
Saat alam semesta bersekongkol mempertemukanmu dengan nasib, siapa yang bisa mencegahnya?
Karena dalam satu garis telah diukir ulir kehidupan yang tidak akan pernah terhapus. Yang kita lakukan adalah meniti ulir yang berkelok curam itu.
Dapatkah kita menengadahkan kepala ke langit dan memaksaNya menjaga matahari tidak pernah terbenam agar hari tidak berganti?
Aku dan waktu telah berlari bersama dalam sebuah perlombaan. Sang waktu melesat secepat anak panah, sedang aku baru tiba di finis 7 bulan kemudian. Sang waktu menatapku dengan angkuh, seolah berkata, “Jangan pernah menantangku”.
“Tuhan tidak bermain dadu”, kata Einstein. Aku hanya ingin tahu, Apakah Ia bermain Russian Roulette?
Revolver yang mengarah ke tenggorokanku itu, berisi peluru-peluru bernama Ketidakmungkinan, Ketidakpastian, Perbedaan. Jikalau revolver itu meletus dan darahku muncrat, jangan terkejut bila aku tidak mati. Peluru tersebut telah gagal membunuhku sejak 5 tahun lalu.
Karena Ia bekerja dengan cara yang sulit dimengerti. Apa pun itu, baiklah bagiku.
Maka, bila alam semesta berkonspirasi memisahkanmu dengan nasib, apa yang harus kau lakukan?
Tertawalah.
Categories: Uncategorized
Tagged: curhat, mellow kaya banci, nasib, sentimental kaya cewe, takdir

08.00-09.15: Ujian Psikologi Khalayak dan konsumen, pengawas ujian zaman sekarang menyebalkan…bagaimana orang bisa tenang ngerjain soal klo mereka ngobrol ketawa-ketiwi?
09.15-10.00: Bermain catur 2 game. Lumayan dapet 10ribu.
10.00-16.30: Dengan modal 10ribu hasil 2x menang maen catur, membeli roti bakar dan sebotol aqua, wi-fian sampe mabok selama 6 stngah jam. SENDIRIAN
16.30-17.00: Makan Nasi pake telor dadar ditambah kuah gulai ikan (kuahnya doank!) dan tempe goreng tepung 3 biji. SENDIRIAN
17.00-17.15: Jalan kaki dari kampus ke FX. SENDIRIAN
17.15-17.45: Berkontemplasi di toilet FX lantai 4 lalu sesudahnya ngider-ngider FX sambil memperhatikan kenapa hari ini begitu banyak homo di FX. SENDIRIAN
17.45-18.00: Duduk di waiting chairsnya 21. SENDIRIAN
18.00-19.15: Menonton Underworld: The Rise of The Lycans dan menggerutu dalam hati mengapa film ini begitu dangkal dan mudah ditebak? SENDIRIAN
19.15.19.30: Berjalan kaki lagi ke Pacific Place. Tentu saja SENDIRIAN.
19.30-21.39 (sekarang): Wi-fian lagi di Starbucks Pacific Place. SENDIRIAN
Saya hanya tak ingin pulang ke rumah.
Membiasakan diri. Harus Begitu.
Categories: Uncategorized
Tagged: bosan, FX, gundah, lebay, pacific place, resah, sendirian, sepi