
Pesawat Spanair yang mengangkut 150-an penumpang, termasuk seorang WNI bernama Ngoni Toka Rondonuwu (CMIIW) jatuh di Madrid, Spanyol. Penyebabnya belum diketahui. Tapi saya yakin anda tahu kenapa saya mengangkat isu ini. Betul, untuk membalas tudingan Uni Eropa bahwa maskapai penerbangan Indonesia tidak aman.
Bla bla bla. Sekarang Spanair yang dioperasikan oleh SAS (nope, bukan elite forcenya Inggris, tapi Scandinavian Airlines System, again CMIIW) jatuh dan menewaskan semua penumpangnya. Asal tahu saja, Spanair bukanlah first-class airline, tapi low-fare airline. Semodel sama Lion Air lah kalau di Indonesia. Pesawat yang digunakan MD-8 sekian pun dibeli tangan kedua dari Korean Airlines (Maskapai Eropa beli barang bekas dari perusahaan Asia. Hihihi).
Apa yang diklaim oleh Uni Eropa bahwa penerbangan maskapai Indonesia tidak aman karena tidak memperhatikan maintenance dan kebanyakan pesawat yang digunakan sekarang benar-benar terjadi. Ironisnya yang membuktikan ketakutan tersebut adalah maskapai Eropa sendiri.
What say you, EU?
Bila kita menilik lebih lanjut. Sebenarnya ketakutan Uni Eropa akan maskapai Indonesia terlalu berlebihan. Pada saat larangan diberlakukan, tidak ada satu pun maskapai Indonesia yang mempunyai rute penerbangan ke Eropa. Tidak juga Garuda Indonesia karena hanya Garuda yang mempunyai kemampuan untuk terbang ke Eropa (dan memang pernah memiliki rute ke Eropa).
Maskapai-maskapai low-fare seperti Lion Air atau Adam Air (Rest in Pissed) yang keamanannya dikhawatirkan barang tentu tidak terbang ke Eropa. Memang bukan Lion Air atau Adam Air (Rest in Pissed) yang jatuh, saudara-saudara. Tapi Spanair, maskapai Eropa sendiri. Tamparan yang keras dan telak. Sekeras tamparan kepada DPR pada saat mereka ingin menuntut Slank dan keesokan harinya Al-Amin Nasution ditangkap di Ritz Carlton.
What say you, EU?

