Betapa Rapuh Persatuannya

Pengantar: Saya berjanji, ini adalah pertama dan terakhir saya memasukkan entry mengenai bahasan ini. Saya hanya gatal untuk tidak menulisnya sekali saja.

 

Sepanjang yang saya tahu, GMAHK menganjurkan anggotanya untuk tidak berpolitik. Kenapa? Karena politik itu kotor, menjatuhkan orang lain, menghalalkan segala cara, dan berbagai tabiat merah kirmizi lainnya. Menjelang akhir tahun seperti ini, semua sidang GMAHK akan melaksanakan pemilihan pegawai jemaat untuk tahun depan. Maka tensi akan meningkat dan biasanya memanas. Sadar atau tidak, (saya yakin sih sadar), mereka berpolitik.

Sudah bukan rahasia lagi, bahkan di dalam satu tubuh Kristus, bahkan terdapat faksi-faksi layaknya Fattah dan Hamas di Palestina. Masing-masing (entah apa alasannya, dari dulu saya tak mengerti) merapatkan barisannya demi mendapat hasil yang menurut mereka memuaskan. Maka, setiap pemilihan panitia pemilih, sebisa mungkin mereka akan menempatkan “wakil” mereka di dalam susunan panitia agar kepentingan yang ada dapat terakomodasi.

Mungkin sebuah perwujudan lagu sion no. 100 “Betapa Teguh Persatuannya”, mungkin juga bukan, tapi pada hari pemilihan maka gereja akan dibanjiri oleh manusia-manusia yang biasanya tak pernah nampak batang hidungnya di hari-hari perbaktian biasa. Seperti ada sebuah upaya mobilisasi massa. Menggelikan. Maka, pada saat pengusulan nama-nama anggota pemilih, manusia-manusia indigo itu akan bersuara. Seperti yang sering dilakukan oleh “Fabrizio Ravanelli”. Si rubah putih ini tak henti-hentinya melakukan hal demikian setiap tahun. Syukurnya, tahun ini dia tidak hadir. (Usut punya usut, oknum dukungannya sudah berpindah jemaat). Secara yuridis tidak salah karena keanggotaan si Ravanelli ini valid. Tapi plis dong ah, masa cuma nongol pas hari pemilihan aja? Udah gitu ngomongnya lantang lagi.

Saya sekali waktu pernah dimasukkan dalam panitia pemilih. Yang saya lihat di dalamnya adalah sebuah perang dingin di mana pekik perang tak pernah diteriakkan tapi masing-masing meluncurkan mortar-mortir sunyi dan peluru berbalut bulu domba. Saya hanya berharap motivasi mereka murni untuk kemajuan gereja. Saya agak tersentak sekaligus sinis saat ada orang yang mendapuk dirinya untuk menempati departemen pendidikan saja. Sebuah upaya pengemisan tidak langsung (atau pemaksaan??) yang berbunyi. “Berikan satu kursi di majelis untuk saya.” Bagaimana bisa? Atau ada yang meminta untuk dijadikan pemimpin rumah tangga, misalnya. Bukan maksud saya untuk mengecilkan departemen-departemen tersebut, tapi kerja konkret departemen yang disebutkan di atas itu apa sih? Padahal pemimpin-pemimpinnya termasuk dalam anggota majelis. Walhasil, pos-pos tersebut potensial untuk orang-orang yang menganut paham “tak mau kerja tapi mau nampang.”

Ada lagi yang janggal, waktu itu diusulkan sebuah nama untuk dijadikan anggota majelis kehormatan (secara struktural tidak memegang jabatan, tapi ikut dalam rapat majelis dan mempunyai hak suara). Nama yang diusulkan ini merupakan seorang tetua bagi penganut sayap kanan setempat yang juga seorang pemimpin pemberontakan metro konferens yang berhasil ditobatkan itu. Saya tidak tahu apakah hal itu sah dalam peraturan jemaat, tapi anggota majelis kehormatan itu tampaknya tidak pernah hadir dalam rapat, bahkan jarang sekali muncul di gereja, seperti gerhana yang muncul beberapa tahun sekali. Kelihatan sekali penunjukan anggota kehormatan dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan kelompok tertentu seandainya wacana third reich metro konferens digadang kembali.

Semakin umur bertambah, seharus kita menjadi semakin bijaksana. Semakin cerdas mengambil sikap dan……..semakin jarang menggunjingkan orang lain. Anggota-anggota GMAHK mempunyai gelar PhD honoris causa dalam bidang ngegosipin orang. (Dalam artikel ini saja, saya sudah 2 kali ngomongin orang.hehe). Densitas gosip yang pekat ini menyebabkan beberapa orang bertikai, bertengkar, perang dingin, atau juga mentransfer diri ke jemaat lain. Sehingga bila anda hadir di tempat saya, akan terlihat bangku-bangku kosong yang tersapu iri hati.

