Kenapa Ogah Dengar Hiphop?

 

Kenapa ogah dengar hiphop? The X Factor

 

Itu yang selalu menggelayut di pikiran saya saat melihat “kejijikan” orang akan musik hiphop. (“kejijikan” nampaknya berlebihan, tapi sungguh ekspresi jijiklah yang saya dapati biasanya). Apa yang salah dengan hiphop sehingga mereka enggan membuka daun telinga mereka lebar-lebar?

 

Biasanya kita akan menyalahkan MTV dan pihak-pihak lain yang memberikan exposure terlalu besar terhadap hiphop mainstream macam 50 cent and his G-Unit (no offense to 50’s fans) sehingga publik keburu memandang hiphop dari satu sisi saja.

 

Iseng-iseng, weekend kemarin saya mencoba mengenalkan hiphop “yang lain” kepada teman-teman saya dari latar belakang musik yang berbeda-beda. Ada teman-teman bermusik jazz dan soul, beberapa musisi british sound, sekumpulan DJ electro, dan seorang penggebuk drum rock yang dipengaruhi Dennis Chamber sampai Gilang Ramadhan. Cukup representatif mengingat musik-musik demikian yang banyak didengarkan sekarang ini. Perwakilan pop melayu sengaja tidak saya masukkan karena saya rasa akan menjadi sesuatu yang futile. Hehe.

 

Awalnya, sama seperti setiap kali saya memutar lagu hiphop di dekat mereka, dahi mereka mengernyit. Tapi sebagai hidangan pembuka, karena mereka semua so-called “anak band”, saya putar hiphop yang dimainkan dalam format band, none other than the Legendary Roots. Sesuai dugaan, The Roots dengan chord-chord tak lazimnya cukup berterima di telinga mereka, apalagi mereka yang bergelut di jazz dan soul. Tapi ada satu faktor yang agak kurang berkenan bagi mereka semua. The X Factor

 

Selanjutnya saya berikan MF Doom. Lagi-lagi mereka menikmati, terlebih di bagian instrumental. Tapi kembali mereka mengeluh tentang satu hal. The X Factor.

 

Saya lalu beralih ke sesuatu yang kontras, Immortal Technique disusul Jedi Mind Tricks. Mendadak mereka semua mengeluarkan mimik “ganti ga, klo ga gue pukul”. Cuma si drummer rock yang masih terlihat toleran dengan musiknya senor Felipe Coronel dan Vinnie Paz. “Pasti karena The X Factor”, batin saya.

 

Menilik audiens yang terlihat akan memulai riot, saya mencoba menenangkan dengan menyetel lagu-lagu yang beberapa hari terakhir menjadi lagu pengantar tidur setiap malam, lagu-lagu dari musisi hiphop Jepang, Nujabes. Mereka kembali enjoy, terlebih beberapa lagu Nujabes adalah instrumental. (Out of topic dikit, lagu Nujabes yang judulnya “A Day by Atmosphere Supreme” benar-benar pas buat relaksasi sebelum tidur. Coba saja kalau tidak percaya).

 

Lagi-lagi saya mencoba sesuatu yang ekstrem dari sebelumnya. Saya memberikan Dead Prez disusul Aesop Rock dan Atmosphere. Kembali saya melihat ekspresi ingin membunuh pada saat Dead Prez, membaik pada saat Aesop Rock dan Atmosphere, tapi mereka kembali menukas bahwa The X Factor membuat lagu terdengar tak enak.

 

Setelah itu, saya drag beberapa lagu Dizzie Rascal ke playlist. Mereka agak terkagum-kagum karena nampaknya belum pernah mendengar grimme sebelumnya, apalagi para DJ Electro kerabat saya itu. “Kurang referensi nih mr. DJ”, pikir saya. Saya sendiri kurang suka Dizzie Rascal, jadi tidak masalah saat mereka bilang The X Factor cukup mempengaruhi mereka.

 

Sebagai penutup, saya sajikan berbagai lagu dari DJ Premier dan beberapa dari Dilated Peoples. Kembali sambutan sangat hangat pada nomor-nomor instrumentalnya Preemo dan DJ Babu. Tapi kembali menurun pada lagu-lagu Preemo yang diisi oleh Guru. Begitu juga pada Dilated Peoples. The X Factor.

 

Apa sih The X Factor yang dari tadi saya sebutkan?

 

Mereka semua mungkin mempunyai selera yang berbeda-beda, tapi seiya sekata pada satu hal yang tidak mereka sukai: rap. Mereka menyukai beat-beat hiphop instrumental macam MF Doom, tetapi berbalik membenci pada saat terdapat rap di dalam lagu-lagu tersebut. Tidak heran mereka hendak mengamuk pada saat saya memutar Immortal Technique yang kekuatannya terletak pada lirik rap.

 

Menyukai lagu hiphop, tapi tidak menyukai rap di dalamnya. Aneh memang kedengarannya.

 

Kenapa saya melakukan riset iseng-iseng ini? Ini semua berawal dari celotehan seorang teman saat mendengar “8 minutes to sunrise”nya Common feat. Jill Scott. Ia berujar, “suara-suara kaya gini nih yang paling bikin gue males denger lagu hiphop”, saat bagian Common shouting di intro lagu.

 

Saya tidak tahu apakah orang-orang di luar sana yang tidak suka lagu hiphop sebatas karena unsur Rap yang mengganggu di telinga mereka. Tapi setidaknya saya sudah mendengar alasan segelintir orang emoh mendengar lagu hiphop: RAP.

 

Musik hiphop tanpa rap berarti Musik hiphop tanpa lirik.

 

Hiphop tanpa lirik? Wah……..

 

-Pangeran the words trafficker, one third of Manifestone

 

 

8 responses to “Kenapa Ogah Dengar Hiphop?

  1. karena rep itu kalo ngomong cepet jadi aye kadang kagak suka sama lagu tertentu tapi off all Lagu hip-hopnya kayaknya bikinnya lebih sulit aripada bikin lagu pop deh

  2. bikin lagu hiphop lebih sulit dari lagu biasa? Hmm…

  3. Mungkin orang indonesia memang susah menangkap esensi atawa ‘soul’ dari ngerap sendiri. Saya sendiri klo ndengerin rap ya cuma perhatiin ritme dan intonasi pengucapannya aja… liriknya sama sekali gak ketangkep lg ngomongin apa😛

  4. padahal liriknya itu yg penting sekali….

  5. HIP-HOP ASIK LAGI DARI PADA LAGU KANGEN BEND……………
    HANYA ORANG BODOH YANG GAK SUKA HIP-HOP,KANGEN BEND …BITCH,
    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!THANK YOU

  6. HIP-HOP ADALAH INSPIRASI HIDUPKU
    R.I.P ANDER GROUND………………….

  7. gw suka hip hop, cuma gw ga suka liat tingkah rappernya yang semacam OKB, kalo dibandingkan, gayanya mirip2 sama penyanyi dangdut indonesia yang baru ngetop.
    dan gw juga ga suka pecinta hip hop indo yang suka sok negro dan bergaya seperti rapper pujaannya yang gw deskripsikan di atas tadi.
    dan sekarang gw ga suka sama rapper-rapper baru indonesia yang sok-sok memaki musisi lain tapi cuma bisa nyontek rapper luar. salut buat pandji yang bisa bikin musik hip hop bagus tanpa harus keliatan norak dan kampungan.

    Hidup BAON !!!!!!

  8. matilah kalian para rapper!

    kau juga, ran!

    FL DEMO!!! TUING2!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s