M:martin dan M:moestopo

Saya habis baca detik.com. Dengan ini saya sebagai seorang yg peduli terhadap negara ini menyampaikan penyesalan terhadap mahasiswa2 Moestopo yg notabene beragama….Polisi berumur 40 tahun menjadi korban aniaya kalian mahasiswa yang katanya penerus bangsa atau akan menjadi sampah bangsa?

Saya dulu jg aktivis di sebuah universitas negeri terkenal di Jakarta…dan saya tau apa arti demo itu…dillema antara hati nurani dan uang jajan 20rb dari penyokong dana demo….

kebetulan saya adalah seorang HRD manager di sebuah perusahaan di bilangan sudirman, dan hari ini dan seterusnya saya akan lebih menyeleksi orang2 yg melamar selain dari Moestopo dan Unas….dimanakah logika dan hati kalian dalam proses pembelajaran?

Tulisan di atas adalah komentar di artikel “Ujian Seharga Pizza” dari seorang bernama Martin. Menarik untuk digarap lebih lanjut daripada saya biarkan tak terbaca di barisan komentar, makanya saya jadikan artikel tersendiri.

Demonstrasi yang terjadi pada selasa malam di depan kampus Moestopo memang mengundang kontroversi karena terjadi pemukulan (radio Elshinta mengatakan, penendangan) terhadap seorang polisi yang sudah berumur. (Berumur atau tidak, katanya polisi adalah pengayom rakyat).

Yang ingin pertama-tama saya sampaikan ke saudara Martin (dan orang” lain yang sering bertamu ke laman ini), kalau ingin menjelek-jelekkan Moestopo, anda salah tempat, karena saya akan berada di pihak anda juga (lha, emang begitu kenyataannya, masak saya mau memungkiri sesuatu yang benar?).

Tapi biarpun begitu, ada juga hal-hal yang perlu saya kemukakan. Tidak semua mahasiswa yang berdemo di depan kampus Moestopo pada selasa malam itu adalah mahasiswa Moestopo. Ada juga mahasiswa dari kampus lain dan elemen masyarakat. Saya ga mengelak atau bagaimana ya, tapi hanya mengutarakan fakta saja.

Saya sih sejalan sebangun dengan pendapat saudara Martin kecuali dalam beberapa kalimat:

kebetulan saya adalah seorang HRD manager di sebuah perusahaan di bilangan sudirman, dan hari ini dan seterusnya saya akan lebih menyeleksi orang2 yg melamar selain dari Moestopo dan Unas….dimanakah logika dan hati kalian dalam proses pembelajaran?

Pernyataan yang ditebalkan di atas secara literal berarti saudara Martin akan menyeleksi orang-orang yang bukan lulusan Moestopo atau UNAS yang hendak melamar ke kantornya. Ia tidak menjelaskan apa yang hendak ia lakukan dengan mahasiswa Moestopo dan Unas.

Tapi saya yakin dengan kalimat-kalimat saudara Martin yang sedari awal mengkritik Moestopo, tentunya maksudnya adalah bahwa saudara Martin tidak akan menerima lulusan Moestopo atau UNAS yang melamar di kantornya. Saya yakin ia salah ketik karena apa yang ia tuliskan secara bahasa adalah salah (kalau memang demikian apa yang ia maksud).

Tentunya saya menyesalkan pernyataan saudara Martin, yang lulusan Universitas negeri terkemuka di Jakarta, karena men-generalisasi semua mahasiswa Moestopo sebagai penggebuk polisi dan sampah bangsa (sebenarnya “sampah bangsa” bisa kontekstual bila dilihat dari sudut pandang “lain”. Hehe). Berarti anda juga terinfeksi oleh virus menyamaratakan aka generalisasi yang menjadi salah satu sifat khas orang Indonesia. Hanya 50 dari ribuan mahasiswa Moestopo yang berdemo pada hari Selasa malam (belum lagi dikurangi jumlah mahasiswa non Moestopo).

Tapi jikalau memang saudara Martin bersikukuh pada pendapatnya, tentunya saya tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saudara Martin bisa memberitahukan apa nama perusahaan tempat saudara Martin bekerja supaya saya buat pengumuman gede-gede di kampus agar lulusan Moestopo tidak usah melamar kerja ke tempat Bung Martin karena sudah pasti tidak akan diterima.

PS: Email anda benar-benar martin@yahoo.com? wah, saya kagum kalau itu benar.

13 responses to “M:martin dan M:moestopo

  1. klo di posisi martin, gw pikir sulit banget untuk tidak men-single out anak moestopo dan unas..

    mungkin si perusahaan ga mau employ orang2 yg tukang gebukin polisi.. sedangkan, pelamar kerja tentu aja ga bakal ngaku klo dy gebukin polisi..
    granted, orang2 dari UI juga mungkin pernah gebukin polisi.. tapi kan ga terbukti ada dan ga masuk koran..

    jadi, gw pikir agak harsh buat nyalahin martin krn single out kalian smua.

  2. gue copas commentnya John Doe di post sebelah…relevan….

    “buat pak martin…yang manager HRD di bilangan sudirman:
    sedikit banyak gue tau kalo gajinya ga gede…jadi ga usah kerja di perusahaan pak martin deh..udah jadi manajer tapi lebih banyak waktu utk comment di internet blogs..jelas kantornya ga “keren”… oh ya satu lagi, emang kalo nulis “bilangan sudirman” mestinya terdengar mentereng gitu yah?? hauheuheuheu…shallow capitalist ass licker you.

    mantan aktivis?
    sedikit saja: jelas dari sini anda menunjukkan kalau dulu anda hanya sekedar latah ikut2an jadi aktivis.

    sekali lagi, salam buat martin sang manager hrd di bilangan sudirman yang mantan aktivis di universitas negeri terkenal di jakarta…yang ternyata berhasil jadi manusia indonesia yang tak layak masuk uji mutu. maaf bung, anda hanyalah sebuah produk kesia2an dari negara aneh ini.

    salam bilangan sudirman!

  3. hahahah si martin ini lucu juga.
    tp tetep gw bakal sepikiran kyk gitu,, klo di posisi dy

  4. itu bukan representasi anak ui llooohhh
    lagian pas demo, kebanyakan banci tampil,
    koar2 pake jargon, representasi kegenitan intelektual mahasiswa
    pas udah gede dan gawe sukses, eh jadi akbar tanjung lainnya…
    apalagi klo udah anak teknik ato anak mipa koar2 politik
    ck ck ck…

    sekali lagi, gak semua anak ui gitu!!!

  5. a disgrace to yo uni, huh?

    gpplah…lagian udh ketauan yg mukul itu siapa…. dasar orang indonesia…. tukang generalisasi seenaknya….. karena Amerika ngebackup israel, mari kita sweeping orang amerika di jakarta….ngakak ah….

    baca lagi artikel baru tuh..

  6. generalisasi tu manusiawi. sangat susah ga jadi rasis, kampus-is, marga-is, nasional-is.
    apa lagi emg dunia bekerja kyk gitu. klo ga generalisasi, bs di sweeping kyk orang US. hahaha. itu contoh doank. klo kita hidup di dunia yg seperti ini

    org US juga banyak yg generalisasi. knp ada KKK. knp black masi dimarginalized.

    satu lagi alesan nolak anak moestopo.
    bnyk org klo denger perusahaan employ org moestopo, mereka minimal mengernyit (;

  7. paragraf terakhirnya tito harus gue cetak dan gue tempelkan di seantero kampus.

    makanya abis lulus dari moestopo harus mengikuti upacara penghapusan dosa minimal post-graduate dari univ. negeri

  8. huAHahHAhHAHA,,,saya setuju ma pange!!!!jangan pukul rata duNK,,kasian amat mahasiswa yang lain,,karena nila setitik rusak susu sebelanga,,kekKEkEkkek,, Mas Martin jgn segitunya amat seh,,

  9. sejujurnyaa saya sedih. melihat kejadian penendangan polisi di dpn kmps saya sendiri. tapi saya jelaskan disini. penendangan yg dilakukan BUKAN DARI MAHASISWA PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)!!!!

    dan sekiranya orang-orang sudah mulai pintar untuk tidak menyamaratakan satu orang yg berkelakuan buruk dengan beribu-ribu orang diluar sana yang mempunyai kelakuan yg lebih baik atau mungkin sebenarnya lebih baik dari orang yg telah menulis blog ini!
    _terima kasih_

  10. Yang mukul polisi bukan anak MOESTOPO. lha….salah kan semua….????

  11. Bpk martin yang terhormat,APAKAH polisi tersebut saudara anda?

    Tulisan anda tidak menggambarkan seseorang yang intelek,sebagai seorang eksmud
    ,anda tidak lebih dari seorang ekstrimis,berpikiran sempit…..
    telah terbukti yg menendang polisi tsbt bukan mhswa MOESTOPO…
    anda adlah orang yang berbicara dahulu sebelum berpikir….
    Kasihan HRD perusahaan anda,dipimpin oleh orang yg BERWAWASAN SEMPIT

  12. WOW!!!
    lucu banget ya most boy. begitu mudah manusia saling menghakimi satu sama lain. sebenci-bencinya saya dengan kampus merah putih itu, tentu sedikit miris juga. saya tidak mendewakan banget teman2 saya yang lulusan universitas negeri. so what? jika saya meyakinkan saat wawancara kerja lalu psikotes lulus di suatu perusahaan, akankah saya tetap didepak karena saya alumni moestopo?

  13. perlu bapak ktahui tidak smua mhasiswa moestopo tdk seburuk yang anda nilai,
    klo anda mmg org berpndidikan tinggi, sikap anda sma skali tidak mncerminkan s’orang intelektual. Bpk baru mnjabat HRD saja sdh bgitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s