Memburu Pasukan Bianglala

Parah, inspirasi sedang seret. Tiada hasrat untuk menulis kreatif lagi setelah dibebani kewajiban untuk menulis ilmiah (yang sangat-sangat membosankan). Tidak putus-putusnya orang yang bertanya kenapa entry blog ini begitu jarang diupdate, sejarang rambut pada kepala Mendiknas Bambang Sudibyo.

Mendadak tiba-tiba saya merasa cairan otak saya sedang bergejolak dan tumpah sehingga menggerakkan tangan saya untuk mengetik. Syukurlah, krisis berlalu.

Siapa yang sudah menonton Pasukan Bianglala (baca: Laskar Pelangi)? Hari pertama film yang sudah lama dinanti itu tayang, saya langsung menyerbu cineplex (kali ini Citos sesuai kesepakatan dengan si culun berkacamata yang mengaku membosankan dan pernah bertanya apakah saya masih membunuh atau tidak). Kelas Komunikasi Organisasi pun saya lewatkan karena memburu waktu. Saya yakin, antrian cineplex akan sangat panjang. Sampai di lokasi jam 10.30, tentu cineplex belum buka. Tapi sudah banyak orang yang duduk-duduk di depan pintu sembari menunggu. Pemandangan yang lumrah menjelang lebaran di stasiun kereta.

Beberapa orang, termasuk saya, membunuh waktu dengan membaca buku. Kebanyakan membaca Laskar Pelangi (demi penghayatan film kali ya?) dan Sang Pemimpi. Saya sendiri lebih memilih berkutat dengan The Godfathernya Mario Puzo yang sebenarnya sudah habis saya baca, tapi saya baca lagi dari lembaran pertama saking mengasyikannya.

Jarum menunjukkan setengah 12 saat loket dibuka dan gerombolan orang di depan pintu langsung menghambur. Saya tenang-tenang saja karena saya berencana menonton jam kedua, pukul 15.00. Setelah mengantri cukup lama, saat saya sampai di depan loket. Saya menengok ke kanan, di loket sebelah seseorang dengan uang seratus ribuan segepok di tangan memesan 75 tiket! WTF? Saya pikir, ada calo di bioskop? (Belakangan saya tahu, ternyata orang tersebut dari Mizan. Baru saya maklum).

Tiket sudah didapat sembari menggerutu karena barisan tengah sudah dibabat oleh oknum yang saya sangka calo itu. Saya beralih ke J.Co untuk menunggu sambil meneruskan mahakarya dari Don Puzo yang belum selesai saya baca (untuk kedua kalinya). Bosan di J.Co saya beralih ke Aksara dan menghabiskan beberapa majalah import (Belum pernah liat reading speed gue kan elo pada? Hehe). Selepas 14.30, telepon bergetar dan si Haruki Murakamitri tiba. Berselang beberapa saat, saya mendapati diri saya sedang duduk di atas kursi empuk cineplex.

Tentang filmnya sendiri, seperti sudah diduga, beda dengan yang ada di novel. Seperti artikel Tempo edisi minggu lalu, Riri Riza berusaha membumikan karakter-karakter Laskar Pelangi yang nampak begitu dramatis. Tidak ada adegan Lintang mendiamkan guru SD PN yang sok tahu, tidak ada adegan tentang Societet de Limpainya Mahar yang sebenarnya cukup kocak. Bahkan (yang cukup mengherankan), tidak ada adegan Trapani yang Mother Complex menggandeng tangan ibunya.

Adegan Ikal dan A Ling di dalam toko Sinar Harapan (konon paling dinanti-nanti) adalah adegan yang paling lebay kalau saya bilang. Riri Riza bisa lebih baik dari itu. Animasi bunga berjatuhan dari langit? Please…..

Overall, dari skala 10, saya beri film Pasukan Bianglala ini nilai 7. Tidak cukup membuat saya merinding (padahal harusnya demikian. Novelnya yang hiperbolik saja bisa meniup-niup bulu kuduk saya). Lebih merinding saya nonton 9 Naga beberapa tahun lalu dengan finale yang ciamik. Denias? Wah, belum nonton saya.

Saya kurang suka Nidji, tapi dengan lapang dada saya bilang bahwa OST Laskar Pelangi yang mereka bawakan itu sangat baik. Cukup menyentuh saat diputar di penghujung film. (Di jalan pulang, saat melewati kawasan Pasar Rebo yang ramai dengan pedagang kaki lima, termasuk penjual CD bajakan, saya mendengar lagu Laskar Pelangi tersebut versi dangdut megamix. OMG!!).

Walaupun begitu, saya tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton. Jarang-jarang ada film Indonesia yang seperti ini. Bagi mereka yang ingin menonton tapi belum baca bukunya, jangan mengajak orang yang sudah pernah baca bukunya!! Karena orang tersebut akan berkomentar sepanjang film seperti saya. Hehe.

5 responses to “Memburu Pasukan Bianglala

  1. hahahah. temen2 gue bilang mereka pada nangis pas nonton. hm.. karena udah tau apa yang bakal kejadian gue ga terlalu nangis. akh. ga seru.. heheh.gak ding..
    filmnya bagus kok. mengharukan juga.. meskipun tetep lebih hebat bukunya.. hhe. sebenernya gue ragu banget ada yang bisa ngebuat film dari buku itu. ga taunya bisa2 aja ya.. i like riri riza..

    eh, justru gue bilang adegan dia ketemu a ling itu emang sengaja dibuat norak kaya gitu.. heheheh. menggambarkan kekonyolan kejadiannya kan. puppy love.
    kata gue adegannya pinter! karena susah banget kayanya nemuin sesuatu yang pas buat ngegambarin kata2nya andrea hirata waktu dia ktemu a ling itu..hhe. yang itu udah pas kok..

  2. filmnya jelek banget. ga ada mutunya.. bukunya tajam dan pedas dan lezat dan nampol.. ini film halus manis bin permen gulali… padahal pahit banget hidup di belitong. andrea hirata mesti kecewa nih… film ini terlalu didandani, terlalu manis. tidak tajam seperti novelnya.
    mengingat di ucapan terima kasihnya ada nama ‘dirut PT Timah”
    o, pasti sudah ada kesepakatan yang terjadi supaya filmnya jangan terlalu keras menyorot kemusykilan pt timah dan pemerentah ORBA yang korup dan musyrik.
    terlalu candy-canes, hilang greget. andrea hirata mesti kecewa. saya kasih angka 4, terlalu buruk ini untuk sineas sekelas riri & mira.

  3. Pingback: Laskar Pelangi « Gita.

  4. ckckck…
    gw pikir idealis…
    ternyata masuk golongan mainstream.

    cis…!

    maryamah krapov!!! lekaslah terbit!!! huehehehhee….

  5. @lydia

    setuju… jauh bgt sm novelnya….mengecewakan memang…. tp herannya andrea hirata memuji filmnya sampe bilang katanya filmnya > bukunya… WTF??!!! tp dibanding film macam barbi3, cinlok, atau suami2 takut istri, gue lebih menyarankan nonton laskar pelangi lah….hehe..

    @orangutanz
    loh? laskar pelangi itu novel melawan arus…cukup idealis (dan hiperbolis)…. siapa yg tau filmnya kaya gitu? huhuhuhu….. maryamah karpov, gue kebayang2 terus klo si andrea hirata akan pacaran sama anaknya GM Anatoly Karpov…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s