Hari itu saya keluar kelas agak siang, sekitar jam 2-an. Tiba-tiba telinga saya disergap oleh teriakan “Mari kita bantu saudara-saudara kita di Palestina”, yang ajaibnya, diiringi lagu Imagine-nya John Lennon yang dinyanyikan live sebagai latar belakang.
Beberapa mahasiwa menengadahkan kotak-kotak sumbangan dengan mimik mengiba yang berlebihan seolah-olah biaya SKS mereka semester ini belum terbayar. Seseorang yang nampaknya pimpinan aksi tidak henti-hentinya menyuarakan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, termasuk di Palestina. Apa-apaan? Jadi kau kira yang di Manokwari bukan manusia?
Entah kenapa, banyak orang Indonesia yang tidak begitu Indonesia, malah lebih Arab dari orang Arab. Saat jet-jet Israel meluluhlantakkan Gaza, tidak terhitung banyaknya penduduk Indonesia yang mengecam dan melakukan aksi solidaritas dalam berbagai bentuk. Dari yang masuk akal seperti pengiriman bantuan medis hingga yang konyol seperti pengiriman milisi jihad.
Gempa di Manokwari terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Penduduk Papua adalah saudara sebenar-benarnya dari kita. Ada yang peduli?
Isu Palestina menjadi bahan obrolan nasional, dari Istana hingga warung sederhana. Semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, belum berhenti sampai sekarang. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan ganti rugi yang pantas belum diberikan kepada mereka. Ada yang ingat?
Bangsa ini memang doyan sensasi. Hanya segelintir yang dengan benar memahami serangan Israel ke Palestina adalah kejahatan kemanusiaan. Sisanya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sensasional. Tidak heran, kebutuhan masyarakat akan sensasi dipenuhi oleh berbagai TV nasional, terlebih TV One yang terus-terusan me-relay Al-Jazeera. (TV One adalah stasiun TV yang membeli hak eksklusif siaran langsung pemakaman Amrozi Cs, apalagi yang bisa kita harapkan?).
Kiri itu seksi. Maka terjemahan Das Kapital dan literatur mengenai Tan Malaka adalah barang yang dicari-cari. Sama seperti kiri = seksi, banyak yang secara tidak sadar beranggapan bahwa Palestina itu seksi. Maka keffiyeh, bordiran logo bendera, serta kaus “Save Palestine” adalah barang buruan orang-orang yang bahkan tidak tahu apa itu Fatah dan di mana letak Tepi Barat.
Ada yang tahu mengapa Imagine selalu ikut-ikutan dalam dalam aksi-aksi mendukung Palestina akhir-akhir ini? Mereka berteriak-teriak mengenai intifada dan syuhada tapi mengumandangkan lagu tentang betapa indahnya dunia tanpa surga dan neraka. Mereka membawa-bawa nama Yang Kuasa, tapi menyanyikan syair tentang dunia tanpa agama. Somebody tell em, please!
Orang bilang Imagine adalah salah satu lagu terbaik sepanjang masa. Liriknya inspirasional. Bagi saya, Imagine cuma sekumpulan melodi monoton dengan syair celotehan pengguna LSD.
John Lennon, his crack-smokin’ ass, and his cult followers can screw themselves.