Entries from August 2009
Untuk dapat diteliti dan dizalimi
Untuk dapat dilihat dan didamprat
Untuk dapat dielus dan digerus
Untuk dapat dilempar dan ditampar
Untuk dapat dijarah dan diperah
Untuk dapat disangrai dan dibantai
Untuk dapat dikawan dan ditawan
Untuk dapat dihujam dan dirajam
Untuk dapat ditindas dan dipelas
Untuk dapat dibaca seperti Calzoum merapal mantera
Aku harus dibebaskan dari belenggu makna yang mengkungkungku.

Categories: Uncategorized

Cheesy, you are. Always. And that’s a compliment. Because you always add flavor when everything is plain and tasteless. Your yellow mellow saltiness is oftenly overlooked, like it’s a most common thing beneath every living heart. Let me tell you, it is not.
As you acknowledge, late-night pizza is always the best. Any topping will be enlarged by the spine-chilling ambiance. Pepperonis are redder, sausages are juicier, pineapples are sweeter, the crust is crispier, and the cheese is way deeper than you think it is.
Twice in 3 days.
Now that’s a record.
Categories: Uncategorized
Tagged: cheese, pizza, poem, poetry

Bulan tidak bersinar malam ini
Jalanan lengang
Sunyi sekali
Ada yang memberlakukan jam malam
Sudah pasti
Dan aku melihat puluhan serdadu berpatroli
Hilir mudik
Kesana kemari
Lampu tembak yang memancar ke sudut tergelap
Blokade di ujung jalan
Barikade kawat berduri
Tumpukan karung pasir
Panser berkarat yang parkir di belakang
Siaga satu semua
Siaga satu
Konon ada yang mati malam ini
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Empat jam
Lima jam
Sirene meraung-raung
Langkah kaki berderap
Bedil menyalak
Pelor tersentak
Itu dia
Dia tertangkap
Sementara dalam bunker
Dengan baget yang mengeras
Keju yang memalu
Dan susu yang membeku
Aku terpaksa menghisap sari pati kehidupan
Ini sudah pukul dua
Ayo katakan aku harus apa
Categories: Uncategorized
Tagged: curfew, jam malam, puisi
Oke, saya tidak tahan lagi. Persetan TV One dan jurnalisme sensasi yang menjadi ciri khas mereka.
Siaran langsung detik-detik terakhir Amrozi dkk yang menyebabkan mereka dibingkai sebagai pahlawan, pengulangan terus menerus siaran bom Marriott II yang jelas-jelas menimbulkan keresahan, dan sekarang, siaran langsung prosesi ijab kabul putri Mbah Surip di hadapan jenazah ayahnya.
Apa-apaan?
Apa yang terjadi dengan nilai etika dan kemanusiaan? Apa yang terjadi dengan moral? Apa yang terjadi dengan nurani? Dengan alasan apa pun, termasuk nilai berita (news value), kejadian seperti prosesi nikah putri Mbah Surip di atas tidak, sekali lagi, tidak seharusnya disiarkan langsung.
Taruhlah saudara Karni Ilyas memiliki putri yang belum menikah. Jikalau saudara meninggal nanti dan putri anda hendak menikah di hadapan jenazah ayahnya, apakah elok jika upacara tersebut diliput langsung oleh TV nasional?
Pada kasus ini, motif utama sudah pasti rating yang berujung kerukan Rupiah. Etika dikesampingkan, profit dikedepankan, dan seperti yang sudah-sudah sensasi dijadikan jualan.
Kotak hitam laknat.
Saya sudah berikrar tidak akan menyentuh dunia televisi.

Categories: Uncategorized
Tagged: mbah surip, meninggal, RBT, tak gendong, TV One