Quote and Unquote

Sekarang zamannya kutip mengutip. Dari mulai yang haram seperti mengutip duit negara, yang haram tapi dihalalkan seperti mengutip duit supir mikrolet, yang mesum seperti mengutip cewek mandi (dari langit terdengar teriakan, “itu mah mengintip!!”), sampai yang lagi trend di kalangan orang-orang sok intelek, mengutip perkataan orang lain.

 

Mengkutip perkataan orang lain atau dalam Bahasa Inggrisnya, “Quoting”, biasanya dilakukan untuk memberi kesan bahwa sang pembicara dengan orang yang dikutip kalimatnya mempunyai kesamaan area, entah area pengetahuan, area latar belakang  kehidupan, , atau juga pupuk area. Tentu orang-orang yang dikutip perkataannya adalah orang-orang terpandang dan diakui kredibilitasnya dalam bidang-bidang tertentu. Sudah tentu pula Pak Mamat tukang nasi goreng atau Mbak Iyem pembantu tetangga sebelah bukan jenis orang-orang yang akan dikutip perkataannya.

 

Kutipan atau Quotation sering dimasukkan dalam awal bab pada sebuah novel, terlebih novel Indonesia yang para penulisnya latah dan memasukkan sindrom degradasi kualitas gaya Radja dan Kangen Band di dunia musik ke dalam dunia sastra. Gue sih udah bosan melihat hal begituan dalam novel Indonesia, terlebih bila isi bab tersebut dan quotation di depannya tidak berkorelasi kohesif, sehingga seandainya tidak ada pembukaan dengan quotation di awal pun tidak berasa apa-apa.

 

Pemakaian quotation secara regular menyebabkan hilangnya greget sebuah quotation. Apalagi jika quotation dipakai sembarangan. Quotation harusnya dikeluarkan sesekali dan pada momen yang pas. Pada satu kesempatan berbicara, gue sarankan sih pakai satu quotation saja. Kalau mau lebih, pertimbangkanlah aspek keperluannya. Mampuslah bila terlalu sering memakai quotation, orang akan mencap anda tidak bisa merangkai dan menelurkan kata-kata sendiri.

 

Ada beberapa quotation yang gue suka, dan sudah pasti kalimat-kalimat yang gue sukai ini jarang muncul atau jarang dipakai oleh orang. Karena bagi gue, memakai kalimat yang umum dan begitu sering kerap dipakai orang, sama seperti bercinta dengan pelacur kelas Mahakam yang tiap malam bercinta dengan 7 orang berbeda.

 

“…………Your biggest fear is not you are inadequate. Your biggest fear is that you are so powerful beyond measure.”

 

“…………Yes, I am a criminal. My crime is my curiosity. My crime is judging people by what they do and what they say, not what they lookalike. My crime is outsmarting you……”

 

Quotation yang terakhir ditulis oleh The Mentor. Siapa dia? Cari tahu saja sendiri. Dia dan rangkaian manifestonya yang termashyur itu membayangi masa remaja gue, bahkan di saat-saat tergelap gue.

Quotation yang pertama, paling gue ingat dari film Akeelah and The Bee. Tapi gue hakul yakin kalau itu bukan pertama kalinya gue dengar/baca quotation tersebut. Gue juga yakin sepertinya gue cukup sering mendengarnya, tapi gue ga ngeh.Pembaca yang budiman (Arief Budiman adalah kakaknya Soe Hok Gie. Entah kenapa, tapi gue tiba-tiba keinget sama kakak beradik encek nasionalis itu.), jikalau handai taulan sekalian mengetahui siapa yang pertama kali mencetuskan quotation yang pertama di atas, tolong beritahu yak. Gue penasaran soalnya. Hehehehe.

 

Masih banyak sih quotation lainnya yang gue suka, tapi karena faktor kepelacuran yang gue singgung di atas, gue males nulisnya.

 

Tapi karena gue yakin elo penasaran dan supaya gue dikira asal ngomong, gue bocorin satu lagi. Gue kasih tahu dengan jujur kalau gue suka banget dengan kutipan dari Ernesto “Che” Guevara, “Hasta La Victoria Siempre”. Bagi yang ga tahu bahasa Spanyol atau yang jarang baca buku untuk menambah wawasan, kalimat tersebut berarti “Kemenangan selalu menjadi milik kita”. Anda bisa melihat bahwa begitu banyak yang mengkutip kalimat Che tersebut dan begitu banyak yang memakai atribut bergambar Che sebagai simbol budaya pop sehingga daripada terlihat sebagai seorang revolusioner, Che lebih tergambar sebagai seorang gigolo. Gue yakin anda menangkap “pelacuran” yang gue maksud.

 

Kalau anda sering nonton film Hollywood (hey, ga semua film Hollywood jelek. Lagian yang elo maksud jelek itu kalau finalenya happy ending kan?), acap kali adegan dialog tokoh-tokohnya dibumbui dengan quotation terkenal sebagai punchline. Setelah punchline dilontarkan, salah satu tokoh akan terdiam, terkesima, termangu, atau mungkin juga tertawa (mungkin juga terbang). Gue pernah sekali mengalaminya, dan itu untuk pertama kalinya seseorang memakai quotation terhadap gue.

 

Tahu Voltaire kan? Lagi-lagi, kalau anda kurang wawasan dan terlalu banyak baca komik atau majalah pop, gue kasih tahu kalo Voltaire itu seorang filsuf Perancis. Dia pernah bilang, “The secret of being boring is to say everything”. Well, bagi gue, bukan Voltaire yang ngomong gitu, tapi Dwitri Amalia, teman gue.

3 responses to “Quote and Unquote

  1. taik.. gw baca ntar aja, commen tdulu

  2. being a voltaire to anyone else is a serious offence to the philosopher himself. so i thought.

  3. bisa pinter gue baca blog lo.. hehehe *mengaku bodoh*
    this is easily a terrific one.. =D

    gue bakal langganan di sini.. =P

    anyway, I quote a lot.. tapi biasanya dialog film =P lebih karena gue suka bahasanya, kata2nya. biasanya isinya bukan nasihat atau pandangan hidup apa2..
    pernah gue bingung mau nulis apa.. sampe akhirnya gue ngomong, “hey, let’s just quote a dead guy here and look smart because of it.”
    tapi engga deh, I never did that kind of thing =P (gue ngomong dead guy bukan maksut menghina orang2 yg biasa dikutip itu ya.. lebih ke mengejek diri sendiri, dan beberapa orang lain).
    sebenernya, gue gak baru nyadar deh kalo keseringan ngutip malah jadi gak impresif..heheh. thank you for that.. =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s