Merendahkan Yang Maha Tinggi

Posted July 4, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tulisan di bawah ini adalah karya saya yang turut dimuat di sindikasi blog Kacamata Kita. Pemuatan ini sekaligus untuk mempromosikan sindikasi blog tersebut.

——————————–

Adakah yang menyadari bahwa Inkuisisi abad pertengahan di Eropa terjadi dalam rupa yang berbeda di Indonesia? Dahulu, mereka memburu dengan api, cambuk, pedang, memaksa orang-orang yang mereka katakan bidat untuk berpaling dari kepercayaan yang terpaksa mereka tebus dengan darah.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi pada masa medieval, reinkarnasi inkuisitor memburu mangsa mereka dengan pedang dan parang, membakar dengan api, menutup tempat kediaman Tuhan dengan segel manusia. Sejarah memang berulang. Selalu.

Agama adalah candu. Menyebabkan para pecandunya mengalami halusinasi tingkat lanjut yang kadang menyebabkan mereka berpikir mereka adalah Tuhan. Menyebabkan toleransi melenyap, penolakan keberagaman. Xenophobia. Cemas akan sesuatu yang mengancam kelangsungan iman mereka. Patut dipertanyakan, bagaimana mereka sampai menyebutnya iman.

Para pecandu agama, para inkuisitor itu, mereka tidak hanya orang-orang yang bergelut dengan pedang dan parang. Sesungguhnya mereka juga hadir dalam baju yang berbeda. Dalam balutan jas. Pendekatan yang berbeda. Mereka hadir tidak dengan parang atau kelewang, tapi dengan uang dan mie instan sekeranjang. Mereka melecehkan Sang Khalik dengan membuat orang mengingkari iman demi perut, memaksakan kepercayaan dengan makanan. Memalukan.

Apa yang kau banggakan bila kau mengkonversikan orang lain ke agamamu dengan pemaksaan, apa pun bentuknya. Tidak percayakah engkau bahwa Yang Maha Kuasa dapat menjamah hati mereka tanpa memerlukan bantuan pedang dan uangmu?

***

Para inkuisitor, self-proclaimed God’s personal bodyguard, pendekatan mereka dapat berbeda, tujuan mereka satu: Memaksa.

Iman bukanlah paksaan.

Maka……

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan pedang, parang, dan batu.

Terkutuklah mereka yang memaksa dengan indomie, beras, dan uang saku.

Terkutuklah mereka yang menjadikan agama sebuah komoditas.

Terkutuklah mereka yang bertingkah seolah-olah Dia yang omnipotent telah menjadi impoten.

Empat Episentrum Korupsi Indonesia

Posted July 1, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags:

Masih beranikah DPR mempermasalahkan lagu Slank yang mereka tuduh menghina kedudukan mereka sebagai dewan yang (katanya) terhormat?

Satu lagi anggota DPR tertangkap, Bulyan Royyan dari F-BR, diciduk KPK karena terbukti menerima suap dalam kasus pengadaan kapal.

Saya tidak akan membahas penangkapan itu. Sudah terlalu banyak anggota DPR yang tertangkap. Bosan saya menulisnya.

Yang menarik adalah komentar Denny Indrayana, pengamat anti korupsi dari UGM. Dalam program berita di TV One, ia mengatakan:

Ada 4 pusat korupsi di Indonesia: Istana (ring satu lingkar kekuasaan), Cendana (ring satu lingkar kekuasaan masa lalu), Senjata (korupsi yang menyangkut militer), dan Pengusaha Naga (para konglomerat hitam). Barang siapa yang berani menyentuh mereka, maka akan diarsenik…..akan di-munir-kan……

Ecrasez l’infame!!!!

Mengingat-ingat Rizal Ramli

Posted July 1, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , ,

Beberapa hari ke belakang ini, nama Rizal Ramli kembali mengapung ke permukaan. Tiba-tiba saja ia muncul sebagai ketua Komite Bangkit Indonesia dan mengkritik segala macam kebijakan pemerintah. Namanya dituding berada di balik berbagai aksi demonstrasi di ibukota.

Dituduh demikian, bukannya gentar, ia malah berada di barisan depan bergabung dengan mahasiswa dan elemen masyarakat menyatakan ketidaksukaannya pada pemerintah dan segala macam kebijakan mereka yang dinilai menyusahkan rakyat.