Satu lagi penyakit akut anggota GMAHK adalah gila kekuasaan, ingin menonjol, ingin dihormati. ”Pokoknya saya ingin menjadi pegawai jemaat”. Suatu hal yang luar biasa jika dilandaskan rasa ingin melayani yang tinggi. Suatu hal yang hina jika didasarkan pada ego dan kesombongan. Kabar tentang kemarahan seorang juragan semen di kompleks sebelah karena tidak terpilih menegaskan masalah ini. Menjadi pegawai jemaat adalah sukarela, tidak dibayar. Berbeda dengan di gereja lain di mana mungkin mendapat insentif-insentif. Tanpa insentif saja gontok-gontokan, bisa dibayangkan apa yang terjadi bila ada pemberian insentif?

Karena yang tertulis adalah:

What a fellowship

What a joy divine

Leaning on the everlasting arms

Maka renungkanlah semua itu.

4 responses to “Betapa Rapuh Persatuannya

  1. gw setuju sm comment lo, gw skarang jujur ga ada niat sm skali buat balik k greja terutama THAMRIN. Ga tau knapa, gw ga dapetin kedamaian disana,apalagi liat2 orang2 nya yang di depan ketua jemaat seakan-akan dihormati secara berlebihan bak Presiden.. sbnernya who the hell R u? kayanya merupakan suatu kebanggan tersendiri buat mereka kalo orang-orang itu (beberapa jemaat) bisa dket dengan ketua sidang.. gw skarang lebih milih ga ke gereja sm skali, ato kalo milih greja, mungkin ga advent lagi.. Selain itu, gw ga suka sama cara pemikiran para ketua sidang yang katro.. apa c masalahnya pke music lebih dari sekedar piano atau gitar? apa sih salahnya nonton bioskop? emang di bioskop ada film BO**P?? emang dasar pikiran orang2 itu aja yg aneh mkanya ngelarang ato ga jangan2 dia perna ngelakuin something wkt nonton di bioskop n ketauan sm orang laen?? Gw jujur anti banget sm orang2 sok suci, n gw ngeliat kelakuan itu d greja gw sndiri.. SUCKZ!!

  2. @Daniel: engga semua GMAHK seperti itu, kok … memang tak bisa dipungkiri kalo ada beberapa terjadi percekcokan dalam election dan eksklusivisme di dalamnya … Doktrin sudah sempurna, isi Alkitab tidak ada satu iota pun dihapus, tetapi apa daya karena mungkin efek dari “sudah pintar / sudah mendalami”, jadi malah menyepelekan kebaktian & menganggap dirinya benar sehingga kebaktian tidak terasa khidmat dan cenderung terjadi kebisingan di dalam kebaktian … Efek fatalnya adalah menjadikan suasana seperti itu menjadi “kultur” yg membuat first impression orang adalah ‘sudah biasa kok kebaktian mereka seperti itu bisingnya’ … Beberapa oknum yang biasanya “memegang power” suatu jemaat oleh karena ketergantungan jemaat itu akan dirinya sangat besar menjadikan sifat eksklusivisme … bila dia melakukan kesalahan menjadi dilema buat orang satu jemaatnya: ditegor segan, tidak ditegor salah … Sehingga di berbagai election pengurus majelis, timbul pemikiran “Harus terpilih untuk ‘posisi tertentu’, bila tidak terpilih tidak mau berpartisipasi’ ” … Ada juga ke gereja hanya sebagai ajang “narsis”: terlalu bangga sama anaknya yang terlihat aktif oleh karena yang ambil bagian didominasi dilimpahkan kepada anaknya, diskusi pelajaran SS hanya untuk apresiasi diri sendiri (pendapatnya paling benar sedangkan pendapat orang lain kurang / salah), hedon, dllsb. Kita yang sebagai pemeluk doktrin sempurna sebaiknya menghindari sifat seperti itu dan yang paling penting kita juga menghargai orang lain … Gwa juga engga setuju kalo misalnya ada orang yg dalam khotbah / diskusi SS menyudutkan suatu oknum karena perbedaan sesuatu entah itu agama, suku, dllsb. Janganlah kita melihat yg salah lalu mengikutinya atau malah jadi kita yang meninggalkan doktrin hebat yang kita sudah peluk itu … Dekatkanlah diri kepada Tuhan, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Mazmur 118:8 “Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia.”

  3. martabak_telor

    amin.
    that’s kinda true after all..

  4. ,,IndePendent,,

    seharusnya yang terjadi bkan hanya jadi pengkomentar,, karena ga merubah apa pun,,malah klo sang juragan semen yang dibilang pange (dan gw yakin halayak advent pasti ngerti maksudnya) itu baca mess ini dia ga bakal sadar malah mungkin mencak2,hihi yang harus kita lakukan adalah bertumbuh sebagai Pengikut Kristus yang menganut agama Advent tanpa jadi elit politik terselubung di dalam majelis (itu juga klo kalian masih napsu jadi petinggi2 gereja),, juga kita harus berterima kasih pada mereka karena dengan melihat kepicikan orang2 ini hal positifnya kita sudah membenttengi diri kita untuk tidak jadi orang2 seperti mereka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s