“Caina”, Bukan “Cina”

Tidak disangka-sangka, setelah dugaan bahwa lagi-lagi tidak ada stasiun televisi nasional yang menyiarkan siaran langsung Olimpiade, TVRI muncul ke depan dan menjadi official broadcaster dari Olimpiade Beijing 2008.

Stasiun TV yang kadang saya bingung siapa yang masih menjadi pemirsa setianya (di daerah mungkin masih banyak) membuat gebrakan dengan siaran olimpiade ini dan sejauh ini mampu menarik cukup banyak pemasang iklan. Mau tak mau, saya yang pecinta siaran olahraga ini harus menyetel saluran TVRI saban hari.

Satu hal yang tetap menggelitik saya adalah mengenai para pemandu acaranya. Walaupun sudah tahun 2008 dan acara yang dibawakan adalah siaran olahraga, tetap saja gaya pembawaannya seperti Dunia Dalam Berita era 90-an. Mengingatkan saya pada bagaimana dulu bagaimana kita sedang asyik menonton Layar Emas RCTI dan terpaksa disela oleh pidato Moerdiono yang super membosankan.

Pemandu acara olimpiade di TVRI menyapa para pemirsanya dengan sebutan “saudara penonton”. Terdengar aneh dan kaku di telinga saya. Bagaimana di telinga anda? Bukankah lebih enak didengar bila digunakan sebutan “pemirsa TVRI” atau “pecinta olahraga” ?

Hal lain yang juga saya soroti adalah mengenai pengucapan China yang diucapkan “Caina” mengikuti pengucapan Bahasa Inggris. Metro TV mempelopori pengucapan China menjadi “Caina” ini (CMIIW) dan nampaknya “Cainaisasi” telah menjalar ke semua stasiun televisi.

Rubrik Bahasa di Kompas pernah mengulas mengenai pelafalan “Caina” ini. Mengapa kita malah mengadopsi pengucapan bahasa Inggris yang berlawanan dengan kaidah pelafalan kata bahasa Indonesia? China seharusnya diucapkan “Cina”, bukan malah “Caina”. Pernah disinggung mengenai kemungkinan bahwa pelafalan “Cina” mengandung makna peyoratif yang merendahkan. Tetapi mengapa harus menggantinya dengan pengucapan “Caina”?

Waktu saya kursus bahasa Mandarin (iya, saya pernah les. Hehe.), saya mengetahui bahwa orang China dalam artian warga negara Republik Rakyat China menyebut negara mereka dengan Zhongguo (baca: cungkuo). Menurut saya, kalau memang kita ingin mengesampingkan makna peyoratif pelafalan “Cina” daripada kita menggunakan pelafalan “Caina” dari Bahasa Inggris, lebih baik kita menyebutnya Zhongguo. Agak susah dan belum umum memang.

Tapi terlihat konyol bila kita menyebut negara China tidak dengan pelafalan bahasa asli kita (Cina), tidak juga dengan pelafalan asli bahasa negara tersebut (Zhongguo), tetapi malah dengan pelafalan bahasa pihak ketiga, bahasa Inggris (China).

PS: Saya tidak ahli dalam bahasa, hanya sekedar suka mengulik-ngulik. Ini hanya opini sederhana. Kalau ada yang ingin mengoreksi atau menambahkan, saya sangat berterimakasih.

26 responses to ““Caina”, Bukan “Cina”

  1. Ini juga sering gw tanyakan enaknya sebenernya disebut apa ya. Dibilang Chaina seperti dalam bahasa inggris koq secara kaidah tata bahasa Indonesia ga bener. Disebut Cina seperti dalam bahasa Indonesia terdengar kurang enak, karena seringkali dipakai sebagai sebutan peyoratif tadi. Disebut Tiongkok atau Tionghoa ataupun Zhongguo juga kurang sreg sebenernya.
    Tapi beruntunglah sekarang banyak perempuan-perempuan cungkuok yang diimpor ke Indonesia sehingga penyebutan cungkuok seperti didalam “cewe cungkuok” mulai lazim digunakan. huehehe… jadi kayaknya cungkuok lebih aplicable kali ya…
    Padahal belom tentu “cewek cungkuok” tadi beneran dari zhongguo yak… sapa tau dari Kalimantan atau medan… kkk…

  2. sebenernya ya… disebut cina juga gpp kok… gue pernah nanya sm temen gue yg emang cina… gue bilang, “elo masalah ga sih disebut cina?” dia bilang gak, “lha, gue emang orang cina? mau diapain lagi”?

