Monthly Archives: January 2010

My Tribute to J.D Salinger

I cant really cite J.D Salinger as my favorite author. I only read one of his books, his masterpiece, The Catcher on The Rye. Don Mario Puzo still tops my list.

Thanks to Indonesian illiteracy culture, The Catcher on The Rye wasn’t featured on my rebellious teenage days. I was too busy reading Soe Hok Gie back then. I hardly knew the existence of the book until somebody in Sartorialist wore a shirt with The Catcher’s cover pic printed on it. Yes, the artsy orange horse.

I was curious because people in Sartorialist were talking about it, not only the graphic image from the cover, but also the book itself. I asked my mate about it (she’s more than a mate back then, im not sure whether she still considers me a mate or not these days) and she said that the novel didn’t impress her so much. It’s not like I always took her bibliotheque taste as a reference, but somehow I managed to believe her on that one.

The book never caught my attention until I found it on a rack in Aksara, Citos, a couple of month ago. They said that a book’s cover has a major role to convince one to buy it or not. The Catcher’s cover, to be honest, is not attractive at all. (Later I reckoned that J.D Salinger always insisted the cover to be as simple as it could be. No quotes, no synopsis). I only bought it home just for the sake of sentimentality.

Everytime I start to read a book, I always try to find a review about it. With The Catcher on The Rye, I think I had read 5 or 6 reviews before start reading it. I didnt expect something enormous would come out of it because I don’t believe in general consensus. But, as I turned its pages one by one, I was starting to realized that, at some point, this book is about me and the silly childish yet honest personality.

The main character, Holden Caulfield, bears a resemblance to myself. His perspective of viewing the world, his aversion of anything phony: people, personality, educational institution, etc, his sarcastic remakrs, his horsing-around behaviour, are much the same with myself. This fictional character is not a fiction at all. He’s so effin real.

There are many of us rebels in this world and I can clearly see why The Catcher on The Rye has become a cult. Holden Caulfield is a perfect portrait of how young people always find it hard to fit in already-established environment. We hate schools, we do. We hate rules, we do. We hate teachers, we do. But most of all, we hate hypocrisy, yes we do.

Jerome David Salinger died on 27 January 2010. This is my tribute to him. I have a novel in progress and I’ve been stuck for ages. Writer’s block, I suppose. If I ever finish it, I would owe the recent-deceased a gratitude.

The author has passed away, but Holden Caulfiled may lives forever.

Bloon Politikon

Forenote: Tulisan ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang berhati lemah, over-sensitive, dan menulis dengan hUruF B3s4r kEc1L. Anda sudah diperingatkan.

Anda kerap menjilat pantat teman/kenalan/kolega/saudara terlebih bila mereka menjilat pantat anda terlebih dahulu. Begitulah aturan baku yang sudah dirajah diam-diam di jidat semua orang. I scratch your back, you scratch mine, saya rasa terlalu halus. I lick your ass, you lick mine. That’s how you people roll.

Semua orang hanya ingin terlihat baik dan menyenangkan jika orang lain berbuat sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi mereka. Segala norma sopan santun yang menjadi alasan utama untuk berinteraksi sebagai orang yang beradab hanya selimut penutup yang mencegah warna asli berpendar dari kulit anda.

Jika saya berpapasan dengan seorang teman dan saya tidak menyapanya, maka kancing yang akan disematkan ke baju saya adalah sombong. Menurut konsensus tata krama sosial, jika saya berpapasan dengan seseorang yang saya kenal tapi tidak menegur, saya tergolong tidak beretika.

Saya tidak terbiasa menyapa orang yang dengannya saya tidak berkepentingan. Arti dari tidak berkepentingan di sini adalah saya sedang tidak berada dalam situasi partikular yang mengharuskan saya mengikutsertakan dia dalam kerangka aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu. Kenapa? Karena hal itu membuang waktu dan tidak efisien. Jika saya harus menyapa semua orang yang saya kenal, maka hidup saya akan terbuang sia-sia dengan melontarkan salam-salam omong kosong kepada handai taulan.

Alasan lain adalah saya terlalu sering melihat bahwa tidak adanya ketulusan dalam bertegur sapa. Formalitas, keterpaksaan, sebuah prosedur standar yang harus dipatuhi untuk mendapatkan status sebagai manusia beradab (dan terpandang secara sosial, seberapa besar atau kecil pun skalanya). Motif orang dalam bertegur sapa bervariasi. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang tulus tanpa pretensi, tapi saya yakin batang-batang statistik dalam kepala menunjukkan persentase orang munafik lebih besar dari yang tidak.

Impresi yang saya dapatkan setelah mengamati tindak-tanduk orang adalah kita bertegur-sapa untuk menunjukkan tanda apresiasi, bahwa kita masih mengingat seseorang, dan keinginan untuk tetap berada dalam term ”baik-baik saja” dengan orang tersebut. Jadi, jikalau sekiranya nanti anda mempunyai kebutuhan yang memerlukan orang tersebut di dalamnya, anda akan datang dengan bekal ”term baik-baik saja” yang dipupuk dengan rentetan tegur-sapa selama ini dengan wajah memelas welas asih yang disamarkan sedemikian rupa.

Jika kebetulan anda mempunyai orang tua yang memiliki kedudukan atau strata cukup secara sosial, maka anda akan mendapati orang lain akan lebih sukarela menjilati pantat anda. Jilat pantat involunter. Benefit yang didapatkan tidak kontan, tapi lebih seperti tabungan berjangka, anda mengharapkan petikan hasil di masa depan.

Tidak, saya bukan orang yang sering dijilati karena orang tua dan saya juga tidak menjadikan orang tua sebagai garda depan bemper kehidupan sosial (anda tahu, semacam anak-anak terpandang kedudukannya karena mendompleng aset orang tuanya, entah status atau uangnya), tapi apa yang terlihat dalam pandangan mata lebih dari cukup untuk menggerakan jemari saya.

Memang, reputasi ataupun mamon yang diemban seseorang karena orang tua adalah sebuah keuntungan hereditas eksklusif yang tak bisa diganggu-gugat. Serupa bila anda mendapatkannya berkat kerja tangan anda dan kuras keringat sendiri.

Tapi hal tersebut adalah lempengan magnet luar biasa untuk menarik orang bermanis muka dan tingkah laku di hadapan anda. Karena mereka ingin dianggap baik. Karena mereka ingin menguangkan (tidak harafiah, tapi sepertinya bisa juga diartikan demikian) danareksa moral yang sudah ditanamkan sebelumnya.

Saya tidak akan pernah marah dan melabelinya sombong bila seseorang yang saya kenal lewat di depan mata tanpa menegur, sama seperti saya tidak mengharapkan mereka untuk marah bila saya berlaku demikian dan nyatanya saya memang demikian.

Hmmm…..Kelihatannya model interaksi sosial berbasis tabur-dan-tuai lebih masuk akal bila ditempatkan negatif.

ps: Anda sudah diperingatkan.