Machiavell Kelas Dusun

Artikel ini ditulis subuh hari ini sebelum saya membaca Kompas yang memberitakan bahwa PSSI melalui Nugraha Besoes mengatakan bahwa PSSI tidak akan memilih ketua umum baru. Sungguh menggelikan mengingat tulisan di bawah ini dibuat menimbang bahwa para pengurus PSSI sudah menemukan kembali akal sehatnya yang hilang.

——————————————————————— 

Nurdin Halid merupakan contoh sempurna keserakahan manusia. Bagaimana tidak? Ia melakukan korupsi berkesinambungan sehingga dua kali masuk penjara. Lebih edan lagi, saat penahanan dirinya yang pertama, ia menolak melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Tak ayal, PSSI dipimpin oleh seseorang dari balik jeruji penjara!!

 

Selepas masa tahanan, ia menjadi anggota DPR menggantikan seorang kader Golkar lainnya. Tidak lebih dari seminggu setelah pelantikan, ia kembali didakwa bersalah melakukan korupsi! Lagi-lagi ia menolak meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Benar-benar tak tahu diri.

 

FIFA yang sudah gerah melihat tingkah Nurdin dan PSSI yang mencla-mencle akhirnya mengeluarkan rilis pers yang intinya menegaskan bahwa PSSI harus dipimpin oleh seorang yang berintegritas dan bersih secara hukum. Walhasil, rapernas yang rencananya akan diadakan PSSI sebentar lagi akan berubah menjadi ajang pemilihan ketua baru. Saya mengharapkan agar yang terpilih bukan lagi seorang Machiavelli kelas dusun seperti Nurdin.

 

Kenapa bisa PSSI bungkam terhadap kelakuan Nurdin yang saya rasa cuma satu-satunya di dunia? Karena adanya sebuah keganjilan luar biasa di dalam struktur organisasi PSSI, di mana anggota Komite Eksekutif dipilih oleh Nurdin sendiri! Outrageous! Bagaimana bisa komite eksekutif sebagai sebuah badan tertinggi dalam hirarki PSSI dipilih oleh ketua umum yang secara struktural setingkat di bawah?

 

Nurdin Halid juga seorang egois yang mungkin saja menjalin hubungan terlarang dengan beberapa klub Indonesia. Masih ingat kasus WO Persebaya dari babak 8 besar beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Persebaya dijatuhi larangan berkompetisi selama 2 tahun? Sungguh mencengangkan bagaimana dari balik penjara Nurdin Halid menganulir sanksi tersebut. Belum lagi puluhan penjatuhan sanksi yang dilakukan Komisi Disiplin PSSI kepada klub-klub yang melanggar semuanya dimentahkan oleh Nurdin.

 

Yang paling menghebohkan adalah saat ia meniadakan degradasi. WTF?!! Lalu apa makna kompetisi liga tanpa degradasi? Bertamengkan alasan untuk menggojlok format Superliga tahun depan, dua kali degradasi ditiadakan, hanya promosi dari divisi yang lebih rendah tetap dilaksanakan. Peserta kompetisi pun membengkak menjadi 40 tim. Liga Indonesia menjadi liga terbesar di dunia secara kuantitas, tapi sulit diterima pikiran orang yang sehat.

 

Pemilihan pelatih Timnas pun merupakan wujud lain dosa Nurdin. Terakhir ia menunjuk Ivan Kolev menggantikan Peter Withe yang dinilai gagal memenuhi target di Piala AFC. Konyolnya, Kolev adalah pelatih yang didepak Nurdin untuk digantikan oleh Peter Withe. Ketidakmampuan PSSI menggelar kompetisi yang sehat dan bermutu ditutupi dengan pecat memecat PSSI. Padahal Guus Hiddink atau Fabio Capello sekalipun tidak akan sukses melatih Timnas Indonesia karena materinya memang setara kualitas sepatu tidak lulus quality control. Saya tertawa terbahak-bahak saat mengetahui Tim Belanda U-23 menjuarai Piala Eropa U-23 karena pelatih Timnas Belanda tersebut adalah orang yang sama melatih Timnas Indonesia di Asian Games. Saya lupa nama Londo tersebut, tapi satu hal yang saya ingat ia katakan adalah bahwa timnas Indonesia tidak akan berkembang siapa pun yang melatih karena pemainnya dididik melalui sebuah pelatnas singkat 3 bulan bukan melalui penempaan melalui kompetisi sebenarnya. Apa boleh buat, Indonesia menjadi bulan-bulanan di Asian Games sementara Belanda berjaya di kompetisi U-23. Saya yakin Nurdin beserta jejeran tangan guritanya di PSSI tersenyum kecut saat mengetahui hal tersebut.

 

Dengan lengsernya Nurdin, saya mengharapkan PSSI dipimpin oleh seorang yang lebih baik dan mampu melahirkan kawah candradimuka yang sejati yaitu kompetisi liga baik. Jangan lagi ada seorang pemimpin yang nyambi jadi koruptor. Jangan lagi ada pemimpin yang hobi menganulir keputusan Komisi Disiplin. Jangan lagi ada pemimpin yang seenaknya mengubah format kompetisi. Jangan lagi ada pemimpin gila yang meniadakan degradasi. Jangan lagi ada pemimpin yang tidak bermutu seperti Nurdin Halid.

5 responses to “Machiavell Kelas Dusun

  1. yg gebleknya tuh PSSI ngotot pertahanin nurdin jd ketua yg notabene die udah dibui gara” cuman masalah minyak goreng…
    liat aja klo mreka masih segitu, FIFA ban PSSI dah…

  2. bukan cuma PSSI, persatuan ga penting di negara. Bahkan di DPR juga begini. Jadi sebenrnya, lo bisa produce ribuan entry kyk gini, krn ada ribuan orang di atas sana yg begini.

    Nurdin Halid, kita harus salut krn dy ga tau malu.

  3. gue bener” kehilangan kata” untuk mendeskripsikan nurdin halid dan keidiotan pengurus PSSI yg rela pasang badan gt…. nugraha besoes udah kaya pecun, ngebelain nurdin mulu di mana pun…

  4. man, gw pikir gampang banget buat nulis artikel kayak gini. pasti semua setuju. kayak nulis ‘Fabregas itu jago’. susah itu nulis ‘Tevez is overrated’, well, he is overrated anyway. pasti banyak yg argue.

    pelajaran buat lo klo mw jd jurnalis

  5. well, klo gitu mulailah menulis tulisan-tulisan non pribadi. eniwei, benitez juga overrated

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s