Aksara dan Aksioma

Entries from May 2008

Batak Memukul Batak

May 30, 2008 · 4 Comments

Terjawab sudah teka-teki siapa yang memukul polisi pada demonstrasi Selasa malam di depan kampus Univ. Moestopo.

Melalui pengamatan rekaman video televisi, didapati bahwa sang pemukul bernama John Sembiring, mahasiswa angkatan 97 (buset dah) yang DO dari UIJ (Universitas Islam Jakarta). Saya sendiri baru mendengar ada UIJ, kalau UIN, iya saya tahu.

Si John ini tertangkap kamera memukul Ipda Henryco Manurung dan memprovokosi massa demonstran untuk turut mengeroyok amang Henryco. Si John ini rupanya sudah bereputasi sebagai provokator di berbagai aksi demonstran yang berujung pada kericuhan.

Dengan ini jelas sudah bahwa yang memukul polisi bukan mahasiswa Moestopo. Saya sendiri ragu kalau mahasiswa Moestopo bisa-bisanya memukul polisi. Hehe.

Si John ini sekarang menghilang entah kemana dan sedang dalam proses pencarian oleh polisi. Yang mencari pun tidak tanggung-tanggung, Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Si John, oleh polisi, dianggap teroris rupanya. Selain Densus 88, mungkin saja ada pihak lain yang turut menguber-uber si John seperti Punguan Marga Manurung se-Jakarta misalnya. Hehe.

Kepada bung Martin yang tipe manager hit n run (setidaknya dlm hal blogging), ini jawaban paling tepat atas tudingan anda.

PS: tito, klo yg mukulin polisi namanya John Batubara gimana?

Categories: Uncategorized

M:martin dan M:moestopo

May 29, 2008 · 13 Comments

Saya habis baca detik.com. Dengan ini saya sebagai seorang yg peduli terhadap negara ini menyampaikan penyesalan terhadap mahasiswa2 Moestopo yg notabene beragama….Polisi berumur 40 tahun menjadi korban aniaya kalian mahasiswa yang katanya penerus bangsa atau akan menjadi sampah bangsa?

Saya dulu jg aktivis di sebuah universitas negeri terkenal di Jakarta…dan saya tau apa arti demo itu…dillema antara hati nurani dan uang jajan 20rb dari penyokong dana demo….

kebetulan saya adalah seorang HRD manager di sebuah perusahaan di bilangan sudirman, dan hari ini dan seterusnya saya akan lebih menyeleksi orang2 yg melamar selain dari Moestopo dan Unas….dimanakah logika dan hati kalian dalam proses pembelajaran?

Tulisan di atas adalah komentar di artikel “Ujian Seharga Pizza” dari seorang bernama Martin. Menarik untuk digarap lebih lanjut daripada saya biarkan tak terbaca di barisan komentar, makanya saya jadikan artikel tersendiri.

Demonstrasi yang terjadi pada selasa malam di depan kampus Moestopo memang mengundang kontroversi karena terjadi pemukulan (radio Elshinta mengatakan, penendangan) terhadap seorang polisi yang sudah berumur. (Berumur atau tidak, katanya polisi adalah pengayom rakyat).

Yang ingin pertama-tama saya sampaikan ke saudara Martin (dan orang” lain yang sering bertamu ke laman ini), kalau ingin menjelek-jelekkan Moestopo, anda salah tempat, karena saya akan berada di pihak anda juga (lha, emang begitu kenyataannya, masak saya mau memungkiri sesuatu yang benar?).

Tapi biarpun begitu, ada juga hal-hal yang perlu saya kemukakan. Tidak semua mahasiswa yang berdemo di depan kampus Moestopo pada selasa malam itu adalah mahasiswa Moestopo. Ada juga mahasiswa dari kampus lain dan elemen masyarakat. Saya ga mengelak atau bagaimana ya, tapi hanya mengutarakan fakta saja.

Saya sih sejalan sebangun dengan pendapat saudara Martin kecuali dalam beberapa kalimat:

kebetulan saya adalah seorang HRD manager di sebuah perusahaan di bilangan sudirman, dan hari ini dan seterusnya saya akan lebih menyeleksi orang2 yg melamar selain dari Moestopo dan Unas….dimanakah logika dan hati kalian dalam proses pembelajaran?

Pernyataan yang ditebalkan di atas secara literal berarti saudara Martin akan menyeleksi orang-orang yang bukan lulusan Moestopo atau UNAS yang hendak melamar ke kantornya. Ia tidak menjelaskan apa yang hendak ia lakukan dengan mahasiswa Moestopo dan Unas.

Tapi saya yakin dengan kalimat-kalimat saudara Martin yang sedari awal mengkritik Moestopo, tentunya maksudnya adalah bahwa saudara Martin tidak akan menerima lulusan Moestopo atau UNAS yang melamar di kantornya. Saya yakin ia salah ketik karena apa yang ia tuliskan secara bahasa adalah salah (kalau memang demikian apa yang ia maksud).

Tentunya saya menyesalkan pernyataan saudara Martin, yang lulusan Universitas negeri terkemuka di Jakarta, karena men-generalisasi semua mahasiswa Moestopo sebagai penggebuk polisi dan sampah bangsa (sebenarnya “sampah bangsa” bisa kontekstual bila dilihat dari sudut pandang “lain”. Hehe). Berarti anda juga terinfeksi oleh virus menyamaratakan aka generalisasi yang menjadi salah satu sifat khas orang Indonesia. Hanya 50 dari ribuan mahasiswa Moestopo yang berdemo pada hari Selasa malam (belum lagi dikurangi jumlah mahasiswa non Moestopo).

Tapi jikalau memang saudara Martin bersikukuh pada pendapatnya, tentunya saya tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saudara Martin bisa memberitahukan apa nama perusahaan tempat saudara Martin bekerja supaya saya buat pengumuman gede-gede di kampus agar lulusan Moestopo tidak usah melamar kerja ke tempat Bung Martin karena sudah pasti tidak akan diterima.

PS: Email anda benar-benar martin@yahoo.com? wah, saya kagum kalau itu benar.

Categories: Moestopo Undercover
Tagged: , , , , , , ,

Untuk Para Imperialis Global

May 15, 2008 · 2 Comments

Saya bukanlah orang yang gemar menyalin mentah-mentah tulisan dari sumber selain otak gue dan meletakkannya di laman ini.

Tapi kutipan berikut dari Augusto Nicolás Calderón Sandino, seorang revolusioner Nikaragua dan pemimpin pemberontakan terhadap kehadiran tentara AS di tanah kelahirannya pada awal abad ke-20, terlalu luar biasa untuk tidak saya cantumkan di blog ini.

Come on you pack of drug fiends, come on and murder us on our own land. I am waiting for you on my feet at the head of my patriotic soldiers, and I don’t care how many of you there are. You should know that when this happens, the destruction of your mighty power will make the Capitol shake in Washington, and your blood will redden the white dome that crowns the famous White House where you plot your crimes.

 

Categories: Uncategorized
Tagged: , , , ,

Ujian Seharga Pizza

May 15, 2008 · 6 Comments

Lokasi: Fast Eddie’s, Hang Lekir

Waktu: Sekitar Setengah 12 siang

Saya baru saja menyelesaikan kelas Manajemen Industri Media Cetak dan langsung menuju Fast Eddie’s karena kebetulan sedang membawa laptop. FYI, perbandingan harga makanan:kualitas makanan:kecepatan internet access di tempat ini memang bagus sehingga secara rutin saya menyambangi Fast Eddie’s, terlebih bila sedang ingin memancing file audio dari empang raksasa internet.

 

Secara kebetulan, saya bertemu dengan seseorang yang saya tidak tahu namanya tetapi kami bertegur sapa karena kami sekelas di Manajemen Industri Media Cetak dan kami baru saja mengikuti ujian susulan bersama untuk mata kuliah yang sama. Ia tidak mengikuti ujian karena menderita DBD pada hari UTS, sedang saya berhalangan karena mengikuti sebuah seleksi yang diadakan Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta.

a

Si oknum ini bertanya kepada saya apakah saya mengenal dosen X (nama dosen disamarkan bukan karena alasan etis, tetapi karena saya memang tidak ingat siapa nama yang ia sebutkan). Saya menjawab tidak tahu. Lalu orang ini berujar lebih lanjut, “Dia (si dosen X) minta dibeliin pizza jamur sebagai ganti ujian susulan. Gue ga usah ujian susulan klo gue ngasih pizza jamur.”

 

Saya hanya tersenyum goblok sambil menggumam dalam hati, “moestopo, oh moestopo”.

 

 

Categories: Moestopo Undercover
Tagged: , , , , ,

8 PM on Friday Night

May 13, 2008 · Leave a Comment

In times like these, there’s no better thing to be reminisced than those lovely vesper nights. The atmosphere, the warmth, the joy that spread among others, it’s just too exquisite to be forgotten.

There’s a moment when we used to worship together and shared how God had been so good to every single one of us.

There’s a moment when we used to sing together from those bundled papers and learned few songs that we didn’t knew.

There’s a moment when we used to give testimonials about our struggles holding to our faith and glad knowing we’re not the only few.

There’s a moment when we used to rehearse the song that we were going to sing the day after and crumbled about who’s going to take the solo part.

There’s a moment when we used to eat short cakes after the worship and had a chit-chat at the same time.

There’s a moment when we used to hang up late in the church just because we found it comfortable and go home just because it was already 10 pm.

There’s a moment when we feel we’re related each other and treated each other like one big happy family.

But,

There’s a moment when the warmth grown colder, the joy fell from the limelight, the harmony faded away, and the vesper didn’t even exist anymore.

Here I found myself, alone at home, 8 pm on Friday

Categories: It's all about belief
Tagged: , , ,