Aksara dan Aksioma

Entries from September 2008

Pikiran Usang

September 29, 2008 · 10 Comments

Entah karena menjelang tanggal 30 September atau karena apalah, tadi saya menonton Forum Indonesia Raya di TVRI (ngapain juga gue ya gue nongkrongin channel ini, Olimpiade udah selesai) dan mendapati sebuah diskusi yang membahas mengenai berkembangnya paham komunisme baru di Indonesia. (Capek deh…..).

Bahaya laten komunis, begitu slogan khas si Eyang untuk menyelimuti seluruh rakyat Indonesia dengan ketakutan dan sebagai justifikasi dari segala tindakan represif yang mengikutinya. Sampai sekarang slogan usang itu masih sering didengung-dengungkan oleh barisan has been yang tidak kuasa menahan arus bawah yang progresif. Kata rekan saya, Serenada Iblis, bahaya laten fasisme yang berkedok agama dan nasionalisme semu sebenarnya lebih berbahaya (dan lebih kasat mata. Tapi semua orang pura-pura tidak tahu).

Komunis sudah mati, kamerad. Segala sesuatu yang berhubungan dengan palu dan arit adalah sekedar romantisme. Kadar romantisme yang serupa dengan mereka yang mengidamkan kembali ke masa orde baru. Hanya orang super dungu (dan mereka yang sedang gemar masturbasi intelektualitas karena baru membaca Das Kapital) yang ingin hidup dalam sebuah negara komunis.

Lho, Pang, bukannya anda sering berkoar-koar tentang nasionalisasi tambang energi dan segala mimpi-mimpi lainnya yang tidak menjejak bumi?

Sejak kapan nasionalisasi berarti komunis? Itu adalah pikiran yang picik. Sama seperti pria-pria berseragam yang selalu curiga dengan segala aktivitas organisasi buruh, pekerja, dan petani. Bukankah hak berserikat dilindungi oleh konstitusi? Mengapa penipu, maling, dan pembunuh boleh berorganisasi sedang pekerja dan petani tidak?

Rekan saya yang lainnya, Quatro Matic, menceritakan anekdot kisah nyata tentang bagaimana sebuah serikat buruh diharuskan mencantumkan kata Pancasila di belakang sebagai tanda bahwa mereka bukanlah sebuah organisasi Marxis. Konyol dan ironis, karena sepengetahuan saya sebuah organisasi massa dengan paramiliter dan bercorak premanisme juga memakai embel-embel Pancasila.

Kembali kepada Forum Indonesia Raya TVRI yang lucu itu, seorang pejabat Depdagri menyarankan seyogianya semua partai politik memakai pancasila sebagai azas dan ideologi. Lalu bagaimana dengan partai berbasis agama? Si bapak dengan perut gendut itu (semoga gendut akibat uang halal) mengatakan bahwa partai berbasis agama berarti mengamalkan sila pertama dari Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa. Wah, lucu sekali. Bagaimana bila PRD dan Papernas mengklaim mereka mengamalkan sila kelima dari Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia?

Bahaya laten komunis sudah kadaluarsa. Komunisme telah almarhum. Komunisme hanyalah lelucon yang terlontar dari remaja-remaja tanggung yang terkadang tidak bisa membedakan wajah Karl Marx dan Sigmund Freud. Jadi mengapa masih takut?

Demokrasi terlalu mudah terdistorsi. Komunisme adalah nonsense. Kebebasan satu-satunya hal yang masih dipercaya. Jangan usik kebebasanku!

PS: Sebodo amat comment di blog laknat ini lagi seret…. kejam kalian semua…. =D

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , , ,

Memburu Pasukan Bianglala

September 27, 2008 · 5 Comments

Parah, inspirasi sedang seret. Tiada hasrat untuk menulis kreatif lagi setelah dibebani kewajiban untuk menulis ilmiah (yang sangat-sangat membosankan). Tidak putus-putusnya orang yang bertanya kenapa entry blog ini begitu jarang diupdate, sejarang rambut pada kepala Mendiknas Bambang Sudibyo.

Mendadak tiba-tiba saya merasa cairan otak saya sedang bergejolak dan tumpah sehingga menggerakkan tangan saya untuk mengetik. Syukurlah, krisis berlalu.

Siapa yang sudah menonton Pasukan Bianglala (baca: Laskar Pelangi)? Hari pertama film yang sudah lama dinanti itu tayang, saya langsung menyerbu cineplex (kali ini Citos sesuai kesepakatan dengan si culun berkacamata yang mengaku membosankan dan pernah bertanya apakah saya masih membunuh atau tidak). Kelas Komunikasi Organisasi pun saya lewatkan karena memburu waktu. Saya yakin, antrian cineplex akan sangat panjang. Sampai di lokasi jam 10.30, tentu cineplex belum buka. Tapi sudah banyak orang yang duduk-duduk di depan pintu sembari menunggu. Pemandangan yang lumrah menjelang lebaran di stasiun kereta.

Beberapa orang, termasuk saya, membunuh waktu dengan membaca buku. Kebanyakan membaca Laskar Pelangi (demi penghayatan film kali ya?) dan Sang Pemimpi. Saya sendiri lebih memilih berkutat dengan The Godfathernya Mario Puzo yang sebenarnya sudah habis saya baca, tapi saya baca lagi dari lembaran pertama saking mengasyikannya.

Jarum menunjukkan setengah 12 saat loket dibuka dan gerombolan orang di depan pintu langsung menghambur. Saya tenang-tenang saja karena saya berencana menonton jam kedua, pukul 15.00. Setelah mengantri cukup lama, saat saya sampai di depan loket. Saya menengok ke kanan, di loket sebelah seseorang dengan uang seratus ribuan segepok di tangan memesan 75 tiket! WTF? Saya pikir, ada calo di bioskop? (Belakangan saya tahu, ternyata orang tersebut dari Mizan. Baru saya maklum).

Tiket sudah didapat sembari menggerutu karena barisan tengah sudah dibabat oleh oknum yang saya sangka calo itu. Saya beralih ke J.Co untuk menunggu sambil meneruskan mahakarya dari Don Puzo yang belum selesai saya baca (untuk kedua kalinya). Bosan di J.Co saya beralih ke Aksara dan menghabiskan beberapa majalah import (Belum pernah liat reading speed gue kan elo pada? Hehe). Selepas 14.30, telepon bergetar dan si Haruki Murakamitri tiba. Berselang beberapa saat, saya mendapati diri saya sedang duduk di atas kursi empuk cineplex.

Tentang filmnya sendiri, seperti sudah diduga, beda dengan yang ada di novel. Seperti artikel Tempo edisi minggu lalu, Riri Riza berusaha membumikan karakter-karakter Laskar Pelangi yang nampak begitu dramatis. Tidak ada adegan Lintang mendiamkan guru SD PN yang sok tahu, tidak ada adegan tentang Societet de Limpainya Mahar yang sebenarnya cukup kocak. Bahkan (yang cukup mengherankan), tidak ada adegan Trapani yang Mother Complex menggandeng tangan ibunya.

Adegan Ikal dan A Ling di dalam toko Sinar Harapan (konon paling dinanti-nanti) adalah adegan yang paling lebay kalau saya bilang. Riri Riza bisa lebih baik dari itu. Animasi bunga berjatuhan dari langit? Please…..

Overall, dari skala 10, saya beri film Pasukan Bianglala ini nilai 7. Tidak cukup membuat saya merinding (padahal harusnya demikian. Novelnya yang hiperbolik saja bisa meniup-niup bulu kuduk saya). Lebih merinding saya nonton 9 Naga beberapa tahun lalu dengan finale yang ciamik. Denias? Wah, belum nonton saya.

Saya kurang suka Nidji, tapi dengan lapang dada saya bilang bahwa OST Laskar Pelangi yang mereka bawakan itu sangat baik. Cukup menyentuh saat diputar di penghujung film. (Di jalan pulang, saat melewati kawasan Pasar Rebo yang ramai dengan pedagang kaki lima, termasuk penjual CD bajakan, saya mendengar lagu Laskar Pelangi tersebut versi dangdut megamix. OMG!!).

