Entah karena menjelang tanggal 30 September atau karena apalah, tadi saya menonton Forum Indonesia Raya di TVRI (ngapain juga gue ya gue nongkrongin channel ini, Olimpiade udah selesai) dan mendapati sebuah diskusi yang membahas mengenai berkembangnya paham komunisme baru di Indonesia. (Capek deh…..).
Bahaya laten komunis, begitu slogan khas si Eyang untuk menyelimuti seluruh rakyat Indonesia dengan ketakutan dan sebagai justifikasi dari segala tindakan represif yang mengikutinya. Sampai sekarang slogan usang itu masih sering didengung-dengungkan oleh barisan has been yang tidak kuasa menahan arus bawah yang progresif. Kata rekan saya, Serenada Iblis, bahaya laten fasisme yang berkedok agama dan nasionalisme semu sebenarnya lebih berbahaya (dan lebih kasat mata. Tapi semua orang pura-pura tidak tahu).
Komunis sudah mati, kamerad. Segala sesuatu yang berhubungan dengan palu dan arit adalah sekedar romantisme. Kadar romantisme yang serupa dengan mereka yang mengidamkan kembali ke masa orde baru. Hanya orang super dungu (dan mereka yang sedang gemar masturbasi intelektualitas karena baru membaca Das Kapital) yang ingin hidup dalam sebuah negara komunis.
Lho, Pang, bukannya anda sering berkoar-koar tentang nasionalisasi tambang energi dan segala mimpi-mimpi lainnya yang tidak menjejak bumi?
Sejak kapan nasionalisasi berarti komunis? Itu adalah pikiran yang picik. Sama seperti pria-pria berseragam yang selalu curiga dengan segala aktivitas organisasi buruh, pekerja, dan petani. Bukankah hak berserikat dilindungi oleh konstitusi? Mengapa penipu, maling, dan pembunuh boleh berorganisasi sedang pekerja dan petani tidak?
Rekan saya yang lainnya, Quatro Matic, menceritakan anekdot kisah nyata tentang bagaimana sebuah serikat buruh diharuskan mencantumkan kata Pancasila di belakang sebagai tanda bahwa mereka bukanlah sebuah organisasi Marxis. Konyol dan ironis, karena sepengetahuan saya sebuah organisasi massa dengan paramiliter dan bercorak premanisme juga memakai embel-embel Pancasila.
Kembali kepada Forum Indonesia Raya TVRI yang lucu itu, seorang pejabat Depdagri menyarankan seyogianya semua partai politik memakai pancasila sebagai azas dan ideologi. Lalu bagaimana dengan partai berbasis agama? Si bapak dengan perut gendut itu (semoga gendut akibat uang halal) mengatakan bahwa partai berbasis agama berarti mengamalkan sila pertama dari Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa. Wah, lucu sekali. Bagaimana bila PRD dan Papernas mengklaim mereka mengamalkan sila kelima dari Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia?
Bahaya laten komunis sudah kadaluarsa. Komunisme telah almarhum. Komunisme hanyalah lelucon yang terlontar dari remaja-remaja tanggung yang terkadang tidak bisa membedakan wajah Karl Marx dan Sigmund Freud. Jadi mengapa masih takut?
Demokrasi terlalu mudah terdistorsi. Komunisme adalah nonsense. Kebebasan satu-satunya hal yang masih dipercaya. Jangan usik kebebasanku!
PS: Sebodo amat comment di blog laknat ini lagi seret…. kejam kalian semua…. =D