Dalam beberapa konferensi pers, ia terang-terangan menyatakan ketidakmampuan duet SBY-JK dalam menghadapi persoalan bangsa, terutama mengenai kenaikan harga BBM. Rizal Ramli, orang yang pada awal tahun 2000-an menghiasi berbagai media massa dan meredup seiring bergantinya kekuasaan dari Gus Dur ke Megawati, tiba-tiba memancarkan sinarnya lagi. Bersama sekjennya, Ferry Yuliantono, yang telah ditangkap beberapa hari lalu, ia dan Komite Bangkit Indonesia yang dipimpinnya menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Secara personal, tentu saja saya mendukung segala macam bentuk resistensi terhadap kebijakan pemerintah, terlebih mengenai kenaikan harga BBM yang jelas-jelas ngaco. Tapi, saya tidak lupa siapa Rizal Ramli dan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Masih segar dalam ingatan saya apa saja yang ia perbuat pada waktu menjabat sebagai Menko Ekuin, di mana dirinya pun terlibat sejumlah skandal.

Yang menjadi keheranan saya, tampaknya tidak banyak yang mengingat track record bung Rizal ini di masa lalu. Tiba-tiba saja ia muncul dan masyarakat luas hanya memandang ia sebagai Rizal Ramli, ketua Komite Bangkit Indonesia, yang berdemo menentang pemerintah membawa amanat rakyat, dan melupakan Rizal Ramli, Menko Ekuin era Gus Dur, yang tak lepas dari cela.

Sekali lagi dapat dilihat bahwa orang Indonesia begitu permisif dan pelupa. Mengingat begitu banyak orang yang memandang Orde Baru sebagai pahlawan padahal pada masa 32 tahun mereka menggerogoti fondasi negeri ini, tidak heran orang lupa pada Rizal Ramli yang cuma 7-8 tahun lalu.

Kenapa Ogah Dengar Hiphop?

Posted June 24, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: ,

 

Kenapa ogah dengar hiphop? The X Factor

 

Itu yang selalu menggelayut di pikiran saya saat melihat “kejijikan” orang akan musik hiphop. (“kejijikan” nampaknya berlebihan, tapi sungguh ekspresi jijiklah yang saya dapati biasanya). Apa yang salah dengan hiphop sehingga mereka enggan membuka daun telinga mereka lebar-lebar?

 

Biasanya kita akan menyalahkan MTV dan pihak-pihak lain yang memberikan exposure terlalu besar terhadap hiphop mainstream macam 50 cent and his G-Unit (no offense to 50’s fans) sehingga publik keburu memandang hiphop dari satu sisi saja.

 

Iseng-iseng, weekend kemarin saya mencoba mengenalkan hiphop “yang lain” kepada teman-teman saya dari latar belakang musik yang berbeda-beda. Ada teman-teman bermusik jazz dan soul, beberapa musisi british sound, sekumpulan DJ electro, dan seorang penggebuk drum rock yang dipengaruhi Dennis Chamber sampai Gilang Ramadhan. Cukup representatif mengingat musik-musik demikian yang banyak didengarkan sekarang ini. Perwakilan pop melayu sengaja tidak saya masukkan karena saya rasa akan menjadi sesuatu yang futile. Hehe.

 

Awalnya, sama seperti setiap kali saya memutar lagu hiphop di dekat mereka, dahi mereka mengernyit. Tapi sebagai hidangan pembuka, karena mereka semua so-called “anak band”, saya putar hiphop yang dimainkan dalam format band, none other than the Legendary Roots. Sesuai dugaan, The Roots dengan chord-chord tak lazimnya cukup berterima di telinga mereka, apalagi mereka yang bergelut di jazz dan soul. Tapi ada satu faktor yang agak kurang berkenan bagi mereka semua. The X Factor

 

Selanjutnya saya berikan MF Doom. Lagi-lagi mereka menikmati, terlebih di bagian instrumental. Tapi kembali mereka mengeluh tentang satu hal. The X Factor.

 

Saya lalu beralih ke sesuatu yang kontras, Immortal Technique disusul Jedi Mind Tricks. Mendadak mereka semua mengeluarkan mimik “ganti ga, klo ga gue pukul”. Cuma si drummer rock yang masih terlihat toleran dengan musiknya senor Felipe Coronel dan Vinnie Paz. “Pasti karena The X Factor”, batin saya.

 

Menilik audiens yang terlihat akan memulai riot, saya mencoba menenangkan dengan menyetel lagu-lagu yang beberapa hari terakhir menjadi lagu pengantar tidur setiap malam, lagu-lagu dari musisi hiphop Jepang, Nujabes. Mereka kembali enjoy, terlebih beberapa lagu Nujabes adalah instrumental. (Out of topic dikit, lagu Nujabes yang judulnya “A Day by Atmosphere Supreme” benar-benar pas buat relaksasi sebelum tidur. Coba saja kalau tidak percaya).

 

Lagi-lagi saya mencoba sesuatu yang ekstrem dari sebelumnya. Saya memberikan Dead Prez disusul Aesop Rock dan Atmosphere. Kembali saya melihat ekspresi ingin membunuh pada saat Dead Prez, membaik pada saat Aesop Rock dan Atmosphere, tapi mereka kembali menukas bahwa The X Factor membuat lagu terdengar tak enak.

 

Setelah itu, saya drag beberapa lagu Dizzie Rascal ke playlist. Mereka agak terkagum-kagum karena nampaknya belum pernah mendengar grimme sebelumnya, apalagi para DJ Electro kerabat saya itu. “Kurang referensi nih mr. DJ”, pikir saya. Saya sendiri kurang suka Dizzie Rascal, jadi tidak masalah saat mereka bilang The X Factor cukup mempengaruhi mereka.

 

Sebagai penutup, saya sajikan berbagai lagu dari DJ Premier dan beberapa dari Dilated Peoples. Kembali sambutan sangat hangat pada nomor-nomor instrumentalnya Preemo dan DJ Babu. Tapi kembali menurun pada lagu-lagu Preemo yang diisi oleh Guru. Begitu juga pada Dilated Peoples. The X Factor.

 

Apa sih The X Factor yang dari tadi saya sebutkan?

 

Mereka semua mungkin mempunyai selera yang berbeda-beda, tapi seiya sekata pada satu hal yang tidak mereka sukai: rap. Mereka menyukai beat-beat hiphop instrumental macam MF Doom, tetapi berbalik membenci pada saat terdapat rap di dalam lagu-lagu tersebut. Tidak heran mereka hendak mengamuk pada saat saya memutar Immortal Technique yang kekuatannya terletak pada lirik rap.

 

Menyukai lagu hiphop, tapi tidak menyukai rap di dalamnya. Aneh memang kedengarannya.

 

Kenapa saya melakukan riset iseng-iseng ini? Ini semua berawal dari celotehan seorang teman saat mendengar “8 minutes to sunrise”nya Common feat. Jill Scott. Ia berujar, “suara-suara kaya gini nih yang paling bikin gue males denger lagu hiphop”, saat bagian Common shouting di intro lagu.

 

Saya tidak tahu apakah orang-orang di luar sana yang tidak suka lagu hiphop sebatas karena unsur Rap yang mengganggu di telinga mereka. Tapi setidaknya saya sudah mendengar alasan segelintir orang emoh mendengar lagu hiphop: RAP.

 

Musik hiphop tanpa rap berarti Musik hiphop tanpa lirik.

 

Hiphop tanpa lirik? Wah……..

 

-Pangeran the words trafficker, one third of Manifestone

 

 

Yang Tak Sempat Dimuntahkan

Posted June 15, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , ,

Malam itu, saya berkutat dengan rajutan kata-kata yang diharapkan menjadi spoken words ala Last Poets keesokan harinya. Tapi saya sadar, tak mungkin saya menipu diri saya untuk setuju pada apa yang saya ragu, untuk menyerah kepada mereka yang saya bantah.

============================

what’s the essence of a country?

we talk about hard stuff like democracy

yet, we still found ourselves trapped in the bureaucracy

everybody just gon’ crazy

 

bureaucracy means you ignore the democracy

you disgrace constitution as a legacy

we try to persuade people by law-making policy

at the end, it’s not civil, it’s military supremacy

 

a nation exists by the people they consist

but the nation dont care they’re selfish

they worship the rules like a fetish

the integrity for the people has been vanished

 

just take a look around the street

there are poor that waitin to be feed

the 34th chapter in our constitution aint no fit

coz the poor are still searchin fo rice, veggie, and meat

 

or see the kids they all frustrated

we often said they are uneducated

complicated it’s all related

they feel better watch triple X rated

 

instead of rhetoric speech, better goin act

by the end of time i wanna see yall react

you talkin patriotism this how we detect

help the others none other you dont reject

 

We are independent since 1945

so what’s you doin hidin in bee hives?

show to the world we can stab a knive

We are Indonesians for life

Menjadi Pohon Oak

Posted June 10, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Reflection of Distortion

Berdiri tegar. Dagu terangkat. Tangan terkepal.

Bisa saja akar-akarku tercerabut dari tanah oleh tangan-tangan tak terlihat yang bergerilya menjamahi ranah antah berantah intelektual. Banci birokrasi, selalu bersembunyi di balik seragam dan deretan peraturan yang tak lebih wangi dari Bantar Gebang di akhir pekan.

Bergoyang ke sana kemari karena buaian angin hanyalah identitas pohon bambu yang melekat sejak menjadi penurut disamakan dengan menjadi pandir. Membutakan netra secara sadar karena mencelikkan mata adalah dosa.

Waktu terus berlalu. Pilu, tapi tetap membatu.

Tangan masih terkepal…..dan pohon Oak itu masih berdiri.

 

UU ITE? So What??

Posted June 9, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , ,

 

“Hati-hati UU ITE.”

“Awas nanti kena UU ITE loh!”

“Nulis hati-hati ya, ada UU ITE.”

“Ga takut UU ITE, mas?”

