Aksara dan Aksioma

Terobsesi Dengan Kata-Kata

August 13, 2007 · 1 Comment

!@!@#!@#@#$#%^&!!!!!

Umpatan demi umpatan kepada Telkom Speedy yang kinerjanya ga sehebat promosinya gue teruskan saat ini karena post ini harusnya udah kekirim 10 menit yg lalu klo bukan karena koneksi yang down. OK, nanti ada chapter sendiri kok buat maki-maki Telkom.
——————————————————————————–

Ah! Blog gue yang lama di blogger.com udah lama diupdate, selain itu banyak postingan konyol nan ajaib di sana. Kalau dihapus, berarti mencederai sejarah. Tapi hasrat menulis terus menggebu. Walhasil, satu lagi blog muncul di wordpress dan gue, Pangeran Siahaan, adalah pemiliknya. Pangeran Siahaan? Nama yang memberi kesan tertentu pada anda? Seperti anak sombong, ga jelas, banyak omong? Atau manusia idealis, egosentric dan menyebalkan tapi irresistable? Hahaha. Ada satu lagi yg harus ditambahkan dalam tambatan memori anda mengenai gue: Obsesi akan kata-kata.

Kredo puisi Sutardji Calzoum Bachrie menyebabkan orang berpikir ulang mengenai pemaknaan kata dan eksistensinya. Apakah kata tanpa makna disebut kata atau tidak? Kata tanpa makna tetaplah kata, karena makna hanya sebuah mantel yang menyelimutinya. Baiklah kita menelanjangi kata dari makna yang membungkusnya. Seperti kata Tardji, “…aku ingin membebaskan kata dari makna yang membelenggunya.”

Kata-kata mempunya nilai estetik adiluhung yang hanya mereka yang tercelikkan matanya yang dapat menangkap gairah magis yang terkandung.

Kalimat di atas bukan kredo baru ala Pangeran karena gue tidak berniat meniru Tardji. Kenapa? Gue ga cukup gondrong dan gue ga suka minum bir, jadi gue ga pengen seperti bapak presiden tersebut. Alasan selanjutnya, karena gue ga suka kredo. Lebih enak gado-gado atau ketoprak. Kredo masih mentah, tak bisa ditelan dengan mudah.

Jayus? Garing? Protes tak ditanggapi karena seperti disuratkan di atas, kata-kata harus dimerdekakan dari belenggu makna. Seperti kita harus dilepaskan dari pembodohan publik yang merongrong kita.

Ecrasez l’infame!!

Categories: Uncategorized

1 response so far ↓

  • i_spy // October 18, 2007 at 2:07 pm | Reply

    huahaha! I didn’t know you joke a lot =D

    tapi kenapa harus dilepas dari maknanya? kata kan tetep kata. kata tanpa makna..yah, emang tetep kata. tapi kan kata jadi berguna karena ada maknanya.. *err, iya nggak? atau maksut “melepas kata dari makna yang membelenggunya” itu beda sama yg gue tangkep yak? hhe

Leave a Comment