Aksara dan Aksioma

Entries from June 2009

The Boy Named Crow

June 16, 2009 · 2 Comments

Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn.

Why? Because this storm isn’t something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. The storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn’t get in, and walk through it, step by step. There’s no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That’s the kind of sandstorm you need to imagine.

Based on those lines alone, i was starting to consider Haruki Murakami as a decent writer. But not until i found these sentences below.

The facts and techniques or whatever they teach you in class isn’t going to be very useful in the real world, that’s for sure. Let’s face it, teachers are basically a bunch of morons.

Haruki Murakami is (almost) god.

But sure, he’s just a Hermes. Mario Puzo is a Zeus.

Categories: Uncategorized

Sketsa Kampus Merah Putih

June 1, 2009 · 6 Comments

Sketsa #1

Oknum P: “Elo pengen ngambil konsentrasi apa ntar?:
Oknum R: “Humas”.
Oknum P: “Kenapa?”
Oknum R: “Biar ntar lulus bisa kerja di bank.”
Oknum P: “………..”
——————————–

Sketsa #2

“I” adalah seorang mahasiswi yang juga berprofesi sebagai seorang model.
“P” adalah seorang mahasiswa antisoc yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

situasi: P sedang duduk membaca buku The Complete Stories of Sherlcok Holmes, tentu saja dalam bahasa aslinya. I datang dan duduk menghampiri.

I: “Lagi baca apa?”
P: <dengan nada cuek> “Sherlock Holmes”
I: “Pinjem donk, pengen liat”.
P: <dengan enggan memberikan>
I: “Wow, pasti lo udah biasa Bahasa Inggris ya?”
P: <menyeringai dengan senyum ejekannya yang khas>
I: <membolak-balik beberapa halaman> “Ini buku tentang apa sih? Batman?”
P: <dalam hati> “!@#$%^ WTF? LO GA BISA BACA ITU ADA TULISANNYA SHERLOCK HOLMES?”

hampir saja P bertanya balik, “Elo model ya?”
—————————————-

Sketsa #3

P sedang asyik membolak-balik bukunya Ken Conboy dan tiba-tiba sesosok makhluk yang terkenal terlalu banyak omong menukas, “Lo ngapain sih baca buku? Emangnya besok ada ujian?”
—————————————

Sketsa #4

Oknum P mengirim sms ke salah seorang teman sekelasnya:

“Gue cabut duluan, harus ke kantor, udah telat. Ciao!”

Balasan yang ia terima beberapa detik kemudian adalah:

“Ciao? Jangan sok mandarin deh lo”
—————————————-

Sketsa #5

Di sela-sela kuliah, seorang dosen senior yang dilabeli teman saya sebagai “Pak Nyocos” marah-marah…

“Tidak ada itu nama belakang ditulis duluan untuk daftar pustaka. Harus nama depan duluan. Siapa yang ngajarin kamu untuk nulis nama belakang duluan? Salah itu!!!”

Seorang mahasiswa membalas, “Dari Zaman SD juga begitu pak!”

Si Bapak Nyocos kembali nyerocos, “Sekarang kalian sudah kuliah, sudah jadi mahasiswa, gak kaya SD lagi!”

Oknum P angkat bicara, “Hal tersebut sudah menjadi konsensus internasional selama bertahun-tahun lamanya. Anda mau merubahnya, pak?”

Beberapa kawan ramai-ramai mendatangi si Bapak Nyocos dan menunjukkan  contoh-contoh daftar pustaka pada beberapa buku.

Apa yang dilakukan si Bapak Nyocos?
Terdiam seribu bahasa.

Oknum mencoba berpikir positif. Mungkin si Bapak Nyocos sedang khilaf.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , ,