Aksara dan Aksioma

Entries from October 2008

UU Pornografi. Pandir Sekali.

October 31, 2008 · 5 Comments

Sinkretisme negara dan agama (apa pun agamanya) adalah sebuah kebodohan.

Pengesahan UU Pornografi oleh para “jenius” di gedung parlemen sana menunjukkan sinyalemen kemunduran sekaligus merefleksikan betapa piciknya manusia-manusia “jenius” itu berpikir.

Melindungi anak dan perempuan? Kenapa tidak sekalian membuat UU Anti Eksploitasi Anak dan Perempuan?

Sekarang, orang-orang-berpendidikan-rendah-serta-berwawasan-sempit-yang-memuja-kekerasan-merasa-dirinya-paling-suci-dan-benar-bahkan-bertendensi-mengklaim-diri-mereka-tuhan mempunyai kekuatan hukum untuk melegitimasi tindakan barbarik mereka. Mengerikan.

Berkabung untuk mundurnya pemikiran bangsa ini, tapi tinju tetap terkepal.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , ,

Kami Putra dan Putri Indonesia………

October 28, 2008 · 6 Comments

Soempah Pemoeda

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Delapan puluh tahun telah berselang. Beginilah interpretasi pemuda penjunjung pancasila akan makna sumpah pemuda:

Saya sungguh tak bisa membedakan mereka dengan yang di bawah ini:

Hitlerjugend

Hitlerjugend

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,

Elliott Ness

October 26, 2008 · 4 Comments

Saya dan ayah merupakan dua pribadi yang jauh sekali berbeda. Ayah tidak banyak berbicara, tidak suka hingar-bingar, tidak terlalu suka berada di luar rumah selain untuk urusan pekerjaan. Baginya aktivitas waktu luang yang paling nikmat adalah mengutak-atik berbagai barang elektronik.

Sedang saya, seorang pecinta keramaian, apa pun bentuknya dari mulai sekedar berjalan-jalan di mall, menyaksikan konser musik, sampai menghadiri nonton barengnya United Indonesia. Ayah hanya membaca buku-buku tertentu sesuai dengan ketertarikannya, saya membaca buku apa saja dari novel, sejarah, sastra, sampai komik. Apa saja asal jangan buku-buku self-motivation yang hanya cocok untuk orang-orang yang tidak percaya diri.

Saya dan ayah sering kali mempunyai pandangan yang bertolak belakang dalam banyak hal. Walaupun ia seorang maverick, melakukan segala sesuatu menurut aturan dan pikirannya sendiri, dalam berbagai masalah ia dapat disebut ortodoks dan konservatif. Dalam usia yang masih muda, saya meledak-meledak, progresif dan cenderung radikal dalam menyikapi segala sesuatu. Kita sering terjebak dalam suatu pertentangan pemikiran.

Tapi memang, seorang anak adalah cerminan didikan orang tuanya. Ayah tidak pernah mengajarkan secara langsung untuk menjadi kritis, apalagi radikal. Dari segala tindakannya saya belajar untuk tidak begitu saja menelan mentah-mentah berbagai accepted opinions. Ia tidak pernah mengatakannya, tapi saya yakin ia ingin saya menyadarinya.

Kehidupan ayah dari kecil adalah sebuah contoh nyata bagaimana seorang underdog dari Sidikalang yang sakit-sakitan sewaktu kecil, lulusan STM pula, menaklukkan semua halangan untuk masuk ke universitas terbaik di Indonesia. Pencapaian yang bahkan seseorang yang lahir dan besar di Jakarta dengan segala fasilitasnya tidak mampu melakukannya. Tapi itu membekas di pikiran. Saya yang bukan siapa-siapa, orang yang tersingkirkan oleh sebuah sistem yang bobrok, suatu hari nanti akan terbang tinggi dan menjungkirbalikkan gunung-gunung yang pongah.

Ia seorang yang “persetan dengan orang lain” bila yang ia genggam erat adalah kebenaran. Ia sering sendirian tanpa barisan teman di sampingnya karena kebenaran bukanlah suatu pilihan yang populer. Sebuah pendirian yang saya kagumi dan saya camkan dengan baik di dalam hati.

Ia tidak banyak berbicara. He’s a silent rebel.

Sekarang, lagi-lagi ia berdiri tanpa siapa-siapa di sebelahnya. Hanya Tuhan dan dirinya. Saya ingin sekali turut mengangkat perisai kebenaran dan keadilan di sebelahnya, tapi saya tahu ia tidak ingin dibantu dengan cara seperti itu.

Sekarang, ia adalah Elliott Ness yang sedang mengobrak-ngabrik jaringan kebusukan Al Capone yang sedemikian menggurita. Sama seperti Elliott Ness, ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak tersentuh oleh kebobrokan dan kejahatan berjamaah kartel Al Capone. The Untouchables.