  3. btw, bung primata, tulisannya saya kali ini ga memberatkan kepala anda kan? hehehue

  4. Di jogja ada radio Yasika yang dulu setiap pagi membacakan berita Koran.
    Sebelum metro TV mempopulerkan “Caina”, radio Yasika sudah melafalkan “Caina”. Agak aneh di telinga tapi saya tidak mempertanyakannya lebih lanjut. Ternyata ada juga to yang memperhatikan hal itu.

    Eh iya ada lagi yang aneh, banyak teman saya warga keturunan tidak mau disebut “Cina” maunya “caines” karena “cina” konotasinya buruk katanya, smentara “caines” lebih sopan. Makin bingung to mana yang baku dan benar

  5. makin aneh lagi bung anton dewantoro, “caines” itu maksudnya chinese kan? itu kan bahasa inggris… kok malah ingin disebut dengan pelafalan bahasa asing? sama kaya kita ga mau disebut orang indonesia, tp pengennya “indonesian”….huhuhuhuhu…

    saya lebih mendukung penyebutan zhongguo sih….

  6. hmmm… prasaan gue seringnya dengernya Cina deh di berita… soalnya kalo di berita make kata “Caina” gue pasti nyadar dan protes (gue agak bawel masalah tata bahasa kalo untuk situasi formal, meskipun kalo ky sekarang b,ind gue berantakan)
    anyway,gak bisa juga sih make kata zhongguo.. jadi makin gak bahasa Indonesia… harusnya Cina aja sih, itu emang nama negara kan.. no one’s being racist anyway😦 Cina kan kaya kata serapan dari China.. dan itu bahasa Indonesia yang benernya..

    *lo udah gak les yak.. knp? udah jago belom?😀

  7. Jangannn PanggiL aku Cinaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… ha5x

  8. Pingback: Why they said Caina instead of Cina in bahasa? « Almaokay’s Weblog

  9. no comment. hehe
    habisnya gw tinggal di USA. jadi ya udah pasti orang nyebutnya “chaina”.

    tapi benernya sih nyebut kata “Cina” aja udah bener. kan itung2 juga untuk memperbaiki citra nama “Cina” di Indonesia. kalo orang terus2an menghindari menyebut nama itu, trus kapan nama itu bisa bebas dari konotasi negatifnya? selamanya dia akan dianggap nama yang mengandung makna negatif, karena ngga ada yang punya inisiatif untuk memperbaiki nama itu.

    (what was i talking about? o.O”)

  10. Wah tetap memberatkan. Yang ga memberatkan itu cuma topik selain poleksosbudhankam huahahaha…

    Anyway, kalo gw pribadi berpendapat lebih cocok penyebutan TiongHoa dan Tiongkok. Walaupun bukan bahasa nasional di RRC dan merupakan bahasa daerah. Penyebutan Tiongkok dan Tionghoa sudah lebih dahulu populer di jaman Soekarno dibandingkan Zhongguo. Apalagi Cainis… yang udah jelas-jelas serapan dari bahasa inggris.
    Kudu cepet dibakukan nih. Biar ga aneh kayak gini. Misalkan dibakukan Cina ya media-media ga usah nyebut Caina. Misalkan Tionghoa ya ga usa ada yang ngomong cainis, cina, caina, cungkuok… paling ngga ada patokan gitu yang bener seharusnya apa…

  11. klo menurut gue mah, mending stick ke “cina” aja.. lagian kenapa sih emang? soal makna peyoratif kan sama aja kaya gue misalnya orang batak…. orang klo denger orang bilang, “dasar batak” juga derogatory kan? tp gue asik-asik aja tuh…huehhuehue….

  12. Menurut saya sih jadi aneh ya kalo menyebut cina dengan “caina” karena pelafalan “cina” mengandung makna peyoratif yang merendahkan, dan mengandung romantika publik yang kurang menyenangkan bagi kalangan tertentu. Tapi bukankah bahasa itu juga produk budaya? (CMIIW). Jadi penggunaan bahasa yang “salah” tersebut tidak lain menjadi proses pembentukan “bahasa informal” baru akibat budaya toleransi publik akan ketidaknyamanan pihak tertentu. Sulit juga untuk dicegah. apalagi kalau metroteve malah semakin mempopulerkannya, sayang sekali. Saya setuju tetap saja pada bahasa kita, yang lebih kurang juga berarti tetap pada budaya asli kita. salam -japs-

  13. @gita

    *gue berenti dulu lesnya… abis blm dpt lawan bicara yg sepadan..hoho….. sama aja ga kepake, nanti tergerus roda waktu dan gue malah lupa…hehe…kecuali klo elo bisa bahasa mandarin biar ngobrol kita…hehe…..