…..dan gue berpikir, “WTF?”

Orde baru era digital? Departemen Penerangan.com? Harmoko virtual?

Kenapa ga sekalian aja kalau mau bikin blog harus pake SIUPP dulu?

Menggelikan…..

Anonymous? Ah, saya bukan Sri Bintang Pamungkas. Dengan bersembunyi di balikk ID rahasia, itu sama saja mengingkari keterbukaan yang saya percayai. No disrespect to they who choose to stay anonymous.

Mana Apinya??

Posted June 8, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , ,

 

“Cawang dibakar?”

“Cawang dilempar Molotov?”

‘Cawang dibom?”

 

Itulah isi berbagai SMS dan telepon yang saya terima Sabtu kemarin setelah terjadi kebakaran di gedung GMAHK Cawang. Jempol saya sampai capai mengetik untuk mengklarifikasi berita yang simpang siur tersebut.

 

Adapun penyebab kebakaran diduga akibat hubungan arus pendek yang terjadi akibat instalasi listrik yang kurang beres. Dugaan sabotase atau pembakaran sama sekali tidak benar, apalagi tempat menyalanya api adalah di loteng bagian belakang dan tidak terlihat dari luar gedung.

 

Lima mobil pemadam kebakaran didatangkan dan api berhasil dipadamkan dalam waktu yang relatif singkat. Seorang anggota pemadam kebakaran yang muda usia sempat berujar, “Mana apinya?” karena memang api tidak tampak dari luar.

 

Sampai Minggu pagi tadi saya masih saja mendapat pertanyaan seputar peristiwa ini dan dugaan yang aneh-aneh (dibakar, dibom, dilempari Molotov) masih saya dengar. Kabar tentang kebakaran ini menyebar dengan cepat, bahkan sampai ke Filipina (dan mungkin Amerika). Cerita yang berkembang pun bermacam-macam sehingga membuat saya gemas.

 

Sekali lagi saya digelitik untuk mengangkat sistem dan proses komunikasi komunitas Advent dalam skripsi saya.

Munarman

Posted June 6, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Uncategorized

Tags: , , , , , ,

Manusia paling dicari di Indonesia pada saat ini adalah Munarman, panglima KLI (Komando Laskar Islam), sayap dari FPI. Aksi kekerasan yang dilakukan di Monas adalah atas komando dirinya dan ia sendiri mengaku siap bertanggung jawab asalkan Ahmadiyah dibubarkan.

Banyak yang terkejut saat mengetahui latar belakang Munarman sebagai seorang bekas ketua YLBHI. Lebih lagi ia sempat menjadi koordinator KontraS. Lalu banyak orang bertanya kenapa Munarman tiba-tiba bisa berafiliasi pada FPI?

Sesungguhnya Munarman sudah lama beraktivitas dalam pergerakan berbasis agama. Ia sudah pernah berdemonstrasi di depan Kedubes AS dan berbagai aksi lainnya. Sesuatu yang sah-sah saja. Yang sangat disayangkan adalah ia memimpin aksi kekerasan di Monas pada Minggu kemarin. Terlebih ia pernah menjabat sebagai koordinator lembaga anti kekerasan.

Sampai tulisan ini dipost, Munarman belum tertangkap oleh Polisi. Saya berpendapat lebih baik ia menyerahkan diri kepada polisi. Ini akan semakin mempermudah penyelesaian masalah ini. Terlebih Rizieq Shihab juga membiarkan dirinya dibawa polisi tanpa perlawanan apa-apa.

Sebelum saya menulis artikel ini, saya menyaksikan liputan ekslusif di Trans7 dimana seorang buronan polisi di Gorontalo menantang polisi untuk menembak dirinya. Dengan parang terhunus, ia berteriak-teriak sambil menyuruh polisi melontarkan peluru. 107 peluru yang ditembakkan polisi tidak mampu merubuhkan dirinya, padahal ia hanya bercelana dan bertelanjang dada.

Ternyata orang tersebut memiliki ilmu kebal dengan jimat berupa cincin yang melingkar di tangannya. Polisi baru berhasil meringkus orang tersebut setelah menembak tangannya dan menghancurkan cincin tersebut.

Entah kenapa, saat melihat liputan tersebut, saya teringat Munarman.

Banyak sekali orang yang menantang polisi……..

 

Bubarkan FPI!!!!

Posted June 3, 2008 by Pangeran Siahaan
Categories: Ecrasez l'infame

Tags: , , , ,

Sebodo amat blog saya dimaki-maki dan dihina serta diprotes.
Sebodo amat saya ditatap dengan keki.
Sebodo amat dengan semua itu.
Apa yang mereka lakukan benar-benar kelewat batas!
Bubarkan FPI!!!!

Garuda Pancasila, di manakah engkau? Utopia?

Ecrasez l’infame!!!