Walaupun begitu, saya tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton. Jarang-jarang ada film Indonesia yang seperti ini. Bagi mereka yang ingin menonton tapi belum baca bukunya, jangan mengajak orang yang sudah pernah baca bukunya!! Karena orang tersebut akan berkomentar sepanjang film seperti saya. Hehe.

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,

Sajak di Udara

September 22, 2008 · Leave a Comment

Bermain-main

Bermain-main yang menyenangkan

Permainan ini

Terlalu menyenangkan

Di mana saja

Di udara

Trotoar jalan

Toko majalah

atau relung-relung imaji

Kontemplasi emosional yang irasional

Curang curang

Godot harus dipaksa hadir

Beginilah efek rumah kacamata

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Trofim Lelono, Heru Lysenko

September 12, 2008 · 1 Comment

Trofim Lysenko

Trofim Lysenko

Trofim Lysenko wannabe

Trofim Lysenko wannabe

Dulu sewaktu kecil, salah satu cerita yang tidak saya suka adalah cerita mengenai raja yang dibuatkan baju oleh seorang penjahit. Baju tersebut sungguh istimewa karena tidak kasat mata. Sang raja mengenakan baju istimewa tersebut dan menanyakan pendapat orang-orang terdekat seperti para pengawal dan penghuni istana lainnya mengenai busana barunya itu. Para pengawal terlalu takut untuk mengatakan bahwa sebenarnya sang raja tidak mengenakan apa-apa alias bugil, maka para pengawal memuji bahwa “baju” sang raja sungguh indah. Begitu juga orang-orang istana lainnya. Mereka berpura-pura memuji sang raja.

Karena lingkaran terdekatnya sudah menegaskan akan keindahan “baju” barunya tersebut, maka sang raja tidak berpikir ulang untuk tampil di hadapan rakyatnya dengan busana tak kasat matanya tersebut. Di detik sang raja menampakkan diri, sontak rakyat terhenyak sejenak, tak percaya bahwa raja mereka tampil telanjang di depan umum. Kehenyakan tersebut tak berlangsung lama, karena selang beberapa detik rakyat terbahak-bahak menertawakan pemimpin mereka yang telanjang. Sang raja menyadari kebodohannya dan cepat-cepat menyingkir.

Dulu sewaktu kecil, saya tak pernah membayangkan bahwa suatu saat cerita tersebut akan menjadi nyata dalam sebuah drama kehidupan. Tak tanggung-tanggung, pemeran sang raja adalah presiden negara tempat saya tinggal. Yang lebih mencengangkan lagi, hal tersebut terjadi dua kali. Tak bisa dipercaya.

Saya kira kehebohan blue energy sudah cukup menggambarkan betapa pandirnya mereka itu. Air tanah yang bisa dikonversi menjadi minyak, lelucon yang lucu. Sekarang muncul lagi lawakan lain, padi varietas Super Toy yang bisa dipanen 3 kali sekali tanam. Keterlaluan.

Selidik punya selidik, ternyata banyolan blue energy dan guyon Super Toy muncul dari pelawak yang sama, staf khusus presiden dengan nama Heru Lelono. Ternyata Indonesia mempunyai Trofim Lysenko sendiri. Bapak Heru Lelono ini rupanya mempunyai khayalan yang luar biasa ciamik. Kabarnya ia sudah diberhentikan (atau mengundurkan diri? CMIIW) dari jabatannya. Saya ingin mengusulkan, mengingat daya khayalnya yang bersinggungan dengan dunia ilmiah, agar Pak Heru Lelono mempertimbangkan karir sebagai penulis novel sci-fi. Mungkin setelah sukses menjadi Trofim Lysenko, Heru Lelono bisa sukses juga menjadi seperti Michael Crichton.

Semoga setelah “air menjadi minyak” dan “padi yang bisa dipanen 3x” tidak muncul keajaiban-keajaiban lain yang terlalu lucu untuk terjadi, bahkan di negara seperti Indonesia.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , ,