstreet, tetapi penonton yang ada jauh lebih banyak dibanding saat Tony! Toni! Tone! beraksi. Saya rasa mereka over-hyped. Subjektif memang karena saya hanya mengenal “In a Rush”.

Karena penampilan yang sangat impresif pada pre-event, maka saya juga menunggu penampilan The Boogieman yang digawangi beberapa personel Maliq & D’essentials. Tapi entah mengapa, ekstase yang saya rasakan tidak sedahsyat seminggu sebelumnya saat saya menyaksikan mereka perdana. Di panggung yang sama beberapa jam kemudian saya menyaksikan keroyokan Orbit Project, Vandal+Mistah, dan, Abdul sambil menikmati mie ayam baso yang nikmat.

Alasan utama kenapa hari kedua lebih berkesan adalah karena adanya Blackalicious. True hiphop nyata di depan mata dan telinga. Biasanya hanya berupa mp3 hasil downloadan (dan kopian dari hard disknya Irfan). Gift of Gab tidak bisa dibilang mempunyai stage act yang ciamik, malah cenderung kaku (faktor umur juga kali ya?), tapi mereka sukses membuat saya dan beberapa orang yang berada di barisan depan teriak-teriak berjamaah. Aksi panggung paling sinting malah diperagakan oleh pemain keyboard (atau apapun nama instrumen itu. Hehe) yang orang Prancis. Dia tidak henti-hentinya melompat dan berjoget yang kalau saya bilang modifikasi tak identik dari cripwalk. Impresi belum selesai. Saya berhasil menemui Gift of Gab di backstage, berfoto bersama dan minta tanda tangan. (Bukan cuma elo doang Jov! Hehe).

Jamie Aditya keren. Blackalicios mantap. Sesuai dengan harapan (walaupun Quatromatic teriak-teriak “Balikin duit gue!!!” gara-gara Blackalicious tidak membawakan encore). Tetapi ada satu yang benar-benar jauh di atas ekspektasi saya yang sebelumnya cenderung bodo amat: Pandji.

Dari mulai awal ia membuat album, sudah banyak orang yang mencibir. Aji mumpung, sok hiphop, rapper palsu, emcee karbitan, dan sebagainya. Tapi sore itu, Pandji sukses meruntuhkan semua anggapan negatif di kepala saya. Ia membuktikan kualitasnya sebagai seorang lyricist dan entertainer dengan lirik dan rima yang cerdas serta tema yang beragam, nggak itu-itu doang.

Si Pandji ini temannya banyak, makanya doi featuringan melulu. Dari Angga Maliq, vokalisnya Soulvibe (lupa namanya), RAN, Arif Tofu (ex-brown sugar), sampai Tompi. Murakamitri dan saya tidak hentinya berpandangan dengan tatapan yang menyiratkan, “this guy is awesome!”.

Sedikit perenungan (kalau bisa disebut demikian) muncul saat Pandji membahas mengenai RAN. Awalnya Pandji memperdengarkan lagu-lagu hiphop yang menurutnya ia dengar sewaktu kecil. Dari mulai Jazzy Jeff & Fresh Prince sampai Hiphop Hooraynya Naughty by Nature (mau ga mau tiba-tiba tampangnya Mobba kaya nongol gitu di giant screen pas lagu ini). Selesai part “hey…….hooooo…..heeeyyyy…..hooooo….” tiba-tiba RAN muncul dan membawakan lagu mereka yang memang mengandung catchphrase dari Naughty by Nature tersebut.

Selesai RAN muncul, Pandji ngomong kurang lebih gini, “Tau ga kalo banyak orang di luar sana yang benci sama RAN? Mereka bilang cuma bermodal lirik “Summertime aint summertime…” dan “Hey ho…hey ho…” udah sok-sok mengaku hiphop”, tepat selesai Pandji ngomong kaya gitu secara spontan saya yang berdiri agak di mulut stage teriak dengan keras “Hell Yeah!!” sampai Pandji menengok ke arah saya.

Dia sempat terdiam sejenak lalu melanjutkan berbicara. Dia bilang bahwa pada waktu bagian “summertime aint summertime” semua penonton serempak ikutan ngerap. Ada gak rapper yang bisa bikin penonton sebanyak itu ngerap bersama-sama? Lalu Pandji mengeluarkan kata-kata yang cukup menohok, “Tau ga kalau orang-orang itu (yang sering menghina “hiphoppers” semodel RAN) sebenarnya mereka bikin susah diri sendiri. Cuma dengan cara ini orang Indonesia bisa terima mendengar hiphop. Lalu Pandji shout out juga ke Tata Tangga yang juga sering diolok-olok oleh “real hiphop heads” (Hayo ngaku siapa yang suka mengolok-olok Tata Tangga? Hehe).

Saya tidak suka Rayi RAN. Saya tidak bisa menerima ia memakai T-shirt bertuliskan “Notorious is a C*nt” dan sewaktu dikonfirmasi ia mengelak dengan mengatakan bahwa kaos itu sebenernya bentuk dukungan bagi Biggie. Saya juga tidak suka Tata Tangga, his rap is wack! Tapi beginilah saya dan begitulah mereka. Mereka sukses dikenal banyak orang sedang saya hanya bersembunyi di balik topeng “real hiphop” yang kita agung-agungkan. Apa yang dikatakan Pandji merupakan kebenaran. Kenapa kita malah menjelek-jelekkan mereka yang malah sebenarnya memperkenalkan rap/hiphop ke masyarakat awam? Merekalah sebenarnya orang-orang yang berada di garis depan sementara orang-orang seperti saya yang katanya real hiphop, mendengarkan Immtech, Non Phixion, Wutang Clan, The Roots, hanya mengumpet di pojokan belakang.

Hanya karena kita tidak suka bukan berarti kita harus memaksa orang lain untuk membenci juga.

Also my shout out kepada mereka yang dilabeli rapper mainstream, kue-kue, dan sebagainya. Yall the frontliners. You guys do us proud!!

One response to “Yang Tersisa dari Soulnation (Sebuah Catatan Pribadi)

  1. Pangeran, its a great honor to have you on my session an especially on my blog.

    Gue udah baca tulisan elo di hiphopindo.net🙂

    I honestly think we are fighting the same war man.

    Mari, kita BANGKITKAN hiphop Indonesia.

    Thx again🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s