Merendahkan Yang Maha Tinggi

Tulisan di bawah ini adalah karya saya yang turut dimuat di sindikasi blog Kacamata Kita. Pemuatan ini sekaligus untuk mempromosikan sindikasi blog tersebut.

——————————–

Adakah yang menyadari bahwa Inkuisisi abad pertengahan di Eropa terjadi dalam rupa yang berbeda di Indonesia? Dahulu, mereka memburu dengan api, cambuk, pedang, memaksa orang-orang yang mereka katakan bidat untuk berpaling dari kepercayaan yang terpaksa mereka tebus dengan darah.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi pada masa medieval, reinkarnasi inkuisitor memburu mangsa mereka dengan pedang dan parang, membakar dengan api, menutup tempat kediaman Tuhan dengan segel manusia. Sejarah memang berulang. Selalu.

Agama adalah candu. Menyebabkan para pecandunya mengalami halusinasi tingkat lanjut yang kadang menyebabkan mereka berpikir mereka adalah Tuhan. Menyebabkan toleransi melenyap, penolakan keberagaman. Xenophobia. Cemas akan sesuatu yang mengancam kelangsungan iman mereka. Patut dipertanyakan, bagaimana mereka sampai menyebutnya iman.

Para pecandu agama, para inkuisitor itu, mereka tidak hanya orang-orang yang bergelut dengan pedang dan parang. Sesungguhnya mereka juga hadir dalam baju yang berbeda. Dalam balutan jas. Pendekatan yang berbeda. Mereka hadir tidak dengan parang atau kelewang, tapi dengan uang dan mie instan sekeranjang. Mereka melecehkan Sang Khalik dengan membuat orang mengingkari iman demi perut, memaksakan kepercayaan dengan makanan. Memalukan.

Apa yang kau banggakan bila kau mengkonversikan orang lain ke agamamu dengan pemaksaan, apa pun bentuknya. Tidak percayakah engkau bahwa Yang Maha Kuasa dapat menjamah hati mereka tanpa memerlukan bantuan pedang dan uangmu?

***

Para inkuisitor, self-proclaimed God’s personal bodyguard, pendekatan mereka dapat berbeda, tujuan mereka satu: Memaksa.

Iman bukanlah paksaan.

Maka……

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan pedang, parang, dan batu.

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan indomie, beras, dan uang saku.

Terkutuklah mereka yang menjadikan agama sebuah komoditas.

Terkutuklah mereka yang bertingkah seolah-olah Dia yang omnipotent telah menjadi impoten.

One response to “Merendahkan Yang Maha Tinggi

  1. Ketika ada seorang gembel kelaparan menengadahkan tangan, mengiba, memohon belas kasihan karena dia tidak memiliki sepeser pun untuk membeli makanan. Lewat seorang bersafari, turun dari mobil dinas mewahnya dan melangkah tak perduli. Lalu seorang lagi, menoleh tapi tetap melangkah tak perduli. Dan terakhir datang sesosok orang menoleh, memberi makanan, memberi uang, dipenuhi dengan agenda, penuh pamrih. Si gembel menerima, memakan pemberiannya dan melangkah pergi.

    Siapa yang paling benar?

    Gw lebih memilih munafik, penuh muslihat tapi masih berbuat sesuatu. At least si gembel makan dan hidup…

    just my 2 cents bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s