Aksara dan Aksioma

Entries from February 2008

They Dont Wanna Know Indonesia

February 26, 2008 · 7 Comments

Pemerintah menetapkan tahun 2008 sebagai Visit Indonesia Year, yang berarti sektor pariwisata akan diberikan perhatian ekstra. Sebagai negara kepulauan yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke, hanya Bali yang dikenal dengan baik oleh dunia. Sampai-sampai di beberapa buku panduan wisata, perlu ditekankan bahwa Bali adalah bagian dari negara Indonesia, bukan negara sendiri!

 

Belum jelas bagaimana program pemerintah dalam menjalankan Visit Indonesia Year ini, tetapi belum habis 1 kuartal, kampanye yang buruk telah terjadi. Jakarta bukan Venezia, tetapi beberapa minggu silam, Jakarta tak ubahnya kota air, hanya kurang gondola.

 

Saya melihat sendiri bagaimana satu keluarga asing terpaksa menumpang gerobak dorong agar dapat dievakuasi dari Kelapa Gading, kawasan langganan banjir karena developer daerah elite tersebut seperti tidak tahu kalau beton tidak bisa menyerap air. Peristiwa itu terjadi beberapa saat sebelum saya melihat bagaimana Hotman Paris Hutapea, pengacara gondrong yang sangar itu rupanya pengecut karena tidak berani menerobos banjir, padahal ia mengendarai Hummer H2 yang telah teruji di perang teluk.

 

Genangan air yang tinggi juga terdapat di jalan tol menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, gerbang utama republik ini. Tak pelak lagi, penundaan jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat terjadi. Bisa dibayangkan bagaimana wisatawan asing terjebak di bandara dan terpaksa mengatur ulang jadwal mereka? Belum lagi penderitaan penduduk lokal yang menunggu berjam-jam dan celakanya tidak ada penggantian tiket mereka yang hangus.

 

Saya berpikir liar apa lebih baik banjir di Jakarta dijadikan wisata air sehingga para turis dapat merasakan mengayuh perahu karet di jalan-jalan protokol ibukota negara!

 

Minggu lalu, kabar menyesakkan datang lagi. Kali ini dari PLN. Kebutuhan energi Jawa Bali terlalu besar sedangkan suplai kurang. Akibatnya pemadaman bergilir terpaksa dilakukan. Ada apa dengan komitmen PLN untuk mengalirkan listrik ke seluruh pelosok Nusantara? Buat apa menjulurkan kabel-kabel ke seantero negeri tapi aliran listriknya terputus-putus?

 

Fenomena listrik “byar-pet” menyebabkan sebagian daerah terang benderang sedang daerah lainnya gelap gulita. Alangkah sialnya bila di daerah yang gelap gulita terdapat wisatawan-wisatawan asing yang akan menyebabkan mereka berpikir Indonesia masih ketinggalan 1 abad.

 

Lepas dari kejadian alam, masih banyak faktor-faktor lain yang sangat mungkin akan mengubah program pemerintah tersebut menjadi “Don’t Visit Indonesia Year”. Bagaimana dengan pelayanan terhadap para turis? Sudah rahasia umum bahwa Bandara di Indonesia merupakan salah satu bandara terkorup dengan banyaknya pungutan liar (dalam segala kategori, Indonesia bisa ditemukan pada peringkat-peringkat atas urusan korupsi).

 

Bagaimana dengan transportasi? Kemacetan Jakarta yang gila-gilaan akan membuat pelancong dari mana pun kapok dan tidak ingin lagi datang ke sini.

 

Peristiwa- peristiwa di atas menjadi kampanye yang sangat buruk bagi program Visit Indonesia Year 2008 di awal tahun. Celakanya, kampanye buruk ini tidak datang dari pihak eksternal melainkan dari dalam negeri sendiri. Kita mafhum, kita memang suka menjelek-jelekkan diri sendiri.

 

Dengan berbagai alasan di atas, bisa dipastikan turis akan malas datang ke Jakarta dan memilih langsung ke Bali, yang berarti Visit Indonesia Year 2008 terancam gagal.

 

Pandji Pragiwaksono yang akan menelurkan album rap sebentar lagi mempunyai lagu yang berjudul “You Think You Know Indonesia”, yang bertujuan untuk memberitahu orang luar bahwa Indonesia bukan cuma Bali. Sayangnya, kemungkinan semua orang asing akan membalas, “I DON’T wanna know Indonesia, just give me Bali!”

 

 

Categories: Uncategorized

Multi Lies Marketing

February 11, 2008 · 19 Comments

Adakah yang lebih menyebalkan sekarang ini daripada didatangi seorang “aktivis” MLM yang hendak melakukan presentasi dalam rangka mencari downline?

 

Saya masih ingat tahun lalu, seorang teman SMA yang mempunyai reputasi seorang entrepreneur menelepon saya. Ia bertanya kapan saya punya waktu, ia ingin berbincang-bincang. Tentu saya sangat senang sekali karena si teman ini tersohor bisa menghasilkan uang dari mana saja, legal mau pun setengah ilegal (yeah!).

