Aksara dan Aksioma

Entries from November 2008

Mumbai Berderai

November 27, 2008 · 12 Comments

Darah lagi-lagi tertumpah, kali ini di India.

Saya tercengang begitu mengklik link guardian.co.uk yang dikirimkan Murakamitri. Segerombolan pemuda bersenjata yang digambarkan berusia 20-30 tahun mengamuk di hotel Taj Mahal, Mumbai. Mereka menembak membabi buta ke segala arah. Sesudahnya mereka mengumpulkan orang-orang yang memegang passport Amerika Serikat dan Inggris. Jelas, sentimen anti-barat menjadi motif mereka.

Sampai tulisan ini dibuat, 101 korban meninggal dan 300 lebih korban cedera akibat amukan teroris yang mengklaim dirinya bermama “Deccan Mujahidin”.

Tempat kejadian yang berlokasi di Mumbai cukup membuat dada saya sesak. Bagaimana tidak, ayah saya cukup sering bepergian ke sana dalam rangka urusan kantor.

Setengah tiang saya kibarkan atas sekali lagi kemenangan kekerasan yang berselimutkan agama dan sentimen timur-barat. Pembunuhan dan aksi terorisme tidak bisa dibenarkan atas nama apa pun.

Photo: courtesy of www.nytimes.com

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Sudah Salah, Ngotot Pula…..

November 17, 2008 · 11 Comments

Akibat tulisan penuh daya magisnya Murakamitri yang saya baca minggu lalu, gairah untuk membuat artikel baru sontak menghilang. Tapi gatal juga rasanya melihat blog tak kunjung diupdate. Jadi saya masukkan kutipan percakapan dosen dengan mahasiswa mengenai Rene Descartes yang ditulis dalam gaya Nguping Jakarta. Konon percakapan ini didasarkan pada pengalaman pribadi.

————————————————————–

dosen: ” apa artinya cogito ergo sum?”
mahasiswa: “i think therefore i am”
dosen: hah? (karena ga ngerti bahasa inggris)
mahasiswa: “saya berpikir maka saya ada, pak”
dosen: “siapa yang mengatakan kalimat dalam bahasa perancis itu”?
mahasiswa: “Rene Descartes, pak, tapi itu bahasa latin, bukan perancis.”
dosen: “ah, setau saya itu bahasa perancis”

Dialami sendiri oleh mahasiswa yang sampai sekarang masih bingung kenapa wakil dekan yang kabarnya berpangkat kolonel bisa se-ignorant itu…..

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , , , ,

Mengangkat Cendana, Merangkul Beringin

November 11, 2008 · 21 Comments

PARTAI KEADILAN SEJAHTERA TOKOHKAN SOEHARTO

Senin, 10 November 2008 | 19:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring menegaskan Soeharto, penguasa Orde Baru, sebagai tokoh yang punya banyak jasa untuk negeri ini. Ia membantah tampilnya sosok Soeharto dalam iklan PKS sebagai pahlawan.

Munculnya mantan presiden yang berkuasa selama 32 tahun dalam iklan untuk menmperingati Hari Pahlawan, di mana Soeharto merupakan bagian dari sejarah. Dalam iklan, terpampang gambar Ir. Soekarno, KH Hasyim Ashyari, Mohammad Nasir, Bung Hatta, Bung Tomo, dan beberapa pahlawan lain. “Sebenarnya di situ (iklan), Soeharto bukan pahlawan,” katanya, Senin (10/11). “Meski pernah berbuat kesalahan, Soeharto juga berbuat berbuat baik untuk bangsa ini.”

Iklan PKS yang ditanyangkan untuk memperingati Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan itu, memang menampilkan sejumlah tokoh besar. Mereka sudah almarhum. Tujuan iklan, kata Tifatul, partainya ingin menampilkan sejarah runtut perjuangan bangsa dari masa awal kemerdekaan hingga masa pembangunan bangsa.

Dia mengakui, sosok Soeharto masih menjadi perdebatan terhadap perjuangan bangsa. “Soeharto bukan pahlawan. Seperti kata Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dia (Soeharto) berjasa meski banyak dosanya.”
Iklan itu, kata dia, untuk mengingatkan generasi muda kepada karakter bangsa yang sudah mulai pudar.

“Apalagi mulai 2014, kalangan muda harus bisa memimpin bangsa. Ini momentum yang pas untuk mendorong kaum muda,” katanya. Karena setelah 2014, kata dia, tokoh-tokoh seperti Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto sudah harus digantikan dengan generasi baru.

Eko Ari Wibowo

PKS oh PKS………

GOLKAR SAMBUT BAIK PENOKOHAN SOEHARTO OLEH PKS

TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Agung Laksono, menyambut baik munculnya sosok Soeharto dalam iklan Hari Pahlawan yang diluncurkan Partai Keadilan Sejahtera. Hal itu justru memperkuat usul pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. “Boleh saja. Itu bagus, berarti mulai banyak yang mendukung, yang kami lakukan benar adanya,” kata Agung.