  14. duh..ribet banget se.. kalo menurut gw cina kan emang serapan dari kata china..trus kalo pengucapan ngikutin kaedah bahasa indonesia aja..ngapain harus ngikutin bahasa inggris. lagian jg apa salahnya kita menyebut dgn cina? mao mnghindari ke panggilan tionghoa jg kan sama dengan cina jg. so, jgn anggap konotasi negatif terus. mikir positif ajah. PR tuh bagi para ahli bahasa..

  15. lho nge, lo bukangnya cina ya? hahahahahha…. (canda nge =p)
    mending nanya aja ama orang2 China sendiri… mereka maunya dipanggil gimana.
    Cina Caina tianghoak =p
    Jepang aja ga dipanggil nippon.

  16. Kalo memang maunya pake pengucapan china, harusnya disesuaikan dgn bahasa indonesia, mungkin ditulisnya Chaina, Caina, Cayna, ato semacamnya. Jgn ditulis China tapi dibaca”chaina”, kan ga sesuai ejaan.

  17. @opak

    Siahaan pak, siahaan…huhu… mereka maunya dipanggil gmana? kaya ada yg nulis di sana, maunya dipanggil “chinese”, LOL…..

  18. Itu Cina dan Caina … yang saya lebih heran dalam penyebutan nama negara adalah penyebutan negera Belanda. Kenapa sih kalau menyebut Belnda harus disertai kata negeri? Negeri Belanda?

  19. wuih, ada blogger terkenal comment di blog gue…hehe…

    betul om riyo, itu juga saya bingung….sama kaya timnas PSSI, bukan timnas Indonesia…huhuhuhu

  20. Dan selama ini gw comment, elu ga pernah bilang gw terkenal……
    keterlaluan….

  21. @orangutanz

    elo belom pernah diwawancarain sm BBC soalnya…. riyogarta udah….hehe….

  22. hahaha

    gw lebih suka manggil orang2 yang anda sebutkan ciri-cirinya tersebut dengan sebutan:

    “W.N.A.”, “CI-NAK!”, “Chow-Kin”, “AHong”, “EdiTansil”, “ChongChong”, banyak deh…

    cewe-cewe dari darah keturunan mereka oke2 sih agaknya, hahahaha

  23. ck ck… rasis anda kawan….. teruskan…. *joke

  24. Saya setuju cina, sebenarnya munculnya “rasa” peyoratif itupun gak jelas berlatar belakang apa dan kapan. Mungkinkah sejak kerusuhan 1998? Saya seorang guru, sejak saya SD dulu diajarkan kata ya, kata cina itu. Memang pernah ada murid saya yang protes dan menuntut “di-Inggriskan” seperti tadi. tetapi setelah saya jelaskan, bahwa itu bukan “rasis” melainkan kaidah pelafalan Bahasa Indonesia, akhirnya ia mengerti. Tampaknya yang agak”keberatan” memang generasi mudanya. Saya seorang Sunda tetapi bagi saya, selama KTP kita RI ya, kita orang sini. Bahkan Cina di kampung saya mah sudah ngomong Basa Sunda.Biasa saja. Memang tidak perlu dipermasalahkan soal rasnya. Kerusakan bahasa kita, barulah masalah.

  25. ah emang dasar cina.
    ini sih pasti titipan dari salah satu orang WNI keturunan. mungkin dia nggak enak denger panggilan itu.
    jadi pada nyogok deh.

    padahal menurut KBBI dan aturan2 perbahasaannya, seharusnya bahasa indonesia dilafalkan sesuai dengan tulisannya. cina ya dibaca cina bukannya caina.
    saya sangat menyesalkan emang, kalo emang kantor pemberitaan jurnalisitik yang seharunya ngerti banget ama tata bahasa malah kyk gini. masalahnya kalo emang mo go internasional, kenapa yg laen nggak dibaca sok2 asing gitu. kyk jepang dibaca japan dkk
    payah deh……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s