 

Esoknya ia menetapkan Gramedia Matraman sebagai meeting point. Sesampai di sana, perasaan saya agak kurang enak melihat ia bersama seorang wanita dengan setelan kemeja putih-celana hitam-tas kerja selempang, seragam kebesaran “aktivis” MLM. Dugaan saya tidak salah, mereka berdua memang mengikuti MLM “T”.

 

Teman saya yang dulunya gemar berwirausaha rupanya tercemplung dalam kolam MLM, di mana air kolam tersebut sudah keruh karena kandungan kotorannya telah mencapai titik jenuh. Ia sekarang menjadi downline dari teman wanitanya yang berseragam kebanggaan seluruh “aktivis” MLM itu.

 

Lalu mereka berdua mulai berkhotbah mengenai Cashflow Quadrantnya Robert Kiyosaki dan bagaimana MLM adalah sebuah implementasi sempurna dari teori tersebut. Saking semangatnya mereka bercerita, saya menduga mereka baru membaca Cashflow Quadrant kurang dari setahun lalu, buku yang sudah saya habis baca pada saat SMP, 7 tahun lalu.

 

Mereka juga menyinggung mengenai jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) yang langka dalam masyarakat Indonesia. Hal yang saya amini namun berbalik jijik saat mereka bersikeras MLM adalah sebuah bentuk wirausaha. Mereka menyajikan fakta bahwa lulusan perguruan tinggi sekarang sulit mencari kerja dan mengklaim bahwa MLM merupakan solusi dari minimnya lapangan kerja! Menakjubkan! (my ass…)

 

Saya tak pernah suka pada MLM sejak kemunculannya di Indonesia. Berapa banyak orang yang telah mencoba MLM dan gagal? Tapi masih ada saja yang ingin mengikuti. Kenapa? Karena MLM sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia: malas. Iming-iming meraih sekian juta per bulan tanpa melakukan apa-apa membuat orang ramai-ramai mendaftarkan diri di berbagai MLM. Setelah sekian bulan belum mendapat hasil apa-apa, akhirnya semangat mengendur dan akhirnya menarik diri. Tapi setoran awal tidak bisa dicabut lagi. Bisa dibayangkan berapa pemasukan MLM dari orang-orang yang menarik diri itu?

 

Seorang anak SD bertanya kepada saya apa definisi MLM. Saya menjawab, “sebuah usaha tipu menipu massal dengan strata bertingkat sesuai dengan jumlah orang yang berhasil ditipu”. Si anak menukas, “kalo pake tipu-menipu, berarti dosa dong?” Saya hanya tertawa melihat jawaban anak yang masih polos itu yang saya harapkan jangan sampai masuk jerat MLM kelak.

 

Satu hal yang saya kagumi dari MLM adalah mereka secara kontinu tidak pernah gagal menipu orang dan selalu saja muncul MLM baru. MLM, apa pun itu, tak ubahnya seperti Multivision, MD, dan produsen sinetron lainnya karena sama-sama menjual mimpi. Mungkin partai politik dan anggota DPR juga bisa digolongkan MLM karena sama-sama menjual mimpi dan mengiming-imingi rakyat dengan perubahan yang nyatanya fiktif.

 

Sebagai penutup, saya ingin mengutip dialog masyhur dari film Quickie Express.

 

Pemburu: “Saya mau bikin jij jadi gigolo.”

Jojo: “Tapi saya ga mau jadi gigolo.”

Pemburu: “Kalo gitu saya punya kerjaan lain buat jij.”

Jojo: “Apaan?”

Pemburu: “Multi-level Marketing.”

Jojo: “Ogah, mending gue jadi gigolo!”

 

*)Kutipan dari Quickie Express ditulis ulang dengan kalimat penulis

 

 

Categories: Ecrasez l'infame
Tagged: , ,

Lukisan Adiluhung

February 3, 2008 · 6 Comments

Dalam perjalanan menuju mall di selatan Jakarta, Pangeran, Toby, dan Tirza (adiknya Toby) berbincang mengenai rajah tubuh alias tato.

Toby: “Si Tirza pengen tuh ditato”

Tirza: “Iya, keren tau.”

Pangeran (seperti biasa, sotoy): “Gue juga pengen sebenarnya, tapi dilarang Tuhan sih.”

Toby: “Kenapa sih Tuhan ga ngebolehin bikin tato?”

Pangeran: (lagi-lagi sotoy) “Karena udah tertulis begitu.”

Toby: “Emang ada?

Tirza: “Ada, di Imamat.”

<hening sejenak…..>

Toby: “Tapi harus ada alasannya yang logis donk. Kalo ga boleh makan babi kan karena karena daging babi itu ga sehat.”

<Pangeran kebingungan dengan kalimat Toby karena Toby adalah penggemar daging babi>

Tirza: “Iya, kenapa donk tato ga dibolehin?”

<Pangeran merenung sembari merangkai kalimat jawaban yang jelas sotoy….>

Pangeran: “…..Karena Tuhan ga mau lukisannya ditiban sama lukisan lain. Tubuh manusia kan lukisan Tuhan.…”

Toby dan Tirza: “…………………………………………”

Tak lama dua orang bersaudara itu tertawa sambil terkagum-kagum sementara Pangeran juga terkagum-kagum akan ucapannya barusan…..

Categories: Uncategorized