Aksara dan Aksioma

Entries from September 2007

Pelecehan Akbar

September 24, 2007 · 1 Comment

Bila pelecehan terhadap presiden selaku kepala negara merupakan sebuah perkara  besar? Bagaimana pelecehan terhadap konstitusi negara? Bukan, tulisan ini bukan mengenai Akbar Tanjung.

 

Undang-undang Dasar 1945 disusun oleh para founding fathers negara ini sebagai dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. Setiap pasal di dalamnya merupakan sebuah panduan bagi perilaku setiap manusia yang berpredikat warga negara Indonesia. Dari penetapan dasar negara, tata cara pengangkatan kepala negara, kewajiban dan hak setiap warga negara, hingga warna bendera dan lagu kebangsaan Indonesia.

 

Karena UUD 1945 adalah konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah fondasi fundamental, maka wajib adanya setiap pasal dalam UUD 1945 dijalankan dengan benar. Satu saja pasal yang diingkari maka merupakan sebuah masalah besar karena konstitusi harus dijalankan secara imparsial, bukan sepotong-sepotong.

 

Pasal 1 sampai 26 dalam UUD 1945 mengatur mengenai kehidupan bernegara secara makro, sedang mulai pasal 26 mencantumkan hak dan kewajiban warga negara Indonesia. Bagi masyarakat kebanyakan, pasal 1 sampai 25 bukanlah pasal aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang peduli mengenai tetek bengek sementara istri dan anak minta makan? Tapi sialnya, pasal-pasal yang menyangkut hak dan kewajiban itulah yang cacat dalam pelaksanaan.

  

Pasal 27 mengatakan setiap warga negara sama di mata hukum. Benarkah? Bukankah yang berduit lebih tinggi stratanya sehingga para penegak hukum bisa mendadak buta?

 

Pasal 27 juga mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat penghidupan yang layak? Benarkah? Bukankah kriminalitas merebak akibat tingginya angka pengangguran?

 

Pasal 28 mengatakan setiap warga negara bebas berserikat dan mengeluarkan pendapat? Benarkah? Bukankah perserikatan yang pendapatnya didengar hanya mereka yang dekat dengan penguasa?

 

Pasal 29 mengatakan kebebasan bagi tiap warga negara untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya? Benarkah? Bukankah masih banyak pembakaran tempat ibadah?

 

Pasal 30 mengatakan setiap warga negara berhak dan wajib dalam usaha pembelaan negara? Benarkah? Bukankah banyak pahlawan-pahlawan Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan olahraga yang diabaikan sumbangsihnya?

 

Pasal 31 mengatakan setiap warga negara berhak atas pendidikan dan pengajaran? Benarkah? Bukankah pendidikan semakin mahal akibat bangsat-bangsat kapitalis yang mengkomersialkan sekolah dan universitas?

 

Pasal 32 mengatakan bahwa pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Benarkah? Bukankah kebudayaan bangsa ini yang paling maju adalah dalam urusan korupsi?

 

Pasal 33, ini dia yang paling keterlaluan, mengatakan cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara? Benarkah? KEBOHONGAN BESAR! Bukankah yang menguasai sumur-sumur minyak dan ladang-ladang tambang di Nusantara ini adalah jaringan korporasi raksasa dengan nama-nama seperti Freeport, Exxon Mobile, Caltex, Vico, dan rombongan penjahat ekonomi lainnya? Bukankah para penguasa negara ini telah melacurkan tanah air mereka sendiri dan membiarkan korporasi tamak itu memperkosa sumber daya mineral negeri ini?

 

Pasal 34 mengatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Benarkah? Lalu yang bergelimpangan di kolong jembatan, lampu merah, dan emperan toko itu siapa?

 

Jika para pelaku pelecehan presiden bisa dijatuhi sanksi pidana, maka seyogianya para pelaku pelecehan terhadap konstitusi, mereka yang mempunyai kewenangan untuk menjalankan amanat konstitusi tapi urung melaksanakannya, mereka adalah penjahat. Mereka adalah pelaku pelecehan yang paling akbar di negara ini.

Categories: Uncategorized

Simplicio

September 5, 2007 · Leave a Comment

Judul yang gue pake di atas adalah nama pemain bola asal Brazil, entah bermain di klub  mana, yang pasti terakhir kali beredar gue ingat di serie A Italia (aaaahhh….. gue lagi males nginget” soal bola akibat astroTV laknat itu).

 

Sudah jelas alasan gue memakai nama Fabio Simplicio bukan untuk membahas tentang dia atau tentang sepakbola. Alasan gue adalah kesederhanaan. Lho kok? Iya, kesederhanaan (simplicity). Elo yang rajin baca blog gue ini (terberkatilah kalian…) pasti mafhum gue kerap melakukan hal-hal aneh seperti ini dalam tulisan gue. Jadi, ga perlu gue lanjutkan kan penjabaran mengenai hubungan simplicity dengan Simplicio.

 

Kesederhanaan. Ya, kesederhanaan. Tema utama tampilan blog gue ini secara visual. Itu juga kenapa gue bikin blog gue ini di wordpress yang secara tradisional adalah bloggie yang sederhana (elo bisa aja customize CSSnya tapi harus bayar dan blog gue ini sampai saat ini masih nirlaba). Kayak yang gue bilang di palem8.net, gue ingin mengembalikan blog ke esensi utama: tulisan (yo! Gue bisa bikin kredo blog ala gue sendiri untuk menandingi kredo puisinya Tardji! Hehe). Blogspot gue lupakan karena bisa saja menggoda gue untuk mempercantik visualisasi (tapi ga pernah update post. Futile). Multiply juga, karena melihat punya orang lain saja bagi gue sudah seperti huru-hara.

 

Bila elo melihat account FS gue (www.friendster.com/mostboy), elo akan mendapati sebuah account yang simple dan sama sekali tidak ada modifikasi. Bahkan warna dan background tidak berubah. Kenapa? Walaupun dalam beberapa hal gue menggemari kerumitan, tapi dalam hal-hal dimana tulisan adalah inti dan aspek visual hanyalah aksesoris, gue memilih kesederhanaan. Gue agak kurang berkenan dengan tampilan FS ataupun blog yang terlalu ramai dipenuhi dengan gambar dan link yang malah menyebabkan ketidakteraturan. Yang menyadari bahwa gue adalah orang yang cuek dan sama sekali tidak teratur akan bertanya, “Sejak kapan si Pangeran mempermasalahkan ketidakteraturan?” Sejak ketidakteraturan mengaburkan esensi dari tulisan yang gue buat.

 

Kesederhanaan. Juga merupakan alasan gue untuk tidak membangun account di Myspace, karena menurut gue (di luar benefit utama myspace sebagai sarana untuk mempromosikan diri sebagai musisi), Myspace merupakan sebuah menara babilon Nimrod versi internet. Gue sama sekali tidak suka sama myspace. Tidak pernah terpikirkan untuk membuat account di sana (tapi klo gue ga salah inget, gue pernah bikin sih, tapi gue mengimani klo gue ga pernah update apa-apa sejak hari gue register).

 

Sekalian juga di tulisan ini gue mau ngejawab pertanyaan teman gue tentang bloggie ini (tapi dia ga ninggalin comment…. Gue tahu banyak yang udah akses blog gue ini tapi yang sudi ninggalin sepatah dua patah dukun patah kata cuma Tito seorang. Kasih comment donk, biar keliatannya blog ini ramai pengunjung. Hehe.). Teman gue mempertanyakan gaya penulisan gue yang berbeda dengan biasanya gue nulis di indie magz atau di artikel-artikel di website terdahulu. Gue sengaja sih buat blog ini gue berpikir simpel. Artinya gue nulis ini mengalir aja. Gue ga menyempatkan diri untuk memikirkan gaya penulisan gue plus kata-kata yang gue pake mungkin agak aneh dan tabrak sana tabrak sini. Jadi bagi elo yang akrab sama tulisan-tulisan gue (apalagi sejak yang “Bush is Coming”), elo ngira gue nulis blog ini asal-asalan sambil tidur kali ya. Hehehe.

 

Ada juga yang nanya kenapa gue pake bahasa Indonesia, ga pake Inggris kaya di FS. Spoken English gue lebih bagus dari written English. Kalau elo liat blog FS gue, gue kan acak kadut tulisannya. Maen pukul rata tenses dengan justifikasi memakai aint (abis gampang sih…hehehe). Selain itu, gue mau ngasah bahasa Indonesia gue (tau tau, gue tau bahasa Indonesia gue lebih bagus dari kebanyakan orang Indonesia sehingga mungkin gue harus menimba ilmu tingkat tinggi dari Anton Moeliono) dengan cara membuat tulisan yang secara linguistik, liar. Siapa tahu bisa dapat kata-kata dan frase yang menarik untuk bahan tulisan yang lebih serius (dan bisa juga buat nambah perbendaharaan senjata buat spittin rhymes on da battle ground. Hehe)

Categories: Uncategorized