Al Capone tentu tidak tinggal diam. Ia memfitnah, menyebarkan propaganda kebohongan penuh tipu daya. Ia berusaha untuk menutupi kebobrokannya dengan mengungkap borok orang lain. Tipikal distraction counter-attack yang menjadi senjata klasik selama bertahun-tahun.

Al Capone pandai bersilat lidah. Ia berusaha menarik massa pendukung sebanyak-banyaknya sama seperti saat Lucifer dibuang dari surga dan membawa 1/3 malaikat penghuni surga bersamanya. Kasihan orang-orang itu, ditipu oleh bapak segala penipuan.

Ayah tidak pernah gentar dengan siapa pun. Persetan dengan orang lain bila yang kau genggam adalah kebenaran. Walaupun tidak ada orang yang mendukungnya, ia akan terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Al Capone pernah mendirikan sebuah perserikatan ilegal beberapa tahun lalu dan ayah berdiri di sisi yang berseberangan dengannya. Pada akhirnya, perserikatan tersebut gagal dan bubar jalan karena tidak berdasarkan itikad baik. Apa yang membuatmu berpikir kali ini tidak gagal, Al Capone???

Kita semua tahu cerita aslinya: Elliott Ness berhasil memenjarakan Al Capone. Itu akan terjadi kembali, tidak lama lagi.

Satu hal lagi untuk diperhatikan oleh Al Capone: Anaknya Elliott Ness, yang menulis tulisan ini, tidak seperti ayahnya. Ia tidak pendiam. Ia berisik, sangat berisik. Ia tidak konservatif, ia radikal.

Al Capone, your days are numbered !!!!!!!

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Haiku I Manifest

October 22, 2008 · Leave a Comment

Your glasses

Devilish magnetic wave

My passion

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Yang Tersisa dari Soulnation (Sebuah Catatan Pribadi)

October 20, 2008 · 1 Comment

Seseorang bertanya kepada saya, mana yang lebih bagus di Soulnation, hari pertama atau hari kedua? Agak susah menjawabnya, tapi karena saya tak banyak menonton pada hari pertama, saya rasa hari kedua lebih berkesan.

Walaupun demikian, menyaksikan Tony! Toni! Tone! pada hari pertama merupakan sebuah pengalaman berharga. Menyaksikan legenda Neo Soul yang telah berkecimpung 20 tahun dalam dunia musik sungguh luar biasa. Agak kesal juga karena harus buru-buru beranjak sebelum mereka selesai membawakan seluruh repertoire sebab LO menelepon saya harus briefing Mista D. Tapi tanggung jawab harus tetap dilaksanakan.

Saya juga menyaksikan Saykoji dan Yacko, tapi luput menyaksikan NEO karena waktunya bersamaan dengan Yacko. Saya baru sadar sewaktu saya makan dan bertepatan dengan lagu NEO favorit saya, “Bintangku” dibawakan. Walhasil saya pun makan dengan menggoyang-goyangkan kepala.

Saya tidak menyaksikan Akon dan Chenelle. Penyesalan datang terlambat karena Kompas melabeli penampilan Akon sebagai salah satu yang terbaik tahun ini. Esok harinya Chenelle mondar-mandir di hadapan dan saya tidak tahan untuk tidak mencuri-curi pandang. She’s fukkin hot!

Hari kedua saya ditemani Murakamitri. Ia sudah menggadang-gadang dari jauh hari untuk menonton Jamie Aditya. Begitu juga dengan saya. 70s Soulnya Jamie sungguh mempesona. Saya seperti sedang melihat versi lain dari Marvin Gaye. Tidak hentinya saya berpikir bagaimana caranya untuk memiliki falsetto yang powerful seperti itu?

Main Stage sudah penuh saat Blackstreet memulai pertunjukkannya. Di luar antrian sangat panjang, sama seperti saat Akon sehari sebelumnya. Saya bingung soalnya saya tidak menangkap ada sesuatu yang istimewa dari Blackstreet, tetapi penonton yang ada jauh lebih banyak dibanding saat Tony! Toni! Tone! beraksi. Saya rasa mereka over-hyped. Subjektif memang karena saya hanya mengenal “In a Rush”.

Karena penampilan yang sangat impresif pada pre-event, maka saya juga menunggu penampilan The Boogieman yang digawangi beberapa personel Maliq & D’essentials. Tapi entah mengapa, ekstase yang saya rasakan tidak sedahsyat seminggu sebelumnya saat saya menyaksikan mereka perdana. Di panggung yang sama beberapa jam kemudian saya menyaksikan keroyokan Orbit Project, Vandal+Mistah, dan, Abdul sambil menikmati mie ayam baso yang nikmat.

