The Boy Named Crow

Posted June 16, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn.

Why? Because this storm isn’t something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. The storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn’t get in, and walk through it, step by step. There’s no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That’s the kind of sandstorm you need to imagine.

Based on those lines alone, i was starting to consider Haruki Murakami as a decent writer. But not until i found these sentences below.

The facts and techniques or whatever they teach you in class isn’t going to be very useful in the real world, that’s for sure. Let’s face it, teachers are basically a bunch of morons.

Haruki Murakami is (almost) god.

But sure, he’s just a Hermes. Mario Puzo is a Zeus.

Sketsa Kampus Merah Putih

Posted June 1, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , ,

Sketsa #1

Oknum P: “Elo pengen ngambil konsentrasi apa ntar?:
Oknum R: “Humas”.
Oknum P: “Kenapa?”
Oknum R: “Biar ntar lulus bisa kerja di bank.”
Oknum P: “………..”
——————————–

Sketsa #2

“I” adalah seorang mahasiswi yang juga berprofesi sebagai seorang model.
“P” adalah seorang mahasiswa antisoc yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

situasi: P sedang duduk membaca buku The Complete Stories of Sherlcok Holmes, tentu saja dalam bahasa aslinya. I datang dan duduk menghampiri.

I: “Lagi baca apa?”
P: <dengan nada cuek> “Sherlock Holmes”
I: “Pinjem donk, pengen liat”.
P: <dengan enggan memberikan>
I: “Wow, pasti lo udah biasa Bahasa Inggris ya?”
P: <menyeringai dengan senyum ejekannya yang khas>
I: <membolak-balik beberapa halaman> “Ini buku tentang apa sih? Batman?”
P: <dalam hati> “!@#$%^ WTF? LO GA BISA BACA ITU ADA TULISANNYA SHERLOCK HOLMES?”

hampir saja P bertanya balik, “Elo model ya?”
—————————————-

Sketsa #3

P sedang asyik membolak-balik bukunya Ken Conboy dan tiba-tiba sesosok makhluk yang terkenal terlalu banyak omong menukas, “Lo ngapain sih baca buku? Emangnya besok ada ujian?”
—————————————

Sketsa #4

Oknum P mengirim sms ke salah seorang teman sekelasnya:

“Gue cabut duluan, harus ke kantor, udah telat. Ciao!”

Balasan yang ia terima beberapa detik kemudian adalah:

“Ciao? Jangan sok mandarin deh lo”
—————————————-

Sketsa #5

Di sela-sela kuliah, seorang dosen senior yang dilabeli teman saya sebagai “Pak Nyocos” marah-marah…

“Tidak ada itu nama belakang ditulis duluan untuk daftar pustaka. Harus nama depan duluan. Siapa yang ngajarin kamu untuk nulis nama belakang duluan? Salah itu!!!”

Seorang mahasiswa membalas, “Dari Zaman SD juga begitu pak!”

Si Bapak Nyocos kembali nyerocos, “Sekarang kalian sudah kuliah, sudah jadi mahasiswa, gak kaya SD lagi!”

Oknum P angkat bicara, “Hal tersebut sudah menjadi konsensus internasional selama bertahun-tahun lamanya. Anda mau merubahnya, pak?”

Beberapa kawan ramai-ramai mendatangi si Bapak Nyocos dan menunjukkan  contoh-contoh daftar pustaka pada beberapa buku.

Apa yang dilakukan si Bapak Nyocos?
Terdiam seribu bahasa.

Oknum mencoba berpikir positif. Mungkin si Bapak Nyocos sedang khilaf.

Lebih Dari Sekedar Hidup dan Mati

Posted May 9, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Banyak teman yang mencibir saya karena membesar-besarkan peristiwa Carles Puyol mencium ban kaptennya yang bercorak bendera Catalan seusai menjebol jala Real Madrid pekan silam. Bagi penikmat sepakbola semata, peristiwa penciuman bendera merah kuning itu sekedar luapan ekspresi kegembiraan usai membobol gawang lawan. Bagi rakyat Catalunya, itu adalah sebuah statement politis. Tidak mengerti? Bayangkan Persiraja Banda Aceh bertanding melawan Persija di GBK dan disaksikan Presiden SBY. Tengah pertandingan, striker Persiraja mencetak gol dan mencium bendera GAM di depan muka pemimpin Republik. Semoga anda mengerti.

Bagi saya pribadi, sepakbola lebih dari sekedar permainan kejar-kejaran bola antara 22 orang. Karena bila nikmatnya sepakbola hanya bisa diselami selama 90 menit, rasanya permainan ini cukup membosankan bagi saya.

Tidak ada hal yang bermutu di mata saya yang muncul dari Merseyside. Kalaupun ada, pastilah mutu tersebut bernama Bill Shankly. Mengapa? Karena ia melontarkan adagium yang keabsahannya lebih absah dari persamaan matematis “Moran + Souness + Evans + Houllier + Benitez = 0x ; x = juara liga”. Adagium tersebut berbunyi “Some people believe football is a matter of life and death. I’m very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that.” Percayalah, Bill Shankly tidak membual.

Dalam hemat saya, yang membuat saya jatuh cinta setengah mati kepada sepakbola adalah hal-hal yang terjadi di luar lapangan hijau. Ya, saya menonton Manchester United karena mereka menampilkan sepakbola terbaik. Tapi saya juga memaksa diri saya untuk menyaksikan The Old Firm Derby, Celtic FC vs Glasgow Rangers. Karena alasan keindahan permainan? Tentu tidak! Sepakbola Skotlandia rasanya tidak banyak berubah sejak abad 19 di mana si kulit bundar masih terbuat dari kandung kemih babi. Adalah perseteruan sektarian abadi Katolik vs Protestan di Britania Raya yang membuat saya sangat antusias menyaksikan game tersebut. Tengoklah suporter The Bhoys & Gers yang rela mempertaruhkan nyawa (dan imannya) di Celtic Park atau Hampden Park. Apakah Tuhan bermain sepakbola? Bagi mereka jawabannya tentu saja iya! Dibanding term “MUFC The Religion”, rasanya “Celtic FC The Religion” atau “Glasgow Rangers The Religion” rasanya lebih bisa diartikan secara literal.

Duel Real Madrid vs Barcelona dianggap sebagai duel terpanas di ranah matador karena keduanya merupakan klub tersukses La Liga. Belum lagi sentimen Catalan seperti disinggung di atas yang turut membakar atmosfer laga. Suporter kedua tim tersebut tidak jarang bersitegang karena terbagi antara nasionalisme Catalan atau pro-Kerajaan. Tapi bila dikaji lebih jauh keluar dari lapangan hijau dan sukses klubnya, sebenarnya yang lebih mengerikan di Spanyol adalah duel Real Madrid vs Athletic Bilbao. Apalagi jika dimainkan di San Mames. Jika anda bertanya mengapa, saya akan bertanya balik “Pernahkah anda mendengar Basque ETA?” Jika jawabannya tidak, cepat lihat wikipedia. Orang-orang Basque memiliki nasionalisme yang luar biasa, di atas orang Catalan. Mereka lebih memilih melihat Athletic Bilbao terdegradasi daripada mengorbankan kebijakan Cantera, hanya memakai pemain berdarah Basque di dalam tim.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah klub sepakbola dengan 2 huruf “SS” di depan namanya? Lazio dikenal sebagai salah satu tim dengan suporter paling fasis di seluruh dunia. Fascist Salute dan poster dengan rupa wajah Arkan adalah pemandangan lazim di Curva Nord stadion Olimpico. Saya riang bukan main pada tahun 2004 saat Livorno berhasil promosi ke Serie A. Hal itu berarti 2 Ultras paling kanan dan paling kiri secara politis di Italia akan bertemu pada pertandingan sepakbola. Benar saja, sebelum dan saat pertandingan berlangsung, si bengal Paolo Di Canio menghampiri tifosi Ultras Lazio dan memberi Fascist salute. Di lain pihak, ikon Livorno, Christiano Lucarelli menyambangi tribun Ultras Livorno yang penuh dengan bendera merah dan gambar Che Guevara seraya melayangkan Clenched Fist ke udara. Saya merasakan ada getaran di punggung saat menyaksikan kedua adegan tersebut.

Tidak kalah banyak yang bertanya keheranan mengapa saya ngotot setengah mati untuk mendapatkan jaket Lancaster Rose, produk Man Utd keluaran Nike yang menurut orang dalam paling tidak laku. Buktinya sampai sekarang masih selalu nampak di etalase tiap kali produsen berlogo swoosh tersebut mencuci gudang. Berapa banyak sih yang mengetahui rivalitas Man Utd-Leeds United? Sejak Leeds tenggelam di Palung Mariana pada 2004, gaung salah satu rivalitas tertua dalam segala aspek di Inggris ini turut surut pula, setidaknya di luar Britania Raya. Tapi tidak di Inggris sana. Anda bisa saja memakai jersey Man Utd dan memamerkan crestnya ke penggemar Leeds. Paling-paling mereka muntah. Anda menunjukkan Lancaster Rose di depan hidung mereka, ada baiknya anda berlari seribu langkah karena pasti mereka akan mengejar dengan kapak, martil, batu, apa saja yang memastikan anda berbaring tanpa nyawa.

Wars of The Roses, perang memperebutkan tahkta Kerajaan Inggris pada abad 16, adalah cikal bakal perseteruan Manchester – Leeds. Manchester termasuk dalam wilayah House of Lancaster dan direpresentasikan dengan mawar merah. Sedang Leeds masuk ke dalam House of Yorkshire dan direpresentasikan dengan mawar putih. Sentimen ini masih terasa beratus tahun sesudahnya hingga sekarang ini. Tidak heran para Mancunian masih getol menyanyikan chant kontra Leeds walaupun tim putih-putih itu sudah lenyap entah ke mana seperti Tom Ovrebo sepulang dari Stamford Bridge. Ngomong-ngomong, bila ada yang iseng menukas Merseyside itu berada di wilayah yang mana, jawabannya adalah Lancaster.

Dengan mengetahui fakta-fakta seperti di atas (dan masih banyak lagi yang patut untuk diketahui), rasanya sepakbola lebih dari sekedar hidup-mati bisa dimengerti. 90 menit hanyalah hitungan 1 sampai 60 yang diulang 90 kali. Tapi apa yang terjadi luar lapangan hijau, membekas selamanya.

Pasti akan ada celetukan, “Ngapain sih memusingkan hal yang begituan? Kita jauh dari mereka. Kita di Indonesia, cukup nonton pertandingannya saja!”. Jika demikian, bila ditilik lebih jauh, sebenarnya kita pun tidak mempunyai legitimasi untuk berteriak “Oh Merseyside is full of shite”, membenci para Scousers, atau yang lebih ajaib, memakai kostum nasional negara lain dan mengibarkan benderanya kala turnamen akbar antar negara seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Pangeran Siahaan

Football Afficionado & (thankfully) a Manchester United supporter

Selepas Karnaval Itu….(Sebuah Catatan Pemilu)

Posted April 9, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Setelah gelontoran miliaran rupiah, sampah-sampah publikasi kampanye yang tidak terhitung, serta mata dan telinga yang sudah lelah mendengar cuap-cuap nina bobo, lalu apa?

“Contreng dan jadilah warga negara yang baik!”, “Masa depan Indonesia ada di tangan anda!”, “5 menit untuk 5 tahun”, dan segala macam seruan naif lainnya merupakan cerminan ketakutan penyelenggara negara terhadap kesadaran warga negaranya bahwa sebenarnya pesta demokrasi ini tidak ubahnya sebuah dagelan.

Betapa tidak? Anak kecil yang tercantum dalam DPT, almarhum-almarhumah yang dilimpahkan hak memilih, jutaan rakyat yang dipaksa golput karena tidak terdaftar sebagai pemilih tetap, kertas-kertas suara yang nyasar ke daerah lain, tiadanya sosialisasi tentang sistematika penukaran formulir C4 ke formulir A5 untuk mutasi hak pilih, dan berbagai cacat lainnya. Katakan kalau itu bukan unsur komedi dalam lawakan nasional ini.

Negeri ini memang terkenal tidak piawai dalam pengelolaan data dan statistik. Tidak terhitung orang-orang yang berpartisipasi dalam Pemilu 2004, pada tahun ini terpaksa duduk termangu di rumahnya menatap hasil quick count di televisi. Padahal, 177 juta lebih warga negara Indonesia yang terdaftar memiliki hak pilih, 25 juta lebih banyak dari tahun 2004 silam. Dengan penambahan yang signifikan tersebut, bagaimana bisa banyak pemilih 2004 tidak terdaftar dalam Pemilu 2009? Lalu siapa saja yang 25 juta tersebut? Ghost Voter?

Laporan terakhir menyebutkan angka golput kali ini mencapai 35 % dari total pemilih yang terdaftar. Bila angka tersebut dikalkulasi berarti 61 juta lebih jumlah golput tahun ini. Angka ini hanya berupa golput administratif, yaitu orang-orang yang terdaftar di DPT tapi urung menyalurkan suaranya di TPS hari ini. Belum termasuk kertas-kertas suara yang tidak sah, entah karena tidak diisi atau dengan sengaja dirusak oleh sang pencontreng untuk mencegah penyalahgunaan.

Gagalnya seruan untuk tidak golput? Silakan nilai sendiri. Tapi 61 juta orang yang enggan hadir di TPS-TPS untuk memilih wakilnya di lembaga legislatif bukanlah angka yang main-main. 61 juta suara bisa berarti ratusan kursi legislatif. 61 juta suara bisa berarti lumbung rupiah dan kepentingan bagi partai politik yang berkepentingan…..

Kalau dipikir-pikir, 61 juta orang yang absen mencontreng hari ini sebenarnya cukup kurang ajar, setidaknya dalam kacamata mereka-mereka yang tidak terdaftar dalam DPT. “Tidak nasionalis. Terlalu”, begitu tukas seorang tetangga yang saya temui siang tadi. Rupanya si tetangga yang memakai kaos bergambar rajawali muda ini gregetan karena namanya tidak ada dalam DPT. Walhasil, gambar rajawali muda pun tidak dapat ia contreng pagi ini.

Ngomong-ngomong rajawali muda, saya cukup sumringah menyimak melalui quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahwa perolehan suara sang rajawali berkutat di bilangan 3-4%. Walaupun sebenarnya ogah, saya masih bisa menolerir jenderal peragu, saudagar licik, maupun ibunya “wong cilik”. Tapi Heidegger? Saya menimbang-nimbang untuk vakansi keluar negeri bila ia naik ke tampuk kekuasaan.

Walaupun melewati threshold 3 %, perolehan suara yang minim tersebut mengakibatkan sang rajawali harus berkoalisi dalam pemilihan presiden. Posisinya yang demikian menyebabkan rajawali muda mungkin tidak bisa mengajukan calon presidennya sendiri.

Tapi dengan dana yang melimpah (thanks to gurita usahanya di Kazhakstan), bukan tidak mungkin rajawali muda akan mengajukan kadernya sebagai calon wakil presiden. Bukan tidak mungkin juga bila terpilih sebagai wapres, sang Heidegger akan lebih dominan dari presidennya. Ya, mirip-mirip Jusuf Kalla lah. You know, Cash Rules Everything Around Me.

Pada saat itu terjadi, mungkin saya harus sudah benar-benar hijrah dari “tanah tumpah darahku” ini……

PS:

1. Satu-satunya alasan saya untuk hadir di TPS adalah untuk mencegah penyalahgunaan kertas suara yang tidak saya gunakan. Tapi rupanya tidak usah bersusah-susah. Wong terdaftar di DPT saja tidak…….

2. Sebenarnya saya tidak suka Denny J.A. Saya benci untuk mengakui ia dan LSInya hampir selalu benar.

Pangeran Siahaan

Jurnalis & Pengamat Failed Democracy

http://pisciotta.wordpress.com

Seeing Sounds. Seeing NERD. Seeing Crap

Posted March 23, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , ,

Pangeran Sang Jurnalis Jejadian

Posted March 15, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Saya selalu ingin menjadi jurnalis. Biar orang bilang gajinya kecil, kerjanya capek, dan sebagai, saya tidak peduli. Kesempatan itu akhirnya datang setelah saya diterima dengan status percobaan pada majalah dengan inisial P, pelopor majalah Indonesia pada bidangnya.

Cukup terkejut juga saat saya diberitahu saya diterima asalkan menyetujui beberapa ketentuan seperti pemotongan uang makan sebagai kompensasi jam masuk kerja yang telat karena harus kuliah dulu paginya. Tidak begitu masalah untuk saya karena memang uang bukan tujuan utama dalam hal ini. Ya, hitung-hitung belajar sambil dibayarlah. Hehe.

Yang tidak kalah membuat terkejut, menurut saya pribadi, seandainya saya menjadi chief editor yang mewawancarai sewaktu job interview, saya tidak akan meluluskan calon reporter yang kelewat sotoy seperti saya sendiri. Haha. Untuk mereka yang mengenal saya dengan baik, pasti paham apa maksudnya. Hehe. Tapi ternyata, di kemudian hari saya mengetahui bahwa kesotoyan (beh…) adalah faktor utama yang membuat saya diterima. You can ask me anything and i will answer like i know everything. Mengutip perkataannya Giskal, “Pangepedia”.

Mulailah saya menjadi jurnalis sejak Kamis minggu lalu. Hari-hari pertama sungguh membosankan. Duduk di belakang cubicle, menatap monitor komputer seharian, dan berujung pada pengaksesan facebook yang berlebihan untuk membunuh penat. Bagian saya adalah perihal otomotif (yang mana saya gak tahu-tahu amat), sport feature, dan fitness (ironis ya…haha).

Belakangan jatah menulis travel pun diberikan kepada saya. Kesotoyan dan hobi mengkhayal yang keterlaluan sangat membantu. Saya tidak pernah ke luar negeri, apalagi ke Cancun seperti bahan tulisan saya. Satu-satunya gambaran yang saya miliki tentang Cancun adalah MTV Spring Break. Dan memang itulah yang menjadi batu pijakan saya dalam menulis. (Jadi teringat, ada orang yang terkejut bagaimana saya bisa tahu Piccadilly Circus, Trafalgar Square, Isle of Man, padahal saya belum menjejakkan kaki di sana. Hihihi).

Petualangan yang lebih seru dimulai Rabu kemarin. Saya ditugaskan meliput exclusive media preview Honda Freed yang akan masuk pasar Indonesia mulai Juni. Bertempat di ballroom Jakarta Theatre, acara itu menjadi tugas lapangan pertama. Saya sudah sering mendengar bagaimana pada acara launching, terlebih produk otomotif, para wartawan akan dijamu dengan 1st class hospitality dan hidangan bintang lima. Saya merasakannya saat itu. Sepulang dari sana, saya merasa lebih berat =D

Yang menarik untuk diperhatikan adalah perbedaan wartawan domestik dengan wartawan asing. Berhubung Honda berasal dari Jepang, saya mendapati ada 2 orang wartawan Negeri Matahari Terbit itu yang hadir. Dari penampilan luarnya saja sudah jauh berbeda (saya tidak berbicara mengenai lebar mata, hehe). 2 orang wartawan Nippon tersebut mengenakan setelan jas dan masing-masing menenteng kamera SLR. Wartawan Indonesia? Bayangkan, ada yang datang dengan mengenakan kaos dan sandal. Ck ck ck.

Belum lagi, selepas registrasi media, wartawan-wartawan Jepang itu sibuk membaca press release dan menandai bagian mana yang penting. Wartawan lokal? Sibuk menuju meja cemilan sambil mengobrol haha-hihi. Saya bisa mengamati dan tidak ikutan bercengkerama karena saya masih baru dan belum kenal siapa-siapa. Mungkin saya aka n menjadi seperti mereka juga seiring berjalannya waktu.

Belakangan, seorang fotografer yang kebetulan sudah saya kenal memberi wejangan, “Ya beginilah wartawan Indonesia. Jangan disamain sama yang di luar. Di sini, koneksi dan kenalan sangat penting dalam pekerjaan. Gak heran, kalau acara kaya gini, jadi ajang reuni sama teman-teman lama.”

MORAL: Kalau autis dan semi-antisosial seperti saya harusnya jangan menjadi wartawan (Indonesia).

Jalan-jalan berlanjut esok harinya, Kamis. Secara mendadak saya diassign untuk datang ke acara ulangtahun Guinness, bir kesohor dari Irlandia, yang ke-250. Acara tersebut sekaligus peluncuran website khusus media oleh Guinness. Kali ini lokasinya di Minus 2, FX. Saya tidak suka bir, apalagi yang aneh rasanya seperti Guinness. Jadi, saya tidak terlalu bersemangat. Acara berupa talkshow dengan narasumber perwakilan Guinness dari Irlandia di Indonesia dan distributor Guinness Indonesia. Sebagai moderator adalah Uli Herdinansyah. Karena saya bosan, saya gatal sekali ingin nyeletuk “IRA, Sinn Fein, IRA, Sinn Fein…..” pada waktu si irishman berbicara. Hehe.

Yang mengejutkan adalah Uli Herdinansyah. Saya selalu beranggapan buat ukuran MC dan presenter lokal, kemampuan si Uli ini boleh lah. Tapi, itu semua buyar saat ia tidak tahu apa arti kata “yeast” dan “lease”, sehingga harus bertanya dahulu. Kasihan.

MORAL: Uli Herdinansyah tidak secerdas kelihatannya.

Hari Jumat, lagi-lagi saya bertualang. Launching Sprite Zero di Chili’s, Sarinah menjadi destinasi. Kesan pertama: Sumpek! Demi branding dan exposure yang kuat dengan cara menggelar performance Andra & The Backbone serta atraksi Bungee Tramp di rooftop Sarinah, PT Coca Cola Indonesia mengorbankan kenyamanan dengan cara memilih venue yang kecil dan sesak seperti Chili’s. Tidak salah, karena Andra dan Tulang Belakang sukses memacetkan Thamrin. Rata-rata pengendara yang lewat akan berhenti sejenak untuk menyaksikan penampilan mereka. Untuk memperkenalkan brand baru tapi lama, Sprite Zero, saya rasa kampanye mereka sangat hebat.

Saya memakan burger terbesar dalam hidup saya di Chili’s. Dengan 3 jenis daging di dalamnya, diameter burger tersebut saya kira hampir selebar telapak tangan. Menengok kanan kiri, saya melihat rekan-rekan wartawan yang lain banyak yang tidak habis saking enegnya. Saya? Tentu saja…………………ludes. Hehe.

Sprite Zero mengundang Mario Lawalata dan VJ Marissa dalam acara talkshow jadi-jadian dan lucu-lucuan sepaket dalam launching tersebut. Saya tidak suka Mario Lawalata, sok asik. Saya rasa saya bukan orang pertama yang berpikir demikian. Saya suka VJ Marissa. Kenapa? Just look at her. Nuff said.

Tapi, anda bisa menilai orang dari bagaimana mereka menjawab random question. Dengan sebalnya saya bisa mengatakan Mario cukup lihai dalam menjawab pertanyaan dengan selera humor yang lumayan. Sebaliknya, VJ Marissa cukup kewalahan dalam menjawab pertanyaan dari wartawan dan sering kali mengekor jawaban Mario. Penampilan bisa menipu memang.

MORAL: Mario Lawalata tidak sebodoh kelihatannya. VJ Marissa tidak secerdas kelihatannya.

Safari Prabowo

Posted March 5, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , ,

Pencitraan diri melalui iklan televisi memang luar biasa hebat. Yang tadinya “tidak ternama” bisa mencuat ke permukaan dengan kredo “Hidup adalah Perjuangan”. Yang menunda-nunda penurunan harga BBM malah melabeli tindakan setengah hati tersebut dengan cap “Pertama Sepanjang Sejarah”. Yang bekas Danjen Kopassus dan mantan Pangkostrad bisa mendadak…………………sosialis??

Menampilkan petani, nelayan, dan elemen wong cilik lainnya dalam iklan jelas upaya mencitrakan Prabowo Subianto sebagai seseorang yang peduli akan nasib rakyat kecil. Ya, sang Jenderal tidak bisa disalahkan bila dalam masa semedinya 10 tahun pasca reformasi ia mendapatkan wahyu ekonomi kerakyatan. Tapi, rasanya tidak lucu melihat Heinrich Himmler tiba-tiba peduli dengan para penghuni ghetto.

Omong-omong, baju yang selalu dikenakan oleh Prabowo seperti yang terlihat pada foto itu namanya apa sih? Mirip-mirip safari. Diniatkan untuk membantu pembentukan citra kah? Karena sekarang hampir di setiap kesempatan Prabowo selalu nampak mengenakan setelan tersebut.

Kalau Jawaharlal Nehru mempopulerkan Nehru Jacket, baju yang dikenakan Prabowo dinamakan apa? Safari Prabowo?

Konspirasi Alam Semesta

Posted February 20, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , ,

Saat alam semesta bersekongkol mempertemukanmu dengan nasib, siapa yang bisa mencegahnya?

Karena dalam satu garis telah diukir ulir kehidupan yang tidak akan pernah terhapus. Yang kita lakukan adalah meniti ulir yang berkelok curam itu.

Dapatkah kita menengadahkan kepala ke langit dan memaksaNya menjaga matahari tidak pernah terbenam agar hari tidak berganti?

Aku dan waktu telah berlari bersama dalam sebuah perlombaan. Sang waktu melesat secepat anak panah, sedang aku baru tiba di finis 7 bulan kemudian. Sang waktu menatapku dengan angkuh, seolah berkata, “Jangan pernah menantangku”.

“Tuhan tidak bermain dadu”, kata Einstein. Aku hanya ingin tahu, Apakah Ia bermain Russian Roulette?

Revolver yang mengarah ke tenggorokanku itu, berisi peluru-peluru bernama Ketidakmungkinan, Ketidakpastian, Perbedaan. Jikalau revolver itu meletus dan darahku muncrat, jangan terkejut bila aku tidak mati. Peluru tersebut telah gagal membunuhku sejak 5 tahun lalu.

Karena Ia bekerja dengan cara yang sulit dimengerti. Apa pun itu, baiklah bagiku.

Maka, bila alam semesta berkonspirasi memisahkanmu dengan nasib, apa yang harus kau lakukan?

Tertawalah.

5 Februari 2009

Posted February 5, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , , ,

08.00-09.15: Ujian Psikologi Khalayak dan konsumen, pengawas ujian zaman sekarang menyebalkan…bagaimana orang bisa tenang ngerjain soal klo mereka ngobrol ketawa-ketiwi?

09.15-10.00: Bermain catur 2 game. Lumayan dapet 10ribu.

10.00-16.30: Dengan modal 10ribu hasil 2x menang maen catur, membeli roti bakar dan sebotol aqua, wi-fian sampe mabok selama 6 stngah jam. SENDIRIAN

16.30-17.00: Makan Nasi pake telor dadar ditambah kuah gulai ikan (kuahnya doank!) dan tempe goreng tepung 3 biji. SENDIRIAN

17.00-17.15: Jalan kaki dari kampus ke FX. SENDIRIAN

17.15-17.45: Berkontemplasi di toilet FX lantai 4 lalu sesudahnya ngider-ngider FX sambil memperhatikan kenapa hari ini begitu banyak homo di FX. SENDIRIAN

17.45-18.00: Duduk di waiting chairsnya 21. SENDIRIAN

18.00-19.15: Menonton Underworld: The Rise of The Lycans dan menggerutu dalam hati mengapa film ini begitu dangkal dan mudah ditebak? SENDIRIAN

19.15.19.30: Berjalan kaki lagi ke Pacific Place. Tentu saja SENDIRIAN.

19.30-21.39 (sekarang): Wi-fian lagi di Starbucks Pacific Place. SENDIRIAN

Saya hanya tak ingin pulang ke rumah.

Membiasakan diri. Harus Begitu.

Memandang Palestina Ditemani John Lennon

Posted January 20, 2009 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , , , ,

Hari itu saya keluar kelas agak siang, sekitar jam 2-an. Tiba-tiba telinga saya disergap oleh teriakan “Mari kita bantu saudara-saudara kita di Palestina”, yang ajaibnya, diiringi lagu Imagine-nya John Lennon yang dinyanyikan live sebagai latar belakang.

Beberapa mahasiwa menengadahkan kotak-kotak sumbangan dengan mimik mengiba yang berlebihan seolah-olah biaya SKS mereka semester ini belum terbayar. Seseorang yang nampaknya pimpinan aksi tidak henti-hentinya menyuarakan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, termasuk di Palestina. Apa-apaan? Jadi kau kira yang di Manokwari bukan manusia?

Entah kenapa, banyak orang Indonesia yang tidak begitu Indonesia, malah lebih Arab dari orang Arab. Saat jet-jet Israel meluluhlantakkan Gaza, tidak terhitung banyaknya penduduk Indonesia yang mengecam dan melakukan aksi solidaritas dalam berbagai bentuk. Dari yang masuk akal seperti pengiriman bantuan medis hingga yang konyol seperti pengiriman milisi jihad.

Gempa di Manokwari terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Penduduk Papua adalah saudara sebenar-benarnya dari kita. Ada yang peduli?

Isu Palestina menjadi bahan obrolan nasional, dari Istana hingga warung sederhana. Semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, belum berhenti sampai sekarang. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan ganti rugi yang pantas belum diberikan kepada mereka. Ada yang ingat?

Bangsa ini memang doyan sensasi. Hanya segelintir yang dengan benar memahami serangan Israel ke Palestina adalah kejahatan kemanusiaan. Sisanya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sensasional. Tidak heran, kebutuhan masyarakat akan sensasi dipenuhi oleh berbagai TV nasional, terlebih TV One yang terus-terusan me-relay­ Al-Jazeera. (TV One adalah stasiun TV yang membeli hak eksklusif siaran langsung pemakaman Amrozi Cs, apalagi yang bisa kita harapkan?).

Kiri itu seksi. Maka terjemahan Das Kapital dan literatur mengenai Tan Malaka adalah barang yang dicari-cari. Sama seperti kiri = seksi, banyak yang secara tidak sadar beranggapan bahwa Palestina itu seksi. Maka keffiyeh, bordiran logo bendera, serta kaus “Save Palestine” adalah barang buruan orang-orang yang bahkan tidak tahu apa itu Fatah dan di mana letak Tepi Barat.

Ada yang tahu mengapa Imagine selalu ikut-ikutan dalam dalam aksi-aksi mendukung Palestina akhir-akhir ini? Mereka berteriak-teriak mengenai intifada dan syuhada tapi mengumandangkan lagu tentang betapa indahnya dunia tanpa surga dan neraka. Mereka membawa-bawa nama Yang Kuasa, tapi menyanyikan syair tentang dunia tanpa agama. Somebody tell em, please!

Orang bilang Imagine adalah salah satu lagu terbaik sepanjang masa. Liriknya inspirasional. Bagi saya, Imagine cuma sekumpulan melodi monoton dengan syair celotehan pengguna LSD.

John Lennon, his crack-smokin’ ass, and his cult followers can screw themselves.