Menurut Agung, jasa Soeharto untuk pembangunan negeri ini sangat banyak. Meskipun, ada kelompok yang menilai Soeharto tidak layak menerima gelar kepahlawanan, itu wajar dalam hal berbeda pandangan.
“Pak Harto pernah diusulkan Partai Golkar sebagai pahlawan nasional,” katanya. “Namun semua terserah pemerintah.”

Selain itu, kata Agung, juga mengaharapkan agar Rancangan Undang-Undang tentang Pahlawan Nasional segera dibahas. “Rancangan ini sudah menjadi agenda program legislasi nasional diharapkan cepat dibahas,” ujar Agung.

Eko Ari Wibowo

Respek saya kepada PKS telah jauh menurun sejak UU Pornografi. Sekarang sepertinya akan lebih jatuh lagi menghujam karang setelah saya membaca artikel dari Tempo Interaktif di atas.

Apa-apaan?

Dulu saya termasuk yang kagum dengan PKS. Dengan mengusung citra partai reformis bercorak Islami, mereka mampu meraih suara yang besar dalam Pemilu 2004. Untuk tingkat nasional mereka menempati urutan ke-6 suara terbanyak. Untuk DKI Jakarta sendiri, kalau tidak salah mereka berada pada posisi pertama atau kedua (CMIIW).

Bersih dari korupsi dan kolusi adalah gacoan PKS dalam menarik simpati masyarakat. Walau pun sempat tercoreng sedikit gara-gara kasus si walikota Depok yang konon agak serong-serong, secara keseluruhan PKS dipandang lebih “suci” dibanding partai lainnya, bahkan yang sama-sama mengusung ideologi agama sekali pun.

Saya sendiri sudah pernah menyaksikan bagaimana kinerja mesin PKS secara langsung. Kebetulan pasca tsunami Aceh, saya sering main-main ke kantor DPP PKS di Buncit untuk mencari bahan tulisan. Karung-karung bantuan bertumpuk sehingga membentuk gunungan yang meluber sampai ke jalan.  Siap untuk dikirimkan ke NAD. Sejujurnya, PKS sangat menarik perhatian saya ketika itu.

Dengan ditayangkannya iklan “penokohan” Sue Harto tersebut, telah jelas sekarang berdiri di sisi yang mana PKS. Sejak dahulu, apalagi pasca mangkatnya presiden RI ke-2 tersebut, Golkar mengajukan usul untuk mengangkat The Smiling (and Killing) General sebagai pahlawan nasional. Entah dugaan ini benar atau tidak, tapi PKS menyatakan kepada Beringin bahwa mereka ingin sekali berada di lembar halaman yang sama dalam sebuah buku berita berjudul “PEMILU 2009″.

Mengenai merebaknya kembali wacana pengangkatan Sue Harto sebagai Pahlawan Nasional, seperti yang pernah saya tulis di sini, pahlawan nasional harus diakui dan diterima seluruh masyarakat secara bulat tanpa adanya penolakan sedikit pun. Pertanyaannya, diterimakah ia secara bulat?

Urusan Soeharto sebagai idola, panutan, role-model adalah urusan pribadi masing-masing orang. Komeng atau Tukul pun bisa dijadikan idola. Tapi pahlawan nasional adalah urusan sebuah bangsa bung! Seorang pahlawan nasional harus diakui secara bulat oleh rakyat.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , ,

Menzalimi Sri Mulyani, Siapa Yang Rugi?

November 7, 2008 · 10 Comments

Rumor berhembus kencang. Menteri Keuangan Sri Mulyani hendak mengundurkan diri dari kabinet. Gara-garanya adalah keputusan mencabut suspensi saham BUMI Resources, yang mayoritas sahamnya dimiliki grup Bakrie, diintervensi oleh pihak-pihak lain termasuk Presiden SBY. Disinyalir dynamic duo (SBY-JK? Tidak ada yang dinamis menyangkut SBY-JK. Saya sedang berbicara mengenai kedinamisan JK-Ical Bakrie) berada di belakang ini semua. Baunya semerbak sekali.

Bila memang jadi Sri Mulyani mengundurkan diri, ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji.

Pertama, fenomena “menzalimi” anak buah muncul kembali. Biasanya korban kezaliman akan mampu menarik simpati masyarakat. Orang banyak akan memandangnya sebagai pahlawan yang menjadi korban kesewenang-wenangan pemerintah.

Presiden SBY seperti lupa bahwa namanya sendiri terkatrol akibat “dizalimi” pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Walhasil pada pemilu 2004 ia keluar sebagai pemenang. Megawati sendiri juga merupakan korban kezaliman. Partainya berhasil memenangkan pemilu 1999, tapi dijegal dalam perjalanan menuju kursi RI-1 sewaktu sidang MPR. Masyarakat pun menaruh simpati pada Mega saat ia menjadi Wakil Presidennya Gus Dur.

Jadi bila SBY meluluskan permohonan pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani, jelas SBY tidak belajar dari masa lalu. Gantinya menyenangkan Bakrie, ia malah menciptakan musuh baru yang potensial akan menggembosinya di masa mendatang. Apalagi pemilu sudah dekat. Tidaklah bijak bagi SBY bertindak demikian.

