Tahun 2009 adalah tahun ganjil yang berarti tahun yang membosankan karena di pertengahan tahun tidak ada event sepakbola akbar seperti Piala Dunia ataupun Piala Eropa. Tapi tahun 2009, bangsa ini akan mengadakan pemilihan untuk mengangkat pemimpin mereka yang baru.
Gaung 2009 sesungguhnya sudah terdengar sejak awal tahun ini. Berbagai nama mengapung di permukaan. Nama-nama yang “elo lagi elo lagi” seperti Megawati, Amien Rais, Gus Dur, Wiranto, Prabowo Subianto, bahkan SBY tetap digadang-gadang sebagai calon presiden. Apakah kita belum cukup bosan dengan mereka?
Lalu tengoklah nama-nama baru yang masih malu-malu kucing untuk mengakui mereka mengidamkan kursi RI-1 tapi tindak-tanduknya menyiratkan demikian seperti Soetrisno Bachir, Rizal Malarangeng, atau juga jagoan PKS seperti Hidayat Nur Wahid. Walau relatif masih baru dan belum melekat di benak sebagian besar rakyat Indonesia, jikalau mereka benar-benar mencalonkan diri sebagai presiden nantinya, ini kan menghembuskan angin segar pembaharuan.
Selain nama-nama di atas yang bisa diperhitungkan, muncul juga nama-nama yang saya rasa cukup menggelitik untuk dikomentari seperti Kivlan Zen. Purnawirawan TNI ini mencalonkan diri sebagai calon presiden dari sebuah partai politik yang dimotorinya (saya lupa nama partainya). Bukannya merendahkan haknya untuk ikut berlomba dalam pemilu (setiap orang memiliki hak yang sama), tetapi who are you? Nama-nama yang tidak akrab di telinga masyarakat bahkan tidak memiliki peluang untuk mempunyai harapan.
Saya tidak tahu apakah nama Siti Hardiyanti Rukmana akan diusung lagi oleh PKPB sebagai calon presiden pada tahun depan. Menggelitik. Romantisme masa lalu yang terus diungkit-ungkit oleh barisan has been.
Nama Sri Sultan HB X setiap pemilu pasca 1999 selalu muncul sebagai kandidat capres. Saya sejujurnya sangsi dengan beliau ini. Memang, ia adalah Sultan Jogja yang konon katanya dicintai rakyatnya. Tapi apakah ia juga dicintai jutaan penduduk Indonesia? Sorry to say, tapi saya pikir ia over-rated.
Bekas Gubernur DKI Sutiyoso juga didengung-dengungkan akan ikut berpartisipasi dalam pilpres. Menilik umur dan track record, ia tidak bisa digolongkan sebagai pemain baru. Tetapi akan menjadi sesuatu yang lain bila ikut mencalonkan diri karena ia belum pernah bermain pada skala nasional sebelumnya. Bila ia menemukan kendaraan politik yang kuat, namanya bisa diperhitungkan. Tapi, meninjau kinerjanya sewaktu menjabat gubernur DKI, apakah rakyat Indonesia rela dipimpin lagi oleh pensiunan jenderal bertangan besi yang cuek terhadap keluhan masyarakatnya?
Lalu, siapa yang kau dukung wahai Pangeran yang tukang kritik?

Dengan jelas saya utarakan saya berada di belakang Fadjroel Rachman. Pilihan yang naïf mengingat ia tidak berasal dari partai politik sedang wacana calon perseorangan belum digolkan oleh Mahkamah Konstitusi. Apalagi orang-orang idealis macam Fadjroel biasanya akan dijauhi oleh mereka-mereka yang merasa kemapanannya terancam.
Tetapi, nurani saya mengatakan demikian. Lagipula hanya ia yang secara gamblang menyuarakan nasionalisasi semua perusahaan energi asing.
Saya bermimpi bung Fajdroel menjadi presiden dan wapresnya adalah Ichsanuddin Noorsy atau Kwik Kian Gie.
(Oh, bangunkan saya dari mimpi!!!)

