Aksara dan Aksioma

Entries from January 2009

Memandang Palestina Ditemani John Lennon

January 20, 2009 · 16 Comments

Hari itu saya keluar kelas agak siang, sekitar jam 2-an. Tiba-tiba telinga saya disergap oleh teriakan “Mari kita bantu saudara-saudara kita di Palestina”, yang ajaibnya, diiringi lagu Imagine-nya John Lennon yang dinyanyikan live sebagai latar belakang.

Beberapa mahasiwa menengadahkan kotak-kotak sumbangan dengan mimik mengiba yang berlebihan seolah-olah biaya SKS mereka semester ini belum terbayar. Seseorang yang nampaknya pimpinan aksi tidak henti-hentinya menyuarakan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, termasuk di Palestina. Apa-apaan? Jadi kau kira yang di Manokwari bukan manusia?

Entah kenapa, banyak orang Indonesia yang tidak begitu Indonesia, malah lebih Arab dari orang Arab. Saat jet-jet Israel meluluhlantakkan Gaza, tidak terhitung banyaknya penduduk Indonesia yang mengecam dan melakukan aksi solidaritas dalam berbagai bentuk. Dari yang masuk akal seperti pengiriman bantuan medis hingga yang konyol seperti pengiriman milisi jihad.

Gempa di Manokwari terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Penduduk Papua adalah saudara sebenar-benarnya dari kita. Ada yang peduli?

Isu Palestina menjadi bahan obrolan nasional, dari Istana hingga warung sederhana. Semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, belum berhenti sampai sekarang. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan ganti rugi yang pantas belum diberikan kepada mereka. Ada yang ingat?

Bangsa ini memang doyan sensasi. Hanya segelintir yang dengan benar memahami serangan Israel ke Palestina adalah kejahatan kemanusiaan. Sisanya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sensasional. Tidak heran, kebutuhan masyarakat akan sensasi dipenuhi oleh berbagai TV nasional, terlebih TV One yang terus-terusan me-relay­ Al-Jazeera. (TV One adalah stasiun TV yang membeli hak eksklusif siaran langsung pemakaman Amrozi Cs, apalagi yang bisa kita harapkan?).

Kiri itu seksi. Maka terjemahan Das Kapital dan literatur mengenai Tan Malaka adalah barang yang dicari-cari. Sama seperti kiri = seksi, banyak yang secara tidak sadar beranggapan bahwa Palestina itu seksi. Maka keffiyeh, bordiran logo bendera, serta kaus “Save Palestine” adalah barang buruan orang-orang yang bahkan tidak tahu apa itu Fatah dan di mana letak Tepi Barat.

Ada yang tahu mengapa Imagine selalu ikut-ikutan dalam dalam aksi-aksi mendukung Palestina akhir-akhir ini? Mereka berteriak-teriak mengenai intifada dan syuhada tapi mengumandangkan lagu tentang betapa indahnya dunia tanpa surga dan neraka. Mereka membawa-bawa nama Yang Kuasa, tapi menyanyikan syair tentang dunia tanpa agama. Somebody tell em, please!

Orang bilang Imagine adalah salah satu lagu terbaik sepanjang masa. Liriknya inspirasional. Bagi saya, Imagine cuma sekumpulan melodi monoton dengan syair celotehan pengguna LSD.

John Lennon, his crack-smokin’ ass, and his cult followers can screw themselves.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , , , ,

Bukan Rahasia Lagi

January 6, 2009 · 3 Comments

Semua mahasiswa ilmu komunikasi yang benar-benar kuliah (karena tidak semua mahasiswa ilmu komunikasi, apalagi yang swasta, benar-benar kuliah) pasti akrab dengan gambar di atas. Johari Window namanya.

Johari Window adalah sebuah bagan yang diciptakan untuk membantu manusia memahami hubungan dan komunikasi interpersonal. Pertama kali saya mendengar Johari, saya berasumsi dengan sok tahu bahwa pencipta bagan ini berdarah Melayu. Mungkin namanya Johari Muhammad atau Mahmuddin Johari. Tapi setelah saya pikir-pikir, hebat sekali ada nama/kata Melayu yang diakui secara internasional selain “Orangutan” dan “Amok”. Ternyata benar, nama Johari berasal dari gabungan 2 nama penciptanya, Joseph Luft dan Harry Ingham, bukan dari seorang penghuni semenanjung Malaya.

Sesuai pembagian bagan di atas, maka ada beberapa area informasi dalam diri manusia. Masing-masing bisa saja diketahui baik oleh diri sendiri dan orang lain, diketahui hanya oleh diri sendiri tanpa diketahui orang lain (rahasia), diketahui orang lain tanpa diketahui diri sendiri (ini namanya tidak tahu diri! haha), dan tidak diketahui baik oleh diri sendiri dan orang lain.

Syahdan pada kelas Komunikasi Antar Pribadi, dosen mata kuliah ini yang super kolot dan membosankan menyuruh para mahasiswanya yang sudah kadung jemu untuk membuat Johari Window tentang diri mereka masing-masing. Ternyata, sang dosen yang mirip penyuluh PKK ini hanya menugaskan mengenai self-disclosure. Maka ia menyuruh kami untuk menuliskan apa saja hal-hal mengenai diri kami yang tidak diketahui orang lain. Saya tidak tahu apakah ia gagal untuk menginterpretasikan makna Johari Window dengan benar atau tidak, tapi yang ia ingin kami tuliskan adalah rahasia-rahasia pribadi! WTF??!! Kalau diberitahu ke orang lain, apanya yang rahasia?

Terang saja saya emoh menuliskan rahasia-rahasia pribadi yang kebanyakan merupakan aib yang membanggakan (apa pula ini?). Tadinya saya ingin mengajak teman-teman untuk memboikot atau setidaknya mendesak dosen untuk mengganti tugas dengan sesuatu yang lebih masuk akal. Tapi saya menengok kanan-kiri, rupanya sekeliling mengerjakan tugas aneh ini dengan riang gembira atau pura-pura riang gembira atau muka mereka memang seperti itu. Saya perhatikan pun tulisan-tulisan mereka yang “rahasia” itu, tidak seperti sesuatu yang dibuat-buat.

Oleh karena saya harus membuat tugas tersebut tapi enggan mengungkapkan rahasia pribadi, lalu saya berpikir mengapa tidak mengarang rahasia saja?

Beginilah isi tugas saya yang ganjil itu:

———–

“Cerita ini tidak pernah saya ungkapkan ke orang lain. Pada sore itu, saya bingung tidak ada kerjaan untuk mengisi waktu senggang. Maka saya iseng-iseng membuat prakarya layaknya pelajaran KTK saat SD. Saya mengambil botol kecap dari gudang dan mengisinya dengan minyak tanah. Entah kenapa pada saat saya menuang kerosin ke dalam botol, saya teringat pada pelajaran fisika sewaktu SMA mengenai fluida (anjeng! gue ga percaya gue nulis ini. hahaha). Tiba-tiba saya berpikir bila di ujung botol ini diselipkan secarik kain, maka botol kecap ini bisa bertransformasi menjadi semacam obor. Saya lakukanlah demikian.

Menjelang malam, seorang teman dari organisasi kemahasiswaan yang semasa kuliah 2 kali menonton piala dunia yang berbeda datang berkunjung. Ia bertanya saya sedang ngapain. Saya bilang sedang membuat prakarya. Dia bilang prakarya saya sangat berkualitas dan dapat berguna bagi kemashalatan umat. Ia bertanya bolehkah ia meminjam hasil prakarya saya, ia mengatakan karya saya sebuah instalasi seni yang layak masuk galeri. Saya iyakan dan bilang padanya agar menjaganya baik-baik.

Besok siangnya kawasan Semanggi hingga gedung DPR kisruh. Demo mahasiswa menggedor-gedor gerbang DPR. Saya menyaksikan dari layar kaca dan saya mendapati teman saya yang kemarin itu sedang berlari-lari sambil membawa prakarya saya. Ia telah menyalakan api pada ujung sumbu. Saya bersorak girang karena obor hasil buatan tangan saya dapat berfungsi.

Tapi jantung saya hampir berhenti berdetak saat teman saya melemparkan prakarya saya tersebut ke barisan polisi yang membentuk barikade. Saya marah karena prakarya saya dihancurkan. Saya sontak memaki-maki dan hampir mengamuk kecewa. Beberapa detik kemudian saya mendadak tenang dan damai saat melihat dampak dari dilemparnya prakarya saya tadi. Api yang berkobar dan menjilat-jilat ke sekeliling dengan indahnya. Saya baru tahu kalau saya seorang pyromaniac.

Isi berita koran-koran nasional esok harinya rata-rata berbunyi, “…aksi mahasiswa di depan gedung DPR berakhir ricuh. Anarkisme mahasiswa semakin menjadi ditandai dengan dilemparkannya bom molotov ke arah polisi…..”.

Saya baru sadar setelahnya. Apa yang telah saya perbuat???”

————

Saya hanya berharap suami dosen yang menyebalkan itu tidak bekerja untuk detasemen dua angka delapan atau BINa Insan Nusantara.

Categories: Uncategorized