Kedua, semua orang sedang menyanjung Sri Mulyani. Dirinya memenangkan 2 penghargaan, Asian Finance of The Year dari Emerging Market Asia dan Finance Minister of The Year and Minister Contribution To Finance Award  2008. Puji-pujian makin mengalir deras saat dirinya mengambil sisi yang berseberangan dengan presiden serta mayoritas kabinet terkait BUMI Resources. Terlebih Ical Bakrie terkesan ingin menyingkirkannya.

Tapi sekali lagi, sama seperti tulisan saya beberapa bulan lalu mengenai Rizal Ramli, saya tidak lupa. Sri Mulyani yang sekarang seperti “tidak cocok” dengan Ical Bakrie dan bersinar terang benderang adalah orang yang sama dengan Sri Mulyani yang dahulu bergandeng tangan berjabat erat dengan IMF dan World Bank. Saya tidak menentang apa yang dilalukan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan RI sekarang ini, saya berada di belakangnya. Lepas daripada itu, biarlah masyarakat Indonesia tidak memiliki short-term memory dan cepat lupa akan masa lalu.

Saya ingin memodifikasi sedikit paragraf terakhir di tulisan terdahulu:

Sekali lagi dapat dilihat bahwa orang Indonesia begitu permisif dan pelupa. Mengingat begitu banyak orang yang memandang Orde Baru sebagai pahlawan padahal pada masa 32 tahun mereka menggerogoti fondasi negeri ini, tidak heran orang lupa pada Rizal Ramli Sri Mulyani yang cuma 7-8 tahun lalu.

ps: Konon Sri Mulyani merupakan salah satu tokoh favoritnya Murakamitri. Semoga ia tidak mencak-mencak akibat tulisan ini.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , , , , ,

Membumikan Obama

November 4, 2008 · 13 Comments

Dalam hitungan jam, Barack Hussein Obama sangat mungkin memenangi pemilu Amerika Serikat. Euforia yang hebat akan melanda seluruh dunia, dari mulai kota kecil Obama di Jepang sampai penduduk Jakarta yang bangga karena sang presiden AS berkulit hitam pertama pernah bersekolah di sana. Tidak terbayang seperti apa riuh rendahnya the windy city, Chicago, tempat Obama memulai karir politiknya, saat nama pengumpul suara terbanyak diumumkan.

Pada Obama semua orang menggantung harapannya akan perubahan. Penarikan pasukan AS di Irak, penghentian politik luar negeri AS yang represif, pemulihan krisis ekonomi, perubahan pendekatan agresif AS terhadap dunia Islam, penarikan dukungan AS terhadap Israel, hingga yang temeh seperti impian salah satu teman saya, “Semoga orang Indonesia bisa lebih mudah mendapatkan visa bila Obama menang”.

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling semangat dalam urusan Obama. Kolom Budiarto Shambazy di Kompas jelas-jelas mendukung Barack Obama dari mulai awal tahun ini saat masing-masing partai, Demokrat dan Republik, masih mengadakan primary election.

Saking semangatnya, sampai-sampai ada perkumpulan yang bernama “Indonesia for Obama” yang dimotori seorang raja blog nasional. Barusan saya cek di facebook, mereka sudah menyiapkan pesta kemenangan esok hari di salah satu mall daerah Kuningan, Jakarta. Seperti yang tertera di bawah ini:

Don’t miss tomorrow OBAMA CELEBRATION PARTY!

Date: Wednesday, November 5, 2008
Time: 5:00pm – 11:55pm
Location: Bellagio Mall Kuningan
Street: Kuningan
City/Town: Jakarta, Indonesia

Come and be a part of Obama’s American presidential victory at Asia’s largest celebration. Show our Indonesian support for Obama. Enjoy special Obama videos and musical acts from the likes of Ireng Maulana, Oppie Andaresta, Rama Satria, DJ Kate, and others. Confirmed live event coverage from CNN, NHK, MetroTV, TVOne, AP, CBS, VOA, and others. This is a free event. Open to all Obama supporters.

Dont you guys think it’s too much?

We care about Obama. Does he care about us?

Obama bahkan tidak pernah menyinggung-nyinggung Indonesia dalam setiap pidatonya. Dapat dimaklumi, ia tidak ingin diasosiasikan dengan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Sudah cukup ia “difitnah” pernah bersekolah di Madrasah sewaktu berada di Jakarta (nyatanya ia bersekolah di SDN Besuki di daerah Menteng).

Saya tidak apatis terhadap Barack Husein Obama. Saya telah mengikuti sepak terjangnya dari sejak ia mencuri perhatian pada waktu konvensi Partai Demokrat 2004 yang menghasilkan John Kerry sebagai kandidat presiden, jauh sebelum demam Obamania melanda nusantara. Saya yakin sekecil apa pun ia dapat membuat perubahan yang lebih baik.

Pertanyaannya adalah: Sudah siapkah anda para Obamania, termasuk yang akan berpesta besok di Bellagio Kuningan, bila ternyata Obama tidak memenuhi harapan anda?

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , ,