Aksara dan Aksioma

Entries from July 2008

Preseden Para Calon Presiden

July 25, 2008 · 17 Comments

Tahun 2009 adalah tahun ganjil yang berarti tahun yang membosankan karena di pertengahan tahun tidak ada event sepakbola akbar seperti Piala Dunia ataupun Piala Eropa. Tapi tahun 2009, bangsa ini akan mengadakan pemilihan untuk mengangkat pemimpin mereka yang baru.

Gaung 2009 sesungguhnya sudah terdengar sejak awal tahun ini. Berbagai nama mengapung di permukaan. Nama-nama yang “elo lagi elo lagi” seperti Megawati, Amien Rais, Gus Dur, Wiranto, Prabowo Subianto, bahkan SBY tetap digadang-gadang sebagai calon presiden. Apakah kita belum cukup bosan dengan mereka?

Lalu tengoklah nama-nama baru yang masih malu-malu kucing untuk mengakui mereka mengidamkan kursi RI-1 tapi tindak-tanduknya menyiratkan demikian seperti Soetrisno Bachir, Rizal Malarangeng, atau juga jagoan PKS seperti Hidayat Nur Wahid. Walau relatif masih baru dan belum melekat di benak sebagian besar rakyat Indonesia, jikalau mereka benar-benar mencalonkan diri sebagai presiden nantinya, ini kan menghembuskan angin segar pembaharuan.

Selain nama-nama di atas yang bisa diperhitungkan, muncul juga nama-nama yang saya rasa cukup menggelitik untuk dikomentari seperti Kivlan Zen. Purnawirawan TNI ini mencalonkan diri sebagai calon presiden dari sebuah partai politik yang dimotorinya (saya lupa nama partainya). Bukannya merendahkan haknya untuk ikut berlomba dalam pemilu (setiap orang memiliki hak yang sama), tetapi who are you? Nama-nama yang tidak akrab di telinga masyarakat bahkan tidak memiliki peluang untuk mempunyai harapan.

Saya tidak tahu apakah nama Siti Hardiyanti Rukmana akan diusung lagi oleh PKPB sebagai calon presiden pada tahun depan. Menggelitik. Romantisme masa lalu yang terus diungkit-ungkit oleh barisan has been.

Nama Sri Sultan HB X setiap pemilu pasca 1999 selalu muncul sebagai kandidat capres. Saya sejujurnya sangsi dengan beliau ini. Memang, ia adalah Sultan Jogja yang konon katanya dicintai rakyatnya. Tapi apakah ia juga dicintai jutaan penduduk Indonesia? Sorry to say, tapi saya pikir ia over-rated.

Bekas Gubernur DKI Sutiyoso juga didengung-dengungkan akan ikut berpartisipasi dalam pilpres. Menilik umur dan track record, ia tidak bisa digolongkan sebagai pemain baru. Tetapi akan menjadi sesuatu yang lain bila ikut mencalonkan diri karena ia belum pernah bermain pada skala nasional sebelumnya. Bila ia menemukan kendaraan politik yang kuat, namanya bisa diperhitungkan. Tapi, meninjau kinerjanya sewaktu menjabat gubernur DKI, apakah rakyat Indonesia rela dipimpin lagi oleh pensiunan jenderal bertangan besi yang cuek terhadap keluhan masyarakatnya?

Lalu, siapa yang kau dukung wahai Pangeran yang tukang kritik?

Dengan jelas saya utarakan saya berada di belakang Fadjroel Rachman. Pilihan yang naïf mengingat ia tidak berasal dari partai politik sedang wacana calon perseorangan belum digolkan oleh Mahkamah Konstitusi. Apalagi orang-orang idealis macam Fadjroel biasanya akan dijauhi oleh mereka-mereka yang merasa kemapanannya terancam.

Tetapi, nurani saya mengatakan demikian. Lagipula hanya ia yang secara gamblang menyuarakan nasionalisasi semua perusahaan energi asing.

Saya bermimpi bung Fajdroel menjadi presiden dan wapresnya adalah Ichsanuddin Noorsy atau Kwik Kian Gie.

(Oh, bangunkan saya dari mimpi!!!)

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,

Warhol dan Desakralisasi

July 18, 2008 · 6 Comments

Artikel di bawah ini juga dimuat dalam sindikasi blog kacamata kita. Pemuatan ini untuk tujuan promosi blog kacamata kita

——————————–

Sejak seorang seniman homoseksual bernama Andy Warhol memperkenalkan modern pop art dengan kaleng-kaleng kacang dan minuman sebagai objeknya, maka apa yang disebut era modern pop art dimulai.

Dampaknya sampai sekarang bisa dilihat. Tengok saja para remaja pengunjung mall-mall di ibukota. Anda akan mendapati mereka dalam balutan kaus bersablonkan logo “Burger King”, “Starbucks”, sampai cokelat macam “Snickers”. Saat ditanya alasan mereka menjadi serupa dengan papan iklan berjalan tersebut,

mereka berujar singkat, “kausnya keren”.
“Apanya yang keren?”
“Pokoknya keren.”

Padahal, tidak ada keren-kerennya memakai kaus bersablon merek-merek komersial seperti di atas. After all, anda tidak dibayar kan oleh pemilik brand tersebut untuk memakai kaus tersebut. Jadi bayangkan bahagianya para manager lokal mendapati seorang cowok yang memesan Whooper mengenakan kaus bersablon logo “Burger King”.

Pembaharuan seni gaya Warhol mempunyai implikasi lain: desakralisasi. Lihat saja bagaimana kaos dengan potret muka Che Guevara melekat di tubuh so-called anak-anak gaul atau lambang palu arit bersayapnya Aeroflot yang dijadikan logo salah satu tas distro. Juga artwork wajah Mao Zedong yang gemar dipakai oleh mereka-mereka yang sangat mungkin belum pernah mendengar Revolusi Kebudayaan.

Kultur Pop menghipnotis semua orang (baca: remaja dan early 20s) untuk turut berpartisipasi dalam sebuah tradisi: pakailah apa dipakai orang lain, karena menjadi berbeda itu berarti “cupu”, jangan tanya apa arti lambang itu, pokoknya anda terlihat keren.

Sebetulnya definisi dari keren-kerenan menurut budaya pop sungguh lebih kepada bagaimana orang lain menilai apa yang anda pakai (Hey, that’s why they called it Pop). Keren bukan an sich karena anda menilai baju anda keren, tapi karena orang lain mengatakannya demikian.

Kembali kepada masalah desakralisasi. Ini sedemikian parahnya sehingga bisa saja bermodal dreadlocks yang mungkin hasil jahitan, seseorang mengklaim dirinya seorang Rastafarian (padahal kaya katanya Irfan, kalau sakit masih berobat ke dokter. Hihi.).

Salah satu fenomena abad 20, kotak ajaib bernama televisi turut “mensukseskan” proses desakralisasi ini. Apa saja yang nampak di layar kaca, langsung ditiru khalayak ramai. Lucu sekali kalau mengingat bagaimana tiba-tiba setiap siswa SMA merasa dirinya pujangga selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta? Buku-buku Chairil Anwar mendadak jadi barang buruan (Padahal buku yang dipakai dalam adegan AADC adalah karangan Sjumandjaja).

Kultur pop acapkali mengingkari makna. Hakikat bisa dilucuti dan digantikan baju baru bernama komersialisasi. Tidak heran anda akan mendapati sepotong kaos Che berharga Rp. 250.000 di Cherokee atau sehelai keffiyeh dengan bandrol lebih dari Rp. 100.000 di Topshop.

Ernesto Guevara dan Yasser Arafat mungkin akan berontak dari dalam kubur bila melihat fakta ini. Ironis.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Hikayat Tangan Kiri

July 14, 2008 · 8 Comments

Orang Indonesia yang katanya Berketuhanan Yang Maha Esa itu memang suka sekali melangkahi wewenang Tuhan. Bahkan menistakan ciptaan-Nya.

Tidak saya tidak sedang membahas pemaksaan agama tertentu. Saya sedang membahas mengenai tradisi konyol orang Indonesia yang menistakan tangan kiri.

Sewaktu SD, bila guru IPS memberikan pertanyaan, saya yang gemar pamer wawasan ini sering sekali mengajukan diri untuk menjawab dengan mengacungkan jari. Tapi guru saya tersebut acap kali mengacuhkan saya karena saya mengangkat tangan kiri. Sang guru menyuruh saya untuk ganti mengangkat tangan kanan dahulu baru saya diberikan kesempatan menjawab. Apa-apaan?

Di Padang, angkot tidak menepi mengangkut anda bila anda memanggil dengan tangan kiri. Harus tangan kanan. Saya belum pernah melihat kejadiannya. Tapi saya rasa akan kaku sekali mengingat arah kendaraan datang berlawanan dengan pandangan mata anda. Untuk memanggil angkot dengan tangan kanan saya pikir sama kakunya dengan berjalan kaki kiri melangkah seiring ayunan tangan kiri ke depan.

Sejak kecil, anak-anak diajar untuk menyalam dengan tangan kanan. Untuk makan harus dengan tangan kanan. Mengacung jari di kelas harus dengan tangan kanan. Tangan kiri dicap haram untuk digunakan. Bahkan yang paling konyol pernah saya dengar adalah untuk melambai tangan selamat tinggal harus memakai tangan kanan.

Apa yang salah dengan tangan kiri? Pemahaman umum mengatakan bahwa tangan kiri dipakai untuk cebok, oleh sebab itu tidak sopan untuk digunakan. Sebagian lain mengatakan itu adalah tradisi turun-temurun rakyat Indonesia tanpa musabab yang jelas. “Udahlah Pang, terima aja.”, begitu kata teman-teman saya. Saya menolak.

Bila menggunakan tangan kiri untuk berinteraksi, terlebih kepada orang yang lebih tua, maka akan dituding tidak sopan.

Saya katakan, orang yang mengatakan tidak sopan untuk menggunakan tangan kiri sebenarnya lebih tidak sopan kepada Tuhan Sang Pencipta.

Sejak kapan Yang Maha Kuasa menciptakan tangan kiri lebih hina dari tangan kanan?

Categories: Uncategorized
Tagged: ,

Kepada Tim Antarmuka ITB

July 14, 2008 · 2 Comments

Walaupun agak terlambat, ucapan selamat tetap saya sampaikan kepada Tim Antarmuka ITB yang menjadi pemenang Imagine Cup kategori Rural Innovation melalui karya mereka, Butterfly.

Sebagai warga dari negara yang jarang menjadi pemenang (kecuali lomba korupsi dan kompetisi membual), sewajarnya saya bangga kepada anak-anak ITB tersebut, terlebih salah satu dari anggota tim, Ella, adalah teman saya semasa SMA.

You guys do us proud!

Categories: Uncategorized
Tagged: ,

Pria-Pria Bersafari

July 10, 2008 · 6 Comments

Kemarin saya dan beberapa teman beranjangsana di Senayan City yang hanya sepelemparan batu dari kampus kami (sepelemparan batu dalam arti denotasi, coba saja. Hehe). Saat sedang berbincang-bincang di Starbucks (nope, saya gak beli, teman saya yang beli, ga kuat bayarnya), tiba-tiba serombongan bapak-bapak bersafari datang dan mengambil tempat persis di sebelah kami. Dalam benak saya terlintas, “Huh…. Birokrat”.

Cukup banyak jumlah orang dalam rombongan tersebut, sekitar 10 orang. Mereka membagi diri dalam 2 meja, yang satu lebih banyak dari yang lain. Meja yang lebih banyak ditempati beberapa bapak-bapak bersafari, dua orang bapak berbaju kasual beretnis Tionghoa, dan seorang bapak paruh baya yang perutnya luar biasa gembul. Meja yang lainnya ditempati kurang lebih 3-4 orang yang salah satunya berperawakan tegap dengan rambut cepak. “This must be the bouncer section“, batin saya.

Teman saya Qoffa langsung berujar, “Wuih, ngeliat orang-orang bersafari gini lg ngumpul-ngumpul, asyik banget kalau tiba-tiba ada 3 Innova tiba-tiba datang terus dari dalam mobil keluar anggota KPK dan menangkapi mereka”. Saya langsung tertawa lebar.

Lalu saya dan Qoffa mengobrol ngalor ngidul kemana-mana soal safari, BIN, KPK, dan entitas pemerintah lainnya. Dari mulai analisa asal-asalan seperti, “Intel ga mungkin pake safari ya. Kan ntar jadi mencolok”, sampe yang mulai-mulai ngaco seperti, “Eh, kita bikin jaket sablonan KPK yo, trus jalan-jalan ke mall sambil naro headset wireless di kuping”.

Tanpa saya sadari rupanya oknum-oknum yang duduk di bouncer section mendengar obrolan saya dengan Qoffa. Mereka diam-diam menyimak obrolan kami. Yang tak mereka tahu adalah (karena saya pengagum Carl Bernstein) bahwa saya juga diam-diam menyimak pembicaraan para pria bersafari di meja sebelahnya (Hehe). Tak banyak yang saya dengar, karena selain mengobrol dan menyimak, perhatian saya juga terbagi kepada sepasang sejoli yang bermesraan di teras Izzi Pizza dengan mesranya layaknya film Prancis (Kalau kata Toby, “Please, get yourselves a room).

Tapi yang saya dengar dengan pasti dan jelas adalah salah seorang yang bersafari berkata, “Kalau sekarang-sekarang jangan pakai telepon deh, lagi ga aman” (Saya tak suka Antasari Azhar, tapi “Hidup KPK!!”).

Saat waktunya untuk cabut dari Starbucks, orang-orang di meja sebelah kami itu menatap kami dengan sorotan mata yang tajam, apalagi yang duduk di bouncer section. Saya hanya ingin tahu ekspresi mereka selanjutnya andaikata kami memang benar-benar orang KPK. Haha.

*Maaf tidak ada foto. Sebenarnya saya berhasil menjepret beberapa, tapi karena hasilnya tidak maksimal, jadi tidak saya sertakan di sini.

Categories: Ecrasez l'infame
Tagged: , , ,

“Isi Facebook Gue yah….!!!”

July 8, 2008 · 4 Comments

Baru saja seorang teman lama menyuruh saya untuk mengisi banyak-banyak di berbagai aplikasi facebook yang menghiasi profilenya seperti nickname, idescribe, ithink, dan sebagainya.

Saya hanya berpikir singkat, apa-apaan ini? Hehe. Sejarah selalu berulang (lagi-lagi saya mengatakan ini), sama seperti fenomena tahun 2003an dimana orang meminta, bahkan setengah memaksa temannya untuk mengisi testimonial banyak-banyak di profile Friendsternya.

Aktualisasi diri melalui jejaring sosial di dunia maya seperti facebook dan friendster nampaknya menjadi kewajiban bagi pemuda-pemudi di seluruh dunia. Ck ck ck. Celakanya yang tidak mengaktualisasi diri melalui situs jejaring sosial dicap “cupu”.

Saya teringat teman saya dulu waktu SMA, Petra Novandi, yang mengeluh karena dirinya dianggap “nggak gaul” karena tidak memiliki account Friendster.

“Gimana bisa mereka bilang gue ga gaul, ya ampunnn”, tukas Petra, yang mahasiswa IT ITB dan pernah mengikuti seleksi Tim Olimpiade Komputer Indonesia itu.

Entah kenapa kalau mengingat itu saya selalu tertawa.

Categories: Uncategorized
Tagged: ,

Unsecured Parking

July 8, 2008 · 3 Comments

Semua orang tahu, perparkiran menjadi sebuah komoditas ekonomi yang menggiurkan. Dari mulai pinggiran Jatinegara yang semrawut sampai parkiran mewah di Senayan City, lahan parkir menjadi sumber pemasukan yang besar.

Terlebih pada segmen parkir di bangunan-bangunan mewah di mana anda akan melihat nama-nama seperti “Secure Parking” setiap kali anda hendak mengambil tiket. Dua ribu rupiah untuk setiap jam anda “menitipkan” mobil anda dan bayangkan saja ada berapa banyak mobil yang terparkir sekian lama setiap harinya. Kelebihan 3 menit pun tidak ditolerir sehingga anda wajib membayar biaya untuk 1 jam. Agak mengesalkan.

Tetapi ada hal lain yang lebih mengesalkan, yaitu disclaimer setiap pengelola lahan parkir yang tertulis di balik tiket yang mengatakan bahwa pihak pengelola tidak bertanggung jawab atas kehilangan dari pemilik kendaraan. Bagaimana bisa ada klausul tolol seperti itu? Apa gunanya kita membayar parkir, menitipkan kendaraan kita di sana, dan pihak pengelola tidak bertanggung jawab atas pencurian yang terjadi pada areal parkir? Ironis dan miris mengingat bisa saja pengelola parkir tersebut bernama “Secure Parking“.

Apanya yang secure, pak?

Saya rasa harus diadakan class action dari masyarakat untuk menggugat klausul pengelola parkir yang seenaknya ini.

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,

Merendahkan Yang Maha Tinggi

July 4, 2008 · 1 Comment

Tulisan di bawah ini adalah karya saya yang turut dimuat di sindikasi blog Kacamata Kita. Pemuatan ini sekaligus untuk mempromosikan sindikasi blog tersebut.

——————————–

Adakah yang menyadari bahwa Inkuisisi abad pertengahan di Eropa terjadi dalam rupa yang berbeda di Indonesia? Dahulu, mereka memburu dengan api, cambuk, pedang, memaksa orang-orang yang mereka katakan bidat untuk berpaling dari kepercayaan yang terpaksa mereka tebus dengan darah.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi pada masa medieval, reinkarnasi inkuisitor memburu mangsa mereka dengan pedang dan parang, membakar dengan api, menutup tempat kediaman Tuhan dengan segel manusia. Sejarah memang berulang. Selalu.

Agama adalah candu. Menyebabkan para pecandunya mengalami halusinasi tingkat lanjut yang kadang menyebabkan mereka berpikir mereka adalah Tuhan. Menyebabkan toleransi melenyap, penolakan keberagaman. Xenophobia. Cemas akan sesuatu yang mengancam kelangsungan iman mereka. Patut dipertanyakan, bagaimana mereka sampai menyebutnya iman.

Para pecandu agama, para inkuisitor itu, mereka tidak hanya orang-orang yang bergelut dengan pedang dan parang. Sesungguhnya mereka juga hadir dalam baju yang berbeda. Dalam balutan jas. Pendekatan yang berbeda. Mereka hadir tidak dengan parang atau kelewang, tapi dengan uang dan mie instan sekeranjang. Mereka melecehkan Sang Khalik dengan membuat orang mengingkari iman demi perut, memaksakan kepercayaan dengan makanan. Memalukan.

Apa yang kau banggakan bila kau mengkonversikan orang lain ke agamamu dengan pemaksaan, apa pun bentuknya. Tidak percayakah engkau bahwa Yang Maha Kuasa dapat menjamah hati mereka tanpa memerlukan bantuan pedang dan uangmu?

***

Para inkuisitor, self-proclaimed God’s personal bodyguard, pendekatan mereka dapat berbeda, tujuan mereka satu: Memaksa.

Iman bukanlah paksaan.

Maka……

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan pedang, parang, dan batu.

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan indomie, beras, dan uang saku.

Terkutuklah mereka yang menjadikan agama sebuah komoditas.

Terkutuklah mereka yang bertingkah seolah-olah Dia yang omnipotent telah menjadi impoten.

Categories: Uncategorized

Empat Episentrum Korupsi Indonesia

July 1, 2008 · 7 Comments

Masih beranikah DPR mempermasalahkan lagu Slank yang mereka tuduh menghina kedudukan mereka sebagai dewan yang (katanya) terhormat?

Satu lagi anggota DPR tertangkap, Bulyan Royyan dari F-BR, diciduk KPK karena terbukti menerima suap dalam kasus pengadaan kapal.

Saya tidak akan membahas penangkapan itu. Sudah terlalu banyak anggota DPR yang tertangkap. Bosan saya menulisnya.

Yang menarik adalah komentar Denny Indrayana, pengamat anti korupsi dari UGM. Dalam program berita di TV One, ia mengatakan:

Ada 4 pusat korupsi di Indonesia: Istana (ring satu lingkar kekuasaan), Cendana (ring satu lingkar kekuasaan masa lalu), Senjata (korupsi yang menyangkut militer), dan Pengusaha Naga (para konglomerat hitam). Barang siapa yang berani menyentuh mereka, maka akan diarsenik…..akan di-munir-kan……

Ecrasez l’infame!!!!

Categories: Uncategorized
Tagged:

Mengingat-ingat Rizal Ramli

July 1, 2008 · 20 Comments

Beberapa hari ke belakang ini, nama Rizal Ramli kembali mengapung ke permukaan. Tiba-tiba saja ia muncul sebagai ketua Komite Bangkit Indonesia dan mengkritik segala macam kebijakan pemerintah. Namanya dituding berada di balik berbagai aksi demonstrasi di ibukota.

Dituduh demikian, bukannya gentar, ia malah berada di barisan depan bergabung dengan mahasiswa dan elemen masyarakat menyatakan ketidaksukaannya pada pemerintah dan segala macam kebijakan mereka yang dinilai menyusahkan rakyat.

Dalam beberapa konferensi pers, ia terang-terangan menyatakan ketidakmampuan duet SBY-JK dalam menghadapi persoalan bangsa, terutama mengenai kenaikan harga BBM. Rizal Ramli, orang yang pada awal tahun 2000-an menghiasi berbagai media massa dan meredup seiring bergantinya kekuasaan dari Gus Dur ke Megawati, tiba-tiba memancarkan sinarnya lagi. Bersama sekjennya, Ferry Yuliantono, yang telah ditangkap beberapa hari lalu, ia dan Komite Bangkit Indonesia yang dipimpinnya menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Secara personal, tentu saja saya mendukung segala macam bentuk resistensi terhadap kebijakan pemerintah, terlebih mengenai kenaikan harga BBM yang jelas-jelas ngaco. Tapi, saya tidak lupa siapa Rizal Ramli dan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Masih segar dalam ingatan saya apa saja yang ia perbuat pada waktu menjabat sebagai Menko Ekuin, di mana dirinya pun terlibat sejumlah skandal.

Yang menjadi keheranan saya, tampaknya tidak banyak yang mengingat track record bung Rizal ini di masa lalu. Tiba-tiba saja ia muncul dan masyarakat luas hanya memandang ia sebagai Rizal Ramli, ketua Komite Bangkit Indonesia, yang berdemo menentang pemerintah membawa amanat rakyat, dan melupakan Rizal Ramli, Menko Ekuin era Gus Dur, yang tak lepas dari cela.

Sekali lagi dapat dilihat bahwa orang Indonesia begitu permisif dan pelupa. Mengingat begitu banyak orang yang memandang Orde Baru sebagai pahlawan padahal pada masa 32 tahun mereka menggerogoti fondasi negeri ini, tidak heran orang lupa pada Rizal Ramli yang cuma 7-8 tahun lalu.

Categories: Uncategorized
Tagged: , ,