Aksara dan Aksioma

Entries from August 2009

Kredo Diri

August 17, 2009 · Leave a Comment

Untuk dapat diteliti dan dizalimi

Untuk dapat dilihat dan didamprat

Untuk dapat dielus dan digerus

Untuk dapat dilempar dan ditampar

Untuk dapat dijarah dan diperah

Untuk dapat disangrai dan dibantai

Untuk dapat dikawan dan ditawan

Untuk dapat dihujam dan dirajam

Untuk dapat ditindas dan dipelas

Untuk dapat dibaca seperti Calzoum merapal mantera

Aku harus dibebaskan dari belenggu makna yang mengkungkungku.

Categories: Uncategorized

A Personal Pan Pizza with Extra Cheese

August 12, 2009 · 2 Comments


Cheesy, you are. Always. And that’s a compliment. Because you always add flavor when everything is plain and tasteless. Your yellow mellow saltiness is oftenly overlooked, like it’s a most common thing beneath every living heart. Let me tell you, it is not.

As you acknowledge, late-night pizza is always the best. Any topping will be enlarged by the spine-chilling ambiance. Pepperonis are redder, sausages are juicier, pineapples are sweeter, the crust is crispier, and the cheese is way deeper than you think it is.

Twice in 3 days.

Now that’s a record.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Jam Malam

August 6, 2009 · 1 Comment

Bulan tidak bersinar malam ini

Jalanan lengang

Sunyi sekali

Ada yang memberlakukan jam malam

Sudah pasti

Dan aku melihat puluhan serdadu berpatroli

Hilir mudik

Kesana kemari

Lampu tembak yang memancar ke sudut tergelap

Blokade di ujung jalan

Barikade kawat berduri

Tumpukan karung pasir

Panser berkarat yang parkir di belakang

Siaga satu semua

Siaga satu

Konon ada yang mati malam ini

Satu jam

Dua jam

Tiga jam

Empat jam

Lima jam

Sirene meraung-raung

Langkah kaki berderap

Bedil menyalak

Pelor tersentak

Itu dia

Dia tertangkap

Sementara dalam bunker

Dengan baget yang mengeras

Keju yang memalu

Dan susu yang membeku

Aku terpaksa menghisap sari pati kehidupan

Ini sudah pukul dua

Ayo katakan aku harus apa

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,

Menjual Sensasi ala TV One

August 4, 2009 · 2 Comments

Oke, saya tidak tahan lagi. Persetan TV One dan jurnalisme sensasi yang menjadi ciri khas mereka.

Siaran langsung detik-detik terakhir Amrozi dkk yang menyebabkan mereka dibingkai sebagai pahlawan, pengulangan terus menerus siaran bom Marriott II yang jelas-jelas menimbulkan keresahan, dan sekarang, siaran langsung prosesi ijab kabul putri Mbah Surip di hadapan jenazah ayahnya.

Apa-apaan?

Apa yang terjadi dengan nilai etika dan kemanusiaan? Apa yang terjadi dengan moral? Apa yang terjadi dengan nurani? Dengan alasan apa pun, termasuk nilai berita (news value), kejadian seperti prosesi nikah putri Mbah Surip di atas tidak, sekali lagi, tidak seharusnya disiarkan langsung.

Taruhlah saudara Karni Ilyas memiliki putri yang belum menikah. Jikalau saudara meninggal nanti dan putri anda hendak menikah di hadapan jenazah ayahnya, apakah elok jika upacara tersebut diliput langsung oleh TV nasional?

Pada kasus ini, motif utama sudah pasti rating yang berujung kerukan Rupiah. Etika dikesampingkan, profit dikedepankan, dan seperti yang sudah-sudah sensasi dijadikan jualan.

Kotak hitam laknat.

Saya sudah berikrar tidak akan menyentuh dunia televisi.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , ,