Karena Esok 17 Agustus

 Hari ini, 16 Agustus 2007, sehari menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-62, tetap saja belum ada bendera merah putih terpancang di depan rumah gue. Jangan bilang gue ga nasionalis. Saat pertandingan Indonesia vs Korea Selatan di Senayan pada piala Asia lalu, gue antri tiket berjam-jam di bawah terik tengah hari, gue teriak-teriak pada saat menyanyikan Indonesia Raya, memberi dukungan kepada tim Indonesia, termasuk menyelimuti tubuh gue dengan bendera merah putih yang gue bawa dari rumah. Tidak ada alasan menuding gue tak nasionalis. Alasan gue tidak memasang bendera merah putih di depan rumah gue sederhana, malas…..

 

Tadi pagi nyokap gue telepon, dia bilang jangan lupa pasang bendera. Dia takut rumah gue bakal didatangi polisi lalu digerebek, diuji nasionalismenya, dan dites kesetiaannya pada pancasila. Gue pikir itu hanya cerita horor sejarah dari zaman orde baru. Ga mungkinlah polisi dating ke rumah gue untuk melakukan tindakan represif non produktif Hal kaya gitu. Paling-paling yang sewot dan merasa concern adalah orang-orang RT. Sebodo amat sama mereka.

 

Biasanya kalau menjelang peringatan kemerdekaan begini, para orang berpandangan konservatif nasionalis (label yang kurang tepat sebenarnya) akan membawa suasana romantika dengan menggunakan kalimat-kalimat yang dari SD bikin gue muak dengernya, “mengisi kemerdekaan dengan pembangunan”. Setau gue, kemerdekaan bukanlah sebuah ruang kosong yang bisa diisi seperti gelas. Mereka juga akan menekankan pentingnya menanamkan jiwa nasionalis kepada masyarakat dan berbagai katabelece lainnya. Gue ga bilang yang mereka nyatakan itu salah, tapi yang mereka tekankan itu TIDAK KONKRET. Yang mereka umbar-umbar itu hanya kalimat-kalimat poci-poci tanpa arahan tindakan nyata yang dapat dilihat implikasinya.

 

Sedangkan para ekstremis bau amis seperti gue akan berteriak lantang bahwa kita belum merdeka. Kita masih dijajah, buktinya rakyat masih hidup miskin, kekayaan alam dikuasai perusahaan asing dan keuntungannya lari ke luar negeri, bahaya disintegrasi masih mengintip di balik jendela dan hal-hal yang gue ga suka tapi sialnya benar- benar terjadi.

 

Budiarto Shambazy, wartawan Kompas, seorang yang tulisan-tulisannya gue suka, menuliskan bahwa kita tidak perlu mempermasalahkan hal “kita belum merdeka; rakyat miskin; negara susah”. Well, bung Bas, untuk hal ini, gue ga sependapat sama anda. Karena masalah-masalah tentang Indonesia yang merdeka secara de jure, tetapi terkungkung secara de facto, harus tetap dicermati dan dibenahi (ayo benahi Indonesia… taeklah… Adang-Dani….)

 

Bila biasanya dalam 17 Agustus-an sebelumnya gue menyorot pengelolaan sumber daya alam negara yang tidak beres (penafsiran pasal 33 UUD 1945 yang gue rasa ditafsirkan sama pejabat-pejabat berintelegensia kelas pygmi), isu yang berkembang seminggu belakangan ini adalah bahaya disintegrasi.

 

200 bendera merah putih diturunkan paksa di Aceh. Kasus yang sangat sensitif karena dilakukan menjelang peringatan Kemerdekaan RI dan peringatan MoU Helsinki. Pertanyaan yang menggelitik gue: “Orang Aceh ini sebenarnya maunya apa?”.

 

Pemerintah Indonesia sekali lagi ditampar oleh tindakan penurunan bendera ini. Lagi-lagi, tidak ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menuntaskan masalah ini. Pemerintah daerah pun tidak terlihat mengambil langkah-langkah yang signifikan. Semakin kuat kecurigaan khalayak akan Gubernur Irwandi Yusuf yang notabene bekas orang GAM akan mentolerir perilaku-perilaku seperti ini.

 

Belum lagi insiden RMS di Ambon pada peringatan hari keluarga nasional beberapa waktu lalu yang gue rasa kadar kejadiannya luar biasa. Bayangkan, mengibarkan bendera RMS di depan muncung presiden. Sama seperti menyodorkan celana dalam bekas dua hari dua malam ke muka presiden. Bisakah anda membayangkan bila seandainya tiba-tiba ada milisi Hamas yang mengibarkan bendera Palestina di hadapan Ehud Olmert? Atau seketika seseorang menggelar bendera Taiwan di depan Hu Jintao? Muka Indonesia benar-benar tercoreng karena insiden memalukan tersebut.

 

Kasus serupa terulang di Papua saat bendera bintang kejora dijadikan atribut tari daerah dan konyolnya pihak panitia penyelenggara acara bersikap permisif!! Hey!! Bagaimana jika ada tari daerah diiringi lagu “genjer-genjer” dan turut ikuti pengibaran bendera PKI? Pasti pemerintah langsung kalap dan bereaksi super keras.

 

Apapun pernyataan pemerintah, masyarakat (termasuk gue) mengganggap bahwa pemerintah kurang tegas akan masalah-masalah separatis ini yang seharus menjadi prioritas utama. Cerminan presidennya yang mencla-mencle?

 

Semalam di program Today’s Dialoguenya Metro TV, topik yang diangkat adalah seputar bahaya separatis ini dengan pembicara Aria Bima (anggota DPR) dan Andi Malarangeng (jubir presiden). Si Andi ini (semenjak jadi jubir, dia lebih mirip kaya badut sirkus) dengan hebatnya mengatakan, sudah ada peningkatan terhadap masyarakat Aceh akibat usaha pemerintah. Buktinya kalau dulu rakyat Aceh mengangkat senjata, sekarang mereka “cuma” menurunkan bendera”. WHOA!! Damn it, Andy!! Gue yakin elo ga goblok dan mengerti kalau tindakan macam gitu diteruskan akan berdampak pada semakin besarnya api separatis akibat pemerintah menghembuskan angin. Hanya sekedar mencari justifikasi, Andy?

 

Indonesia, sekali lagi berulang tahun dengan keadaan yang sama, memprihatinkan. Walaupun gue benci sama pemerintah dan DPR (yang kerjanya ga jelas, bubarkan saja), gue cinta sama negara dan bangsa ini. Elo ga bisa bilang gue tidak patriotik karena gue sering menentang pemerintah.(sekaligus jawaban untuk elo pade yang menanyakan konsistensi lirik lagu gue, “H-I-P”, yang kontroversial itu). Gue, sama seperti anda semua, menginginkan negara Indonesia yang lebih baik dengan pemerintah yang mengerti kebutuhan warganya.

 

 

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Merdeka dari IMF, World Bank, dan ADB

Merdeka dari perusahaan-perusahaan energi multi nasional anjing itu.

Merdeka dari ancaman disintegrasi

Merdeka dari orang-orang fasis yang picik

Merdeka untuk menunjukkan kepada dunia apa arti dari sebuah negara yang merdeka…..

One response to “Karena Esok 17 Agustus

  1. mengenai penurunan bendera di NAD gw sih yakin klo itu bukan GAM, melainkan pihak “dalem” yang pengen cari sensasi belaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s