Aksara dan Aksioma

Entries from November 2007

Betapa Rapuh Persatuannya

November 23, 2007 · 4 Comments

Pengantar: Saya berjanji, ini adalah pertama dan terakhir saya memasukkan entry mengenai bahasan ini. Saya hanya gatal untuk tidak menulisnya sekali saja.

 

Sepanjang yang saya tahu, GMAHK menganjurkan anggotanya untuk tidak berpolitik. Kenapa? Karena politik itu kotor, menjatuhkan orang lain, menghalalkan segala cara, dan berbagai tabiat merah kirmizi lainnya. Menjelang akhir tahun seperti ini, semua sidang GMAHK akan melaksanakan pemilihan pegawai jemaat untuk tahun depan. Maka tensi akan meningkat dan biasanya memanas. Sadar atau tidak, (saya yakin sih sadar), mereka berpolitik.

Sudah bukan rahasia lagi, bahkan di dalam satu tubuh Kristus, bahkan terdapat faksi-faksi layaknya Fattah dan Hamas di Palestina. Masing-masing (entah apa alasannya, dari dulu saya tak mengerti) merapatkan barisannya demi mendapat hasil yang menurut mereka memuaskan. Maka, setiap pemilihan panitia pemilih, sebisa mungkin mereka akan menempatkan “wakil” mereka di dalam susunan panitia agar kepentingan yang ada dapat terakomodasi.

Mungkin sebuah perwujudan lagu sion no. 100 “Betapa Teguh Persatuannya”, mungkin juga bukan, tapi pada hari pemilihan maka gereja akan dibanjiri oleh manusia-manusia yang biasanya tak pernah nampak batang hidungnya di hari-hari perbaktian biasa. Seperti ada sebuah upaya mobilisasi massa. Menggelikan. Maka, pada saat pengusulan nama-nama anggota pemilih, manusia-manusia indigo itu akan bersuara. Seperti yang sering dilakukan oleh “Fabrizio Ravanelli”. Si rubah putih ini tak henti-hentinya melakukan hal demikian setiap tahun. Syukurnya, tahun ini dia tidak hadir. (Usut punya usut, oknum dukungannya sudah berpindah jemaat). Secara yuridis tidak salah karena keanggotaan si Ravanelli ini valid. Tapi plis dong ah, masa cuma nongol pas hari pemilihan aja? Udah gitu ngomongnya lantang lagi.

Saya sekali waktu pernah dimasukkan dalam panitia pemilih. Yang saya lihat di dalamnya adalah sebuah perang dingin di mana pekik perang tak pernah diteriakkan tapi masing-masing meluncurkan mortar-mortir sunyi dan peluru berbalut bulu domba. Saya hanya berharap motivasi mereka murni untuk kemajuan gereja. Saya agak tersentak sekaligus sinis saat ada orang yang mendapuk dirinya untuk menempati departemen pendidikan saja. Sebuah upaya pengemisan tidak langsung (atau pemaksaan??) yang berbunyi. “Berikan satu kursi di majelis untuk saya.” Bagaimana bisa? Atau ada yang meminta untuk dijadikan pemimpin rumah tangga, misalnya. Bukan maksud saya untuk mengecilkan departemen-departemen tersebut, tapi kerja konkret departemen yang disebutkan di atas itu apa sih? Padahal pemimpin-pemimpinnya termasuk dalam anggota majelis. Walhasil, pos-pos tersebut potensial untuk orang-orang yang menganut paham “tak mau kerja tapi mau nampang.”

Ada lagi yang janggal, waktu itu diusulkan sebuah nama untuk dijadikan anggota majelis kehormatan (secara struktural tidak memegang jabatan, tapi ikut dalam rapat majelis dan mempunyai hak suara). Nama yang diusulkan ini merupakan seorang tetua bagi penganut sayap kanan setempat yang juga seorang pemimpin pemberontakan metro konferens yang berhasil ditobatkan itu. Saya tidak tahu apakah hal itu sah dalam peraturan jemaat, tapi anggota majelis kehormatan itu tampaknya tidak pernah hadir dalam rapat, bahkan jarang sekali muncul di gereja, seperti gerhana yang muncul beberapa tahun sekali. Kelihatan sekali penunjukan anggota kehormatan dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan kelompok tertentu seandainya wacana third reich metro konferens digadang kembali.

Semakin umur bertambah, seharus kita menjadi semakin bijaksana. Semakin cerdas mengambil sikap dan……..semakin jarang menggunjingkan orang lain. Anggota-anggota GMAHK mempunyai gelar PhD honoris causa dalam bidang ngegosipin orang. (Dalam artikel ini saja, saya sudah 2 kali ngomongin orang.hehe). Densitas gosip yang pekat ini menyebabkan beberapa orang bertikai, bertengkar, perang dingin, atau juga mentransfer diri ke jemaat lain. Sehingga bila anda hadir di tempat saya, akan terlihat bangku-bangku kosong yang tersapu iri hati.

Satu lagi penyakit akut anggota GMAHK adalah gila kekuasaan, ingin menonjol, ingin dihormati. ”Pokoknya saya ingin menjadi pegawai jemaat”. Suatu hal yang luar biasa jika dilandaskan rasa ingin melayani yang tinggi. Suatu hal yang hina jika didasarkan pada ego dan kesombongan. Kabar tentang kemarahan seorang juragan semen di kompleks sebelah karena tidak terpilih menegaskan masalah ini. Menjadi pegawai jemaat adalah sukarela, tidak dibayar. Berbeda dengan di gereja lain di mana mungkin mendapat insentif-insentif. Tanpa insentif saja gontok-gontokan, bisa dibayangkan apa yang terjadi bila ada pemberian insentif?

Karena yang tertulis adalah:

What a fellowship

What a joy divine

Leaning on the everlasting arms

Maka renungkanlah semua itu.

Categories: Uncategorized

Machiavell Kelas Dusun

November 2, 2007 · 5 Comments

Artikel ini ditulis subuh hari ini sebelum saya membaca Kompas yang memberitakan bahwa PSSI melalui Nugraha Besoes mengatakan bahwa PSSI tidak akan memilih ketua umum baru. Sungguh menggelikan mengingat tulisan di bawah ini dibuat menimbang bahwa para pengurus PSSI sudah menemukan kembali akal sehatnya yang hilang.

——————————————————————— 

Nurdin Halid merupakan contoh sempurna keserakahan manusia. Bagaimana tidak? Ia melakukan korupsi berkesinambungan sehingga dua kali masuk penjara. Lebih edan lagi, saat penahanan dirinya yang pertama, ia menolak melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Tak ayal, PSSI dipimpin oleh seseorang dari balik jeruji penjara!!

 

Selepas masa tahanan, ia menjadi anggota DPR menggantikan seorang kader Golkar lainnya. Tidak lebih dari seminggu setelah pelantikan, ia kembali didakwa bersalah melakukan korupsi! Lagi-lagi ia menolak meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Benar-benar tak tahu diri.

 

FIFA yang sudah gerah melihat tingkah Nurdin dan PSSI yang mencla-mencle akhirnya mengeluarkan rilis pers yang intinya menegaskan bahwa PSSI harus dipimpin oleh seorang yang berintegritas dan bersih secara hukum. Walhasil, rapernas yang rencananya akan diadakan PSSI sebentar lagi akan berubah menjadi ajang pemilihan ketua baru. Saya mengharapkan agar yang terpilih bukan lagi seorang Machiavelli kelas dusun seperti Nurdin.

 

Kenapa bisa PSSI bungkam terhadap kelakuan Nurdin yang saya rasa cuma satu-satunya di dunia? Karena adanya sebuah keganjilan luar biasa di dalam struktur organisasi PSSI, di mana anggota Komite Eksekutif dipilih oleh Nurdin sendiri! Outrageous! Bagaimana bisa komite eksekutif sebagai sebuah badan tertinggi dalam hirarki PSSI dipilih oleh ketua umum yang secara struktural setingkat di bawah?

 

Nurdin Halid juga seorang egois yang mungkin saja menjalin hubungan terlarang dengan beberapa klub Indonesia. Masih ingat kasus WO Persebaya dari babak 8 besar beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Persebaya dijatuhi larangan berkompetisi selama 2 tahun? Sungguh mencengangkan bagaimana dari balik penjara Nurdin Halid menganulir sanksi tersebut. Belum lagi puluhan penjatuhan sanksi yang dilakukan Komisi Disiplin PSSI kepada klub-klub yang melanggar semuanya dimentahkan oleh Nurdin.

 

Yang paling menghebohkan adalah saat ia meniadakan degradasi. WTF?!! Lalu apa makna kompetisi liga tanpa degradasi? Bertamengkan alasan untuk menggojlok format Superliga tahun depan, dua kali degradasi ditiadakan, hanya promosi dari divisi yang lebih rendah tetap dilaksanakan. Peserta kompetisi pun membengkak menjadi 40 tim. Liga Indonesia menjadi liga terbesar di dunia secara kuantitas, tapi sulit diterima pikiran orang yang sehat.

 

Pemilihan pelatih Timnas pun merupakan wujud lain dosa Nurdin. Terakhir ia menunjuk Ivan Kolev menggantikan Peter Withe yang dinilai gagal memenuhi target di Piala AFC. Konyolnya, Kolev adalah pelatih yang didepak Nurdin untuk digantikan oleh Peter Withe. Ketidakmampuan PSSI menggelar kompetisi yang sehat dan bermutu ditutupi dengan pecat memecat PSSI. Padahal Guus Hiddink atau Fabio Capello sekalipun tidak akan sukses melatih Timnas Indonesia karena materinya memang setara kualitas sepatu tidak lulus quality control. Saya tertawa terbahak-bahak saat mengetahui Tim Belanda U-23 menjuarai Piala Eropa U-23 karena pelatih Timnas Belanda tersebut adalah orang yang sama melatih Timnas Indonesia di Asian Games. Saya lupa nama Londo tersebut, tapi satu hal yang saya ingat ia katakan adalah bahwa timnas Indonesia tidak akan berkembang siapa pun yang melatih karena pemainnya dididik melalui sebuah pelatnas singkat 3 bulan bukan melalui penempaan melalui kompetisi sebenarnya. Apa boleh buat, Indonesia menjadi bulan-bulanan di Asian Games sementara Belanda berjaya di kompetisi U-23. Saya yakin Nurdin beserta jejeran tangan guritanya di PSSI tersenyum kecut saat mengetahui hal tersebut.

 

Dengan lengsernya Nurdin, saya mengharapkan PSSI dipimpin oleh seorang yang lebih baik dan mampu melahirkan kawah candradimuka yang sejati yaitu kompetisi liga baik. Jangan lagi ada seorang pemimpin yang nyambi jadi koruptor. Jangan lagi ada pemimpin yang hobi menganulir keputusan Komisi Disiplin. Jangan lagi ada pemimpin yang seenaknya mengubah format kompetisi. Jangan lagi ada pemimpin gila yang meniadakan degradasi. Jangan lagi ada pemimpin yang tidak bermutu seperti Nurdin Halid.

Categories: Uncategorized

Tranquilty

November 2, 2007 · 2 Comments

Apapun pekerjaan anda, apa pun latar belakang anda, apa pun pendidikan anda, apa pun agama anda, apa pun warna kulit anda, anda berhak akan sebuah sesi kedamaian dan ketenangan bernama TIDUR.

 

Kenyang sehabis makan bisa terasa berbeda-beda, tergantung apa yang anda makan. Tapi, tidur yang pulas merupakan suatu hal yang absolute serupa bagi siapa pun. Anda bisa saja terlelap sambil mengorok di atas kasur bulu angsa selagi dihembusi AC. Anda yang meringkuk di atas dipan bambu berbungkus sarung pun merasakan hal yang sama. Mutlak.

 

Apa yang anda dapatkan melalui tidur tidak akan bisa tergantikan oleh zat artifisial. Anda bisa mendapatkan perasa makanan tertentu, penderita anemia bisa menambah darahnya, penderita diabetes bisa menyuntikkan insulin ke tubuhnya, tapi pernah melihat ada obat pengganti tidur? Mereka yang hobi begadang nonton bola, clubbing, atau sekedar tidak bisa tidur, akan mendapati mereka begitu ngantuk saat pagi menjelang dan tidak ada jalan keluar lain selain menebus utang tidur.

 

Jika perlu memakai superlative, maka saya akan menegaskan bahwa tidur merupakan istirahat yang adikodrati. Tidak tergantikan dan tidak terbantahkan. Saya pernah berpikir bahwa tidur merupakan sebuah kerugian karena membuang-buang waktu berbaring memejamkan mata karena itu tidur tidak perlu lama-lama. Tapi pada saat aktivitas begitu padat dan hampir tidak ada waktu melepas penat, maka tidur merupakan sesuatu yang luar biasa.

 

Kenapa tiba-tiba saya menulis tentang tidur? Karena saya teringat akan hari-hari di mana saya pulang ke rumah lewat jam 9 malam dan pergi lagi esok harinya tidak lebih dari setengah 6 pagi. Hari-hari yang melelahkan mengingat rumah berada di cibubur, sementara hampir seluruh kegiatan berada di sentral Jakarta. Jam masuk sekolah yang 7 kurang seperempat itu menyiksa tubuh saya, apalagi pikiran yang jelas-jelas lebih ingin melihat sekolah tersebut tiba-tiba kejatuhan meteor. Dan imajinasi saya yang seliar kuas Salvador Dali menelurkan pikiran seperti di atas.

 

Saya mendeklarasikan dengan sepihak bahwa saya berhak tidur dengan nyenyak dan bangun saat tubuh saya mengatakan sudah cukup. Persetan dengan yang lain-lain.

Categories: Uncategorized