Alasan utama kenapa hari kedua lebih berkesan adalah karena adanya Blackalicious. True hiphop nyata di depan mata dan telinga. Biasanya hanya berupa mp3 hasil downloadan (dan kopian dari hard disknya Irfan). Gift of Gab tidak bisa dibilang mempunyai stage act yang ciamik, malah cenderung kaku (faktor umur juga kali ya?), tapi mereka sukses membuat saya dan beberapa orang yang berada di barisan depan teriak-teriak berjamaah. Aksi panggung paling sinting malah diperagakan oleh pemain keyboard (atau apapun nama instrumen itu. Hehe) yang orang Prancis. Dia tidak henti-hentinya melompat dan berjoget yang kalau saya bilang modifikasi tak identik dari cripwalk. Impresi belum selesai. Saya berhasil menemui Gift of Gab di backstage, berfoto bersama dan minta tanda tangan. (Bukan cuma elo doang Jov! Hehe).

Jamie Aditya keren. Blackalicios mantap. Sesuai dengan harapan (walaupun Quatromatic teriak-teriak “Balikin duit gue!!!” gara-gara Blackalicious tidak membawakan encore). Tetapi ada satu yang benar-benar jauh di atas ekspektasi saya yang sebelumnya cenderung bodo amat: Pandji.

Dari mulai awal ia membuat album, sudah banyak orang yang mencibir. Aji mumpung, sok hiphop, rapper palsu, emcee karbitan, dan sebagainya. Tapi sore itu, Pandji sukses meruntuhkan semua anggapan negatif di kepala saya. Ia membuktikan kualitasnya sebagai seorang lyricist dan entertainer dengan lirik dan rima yang cerdas serta tema yang beragam, nggak itu-itu doang.

Si Pandji ini temannya banyak, makanya doi featuringan melulu. Dari Angga Maliq, vokalisnya Soulvibe (lupa namanya), RAN, Arif Tofu (ex-brown sugar), sampai Tompi. Murakamitri dan saya tidak hentinya berpandangan dengan tatapan yang menyiratkan, “this guy is awesome!”.

Sedikit perenungan (kalau bisa disebut demikian) muncul saat Pandji membahas mengenai RAN. Awalnya Pandji memperdengarkan lagu-lagu hiphop yang menurutnya ia dengar sewaktu kecil. Dari mulai Jazzy Jeff & Fresh Prince sampai Hiphop Hooraynya Naughty by Nature (mau ga mau tiba-tiba tampangnya Mobba kaya nongol gitu di giant screen pas lagu ini). Selesai part “hey…….hooooo…..heeeyyyy…..hooooo….” tiba-tiba RAN muncul dan membawakan lagu mereka yang memang mengandung catchphrase dari Naughty by Nature tersebut.

Selesai RAN muncul, Pandji ngomong kurang lebih gini, “Tau ga kalo banyak orang di luar sana yang benci sama RAN? Mereka bilang cuma bermodal lirik “Summertime aint summertime…” dan “Hey ho…hey ho…” udah sok-sok mengaku hiphop”, tepat selesai Pandji ngomong kaya gitu secara spontan saya yang berdiri agak di mulut stage teriak dengan keras “Hell Yeah!!” sampai Pandji menengok ke arah saya.

Dia sempat terdiam sejenak lalu melanjutkan berbicara. Dia bilang bahwa pada waktu bagian “summertime aint summertime” semua penonton serempak ikutan ngerap. Ada gak rapper yang bisa bikin penonton sebanyak itu ngerap bersama-sama? Lalu Pandji mengeluarkan kata-kata yang cukup menohok, “Tau ga kalau orang-orang itu (yang sering menghina “hiphoppers” semodel RAN) sebenarnya mereka bikin susah diri sendiri. Cuma dengan cara ini orang Indonesia bisa terima mendengar hiphop. Lalu Pandji shout out juga ke Tata Tangga yang juga sering diolok-olok oleh “real hiphop heads” (Hayo ngaku siapa yang suka mengolok-olok Tata Tangga? Hehe).

Saya tidak suka Rayi RAN. Saya tidak bisa menerima ia memakai T-shirt bertuliskan “Notorious is a C*nt” dan sewaktu dikonfirmasi ia mengelak dengan mengatakan bahwa kaos itu sebenernya bentuk dukungan bagi Biggie. Saya juga tidak suka Tata Tangga, his rap is wack! Tapi beginilah saya dan begitulah mereka. Mereka sukses dikenal banyak orang sedang saya hanya bersembunyi di balik topeng “real hiphop” yang kita agung-agungkan. Apa yang dikatakan Pandji merupakan kebenaran. Kenapa kita malah menjelek-jelekkan mereka yang malah sebenarnya memperkenalkan rap/hiphop ke masyarakat awam? Merekalah sebenarnya orang-orang yang berada di garis depan sementara orang-orang seperti saya yang katanya real hiphop, mendengarkan Immtech, Non Phixion, Wutang Clan, The Roots, hanya mengumpet di pojokan belakang.

Hanya karena kita tidak suka bukan berarti kita harus memaksa orang lain untuk membenci juga.

Also my shout out kepada mereka yang dilabeli rapper mainstream, kue-kue, dan sebagainya. Yall the frontliners. You guys do us proud!!

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , , , , , ,